YENI FATMAWATI PENGGIAT LINGKUNGAN, SENI, DAN PELESTARI GASTRONOMI PROVINSI ACEH
September 5, 2017
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

YENI FATMAWATI PENGGIAT LINGKUNGAN, SENI, DAN PELESTARI GASTRONOMI PROVINSI ACEH

“Saya ingin berkontribusi meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan nusantara, dan mancanegara untuk mencari pengalaman perjalanan ke daerah gastronomi di nusantara” (Yenni Fatmawati)

“Provinsi Aceh memiliki kekayaan gastronomi yang lezat sarat dengan nilai sejarah, tradisi dan filosofi. Oleh karena itu menjadi sebuah kebutuhan untuk membuat buku yang atraktif yang memuat kekayaan gastronomi di Provinsi ini. Melalui penyusunan buku ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi bagi wisatawan nusantara dan juga mancanegara untuk menikmati daya tarik wisata gastronomi di tanah Rencong,” Ujar Reza Pahlevi Kepala Dinas Kebudayaan, dan Pariwisata Provinsi Aceh.

Kegiatan penyusunan buku gastronomi propinsi Aceh yang dilaksanakan pada 18 – 22 Agustus 2017, bertepatan dengan pelaksanaan Aceh International Halal Food Festival. Kegiatan ini menampilkan lebih dari 100 menu tradisional halal khas Propinsi Aceh, dan menjadi momentum penting dalam penyusunan database pembuatan buku yang ditargetkan tuntas pada bulan Oktober 2017.

Gayung pun bersambut, keinginan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Aceh ini mendapat dukungan penuh dari Yeni Fatmawati seorang Lawyer Expert yang aktif dalam Indonesian Consultant at Law, dan budayawan dari Kota Jakarta. Dengan sepenuh hati ia pun mensponsori para food journalist yaitu Dewi Turgarini (food writer), Heni Pridia (food stylish), dan juga Syahroni (food fotografer) untuk terlibat dalam program kegiatan tersebut di atas.

 

Yeni fatmawati, wanita kelahiran Bandung 5 Januari 1971 ini ternyata memiliki keterikatan emosional yang mendalam dengan Kota Banda Aceh. Masa kecil hingga remajanya dihabiskan di kota yang sarat dengan sejarah perjuangannya. Dibalik kepeduliannya terhadap gastronomy cultural heritage tourism, wanita cantik ini memiliki segudang prestasi.

Prestasi secara profesional dibidang hukum yang ditekuninya sejak tahun 1996, dan kepeduliannya terhadap kesinambungan alam adalah ; 1) “Indonesian Inspiring Woman” dalam kategori Women Obsession pada tahun 2016. 2) Duta penghijauan Rakgantang (Gerakan gandrung tatangkalan) di Jawa Barat pada tahun 2016. 3) Peraih “She’s Men’s Obsession Award” untuk kategori “Corporate Executive” pada tahun 2004-2014. 4) Peringkat ke 5 sebagai “Women who is the most actively involved in Corporate Social Responsibility Activity” dianugrahkan Warta Ekonomi pada bulan Mei tahun 2011. 5) One of 100 Most Influenced Woman, berdasarkan Men’s Obsession Magazine pada bulan Juni 2010.

Pengakuan secara nasional pun diperolehnya dengan karya di bidang seni musik, seni lukis, seni pahat, dan sastra, yaitu ; 1) Pameran Lukisan di Hotel Prama Panghegar Bandung dengan tema Natura Kultura (Agustus 2017). 2) Membuat ilustrasi sampul Buku Antologi Puisi “Perempuan! Perempuan!. Ia pun menulis puisi dalam buku tersebut bersama 27 Penyair Perempuan. 3) Melaunching ICLaw Golden Pen Award, Lomba Menulis Kisah Berhikmah, Pengalaman Bekerja Buruh Migran Indonesia dari Berbagai Penjuru Negeri, KJRI Hongkong (April). 4) Narasumber “Hari Perempuan Internasional; Bicara Buku Bersama wakil Rakyat (Maret). 5) Tutor Gerakan Pena Hijau “Pelatihan menulis Eko Sastra dan Pentas Puisi” di Bantul dan DIY (Januari 2017). 6) Baca Puisi “Melindungi Pekerja Seni dan Memajukan Ekonomi Kreatif”, oleh BPJS Ketenagakerjaan di Rollingstone Café Jakarta. 7) Eksebisi Lukisan di Bandung Art dan performance Festival dengan tema “Artefak Laut Kidul” (Desember 2017). 8) Lelang lukisan Danau Kelimutu di Flores untuk menggalang dana renovasi Museum Kain Ende (Desember 2017). 9) Launching Buku Puisi “Resonasi Tiga Hati”(2016). 10) Pameran lukisan “Nautika Rasa” di Galery Nasional (September 2016). 11) Sculpture Workshop, Dolorosa di Edwin Gallery Kemang Jakarta (Agustus 2017). 12) Narasumber “Pelatihan Penulisan Kreatif mencipta & Membaca Puisi, di Universitas Nasional (Februari 2016). 13) Pameran Tunggal Lukisan di Dia.Loe.Gue Art Space Kemang Jakarta (Januari 2016). 14) Eksekutif Produser Album Kompilasi Progressive Rock “Indonesia Mahardika”, dan mendapat penghargaan Anugrah Musik Indonesia tahun 2105 untuk kategori Progressive Rock sebagai Lagu dan Produser Terbaik.

Beragam prestasi tidak menghentikan hasratnya untuk melestarikan budaya bangsa Indonesia, yang bila dikelola dengan baik disadari penuh oleh wanita ini dapat meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat di daerah. Ia pun menyadari hal yang paling efektif adalah melalui pengembangan wisata budaya gastronomi, karena semua orang pasti membutuhkannya saat berekreasi.

Hal ini dilatarbelakangi data potensi wisata gastronomi yang dilakukan oleh Dewi Turgarini pada tahun 2016 bahwa Kota Banda Aceh memiliki menu khas berjumlah 50. Terdiri dari 15 Menu Utama yaitu Ayam Tangkap, Bu Sie Itek, Dalica, Dendeng Aceh, Gulai Kambing, Kari Kambing, Keumamah, Kuwah Beulangong, Kuwah Engkot Yee, Kuwah Itek, Kuwah Pliek U, Masam Keueung, Sambal Asam Eudeung, Sie Reuboh Puteh, Sop Sumsum. 4 Menu Sepinggan, yaitu Bu Ie Peudah, Kanji Rumbi, Mie Aceh, Nasi Guri. Kemudian tiga (3) Menu Sayuran atau menu pendamping adalah Gule Engkot Paya, Gule Rampoe, Gule Plik U. Sebagai penguat rasa terdapat dua (2) menu sambal yaitu sambal Peugaga dan Sambal Uedeung. Selain itu terdapat 18 Menu Kudapan yaitu Apam Ijo, Apam Pidie, Bhoi, Boh Rom rom, Boh Puniaram, Boh Usen, Bulukuat, Kuwah Tuhe,Chingkui, Doi Doi, Du’gok, Meusakat,Martabak Aceh,   Peunajoh Tho, Putroe Manoe, Pulot, Timphan, Wajeb. Sebagai Menu Hidangan Penutup adalah Rujak Lincah Mameh dan Samalangaeh. Lalu dua (2) Menu Makanan Kering atau snack yaitu Keukarah, Kuweh Seupet. Sedangkan minuman khas Aceh adalah 6 Menu Minuman yang tidak dapat diperoleh di wilayah lain di nusantara yaitu Kopi Gayo, Kopi Ulee Kareeng, Kopi Sanger, es Timun Serut, Es Semangka, dan es Pepaya Cingcau.

“Saya ingin berkontribusi meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan nusantara, dan mancanegara untuk mencari pengalaman perjalanan ke daerah gastronomi di nusantara. Melalui pembuatan buku wisata gastronomi Propinsi Aceh, diharapkan para wisatawan dapat mendapat informasi dimana mereka rekreasi atau bertujuan mencari hiburan. Banyak yang bisa dilakukan oleh para wisatawan seperti berkunjung ke produsen makanan primer dan sekunder, festival, pameran makanan dan minuman, event, petani,   pasar, acara memasak, dan demonstrasi, mencicipi produk makanan dan minuman berkualitas atau kegiatan pariwisata yang berhubungan dengan makanan dan minuman”. Ujar Yeni secara serius kepada Kontributor www.warnanusantara.com.

“Memang saat ini saya banyak menghabiskan waktu bekerja di ICLaw, sambil terus menuangkan kreatifitas dalam membuat karya lukis, pahat, dan juga mencurahkan isi hati saya dalam coretan puisi. Namun disela-sela aktivitas itu kelezatan makanan dan minuman di Kota Banda Aceh selalu ngangenin. Jangan lupa mampir lah di Kota banda Aceh, terdapat Menu Nasi Gurih Rumah Makan Rashid yang begitu lezat dengan aneka pilihan condiment terutama dendeng sapi khas Aceh. Belum lagi Mie Aceh Kepiting Mie Razali, Rujak Aceh di jalan Garuda dan Bistik Aceh di jalan Gunung Batu. Jangan tanggung menyeberanglah ke Pantai Iboih di Kota Sabang untuk snorkeling dan diving, setelah aktivitas wisata alam itu, perut pun bisa dimanjakan dengan kenikmatan Sate Gurita, Sup Gurita dan juga Pisang Goreng Adabi yang lezat.” Pungkas Yeni dengan tersenyum lebar dipenghujung wawancara.

 

(Penulis: Dewi Turgarini, Senior Jurnalis Redaksi www.warnanusantara.com)

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *