April 24, 2015
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Yang Terlupakan di KAA

“Nun di suatu masa nanti, Terusan Suez bakal bermandikan darah, api berkobar dahsyat di benua Asia dan Afrika. Akhirnya kedua benua, akan berpaut menyatupadu di kota ini!” – Drs. R. M. P. Sosrokartono (Haryoto Kunto, Wajah Bandoeng Tempoe Doeloe, Hal 168)

Demikian ramalan Drs. R. M. P. Sosrokartono, kakak kandung R.A. Kartini yang mengakhiri petualangannya di Eropa dan tinggal menetap di Kota Bandung. Ramalan sang psikis ini terbukti benar beberapa tahun kemudian, tepatnya di tahun 1955. Konferensi Asia Afrika atau di singkat KAA tahun ini menginjak usia 60 tahun. Deklarasi penyatuan bangsa-bangsa Asia dan Afrika atau negara-negara dunia ketiga ini digagas oleh Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno. Total terdapat 109 negara Asia-Afrika diwakili oleh para pemimpinnya langsung yang hadir. Tentu gelaran ini bukan hanya gelaran biasa, gelaran yang akbar pada masanya. Konferensi yang diadakan di Gedung Societeit Concordia atau sekarang bernama Gedung Merdeka ini bisa diadakan berkat jasa-jasa pembesar kita sebut saja Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Ali Sastroamidjojo dll. Walaupun demikian warga Kota Bandung pada saat itu yang bertindak sebagai tuan rumah andilnya tidak bisa kita kesampingkan begitu saja. Bagaimana mereka membantu pemerintah kota menata si Parij Van Java agar terlihat cantik, menggelar parade serta hiburan-hiburan, hingga penyajian makanan bagi para delegasi. Pada saat itu umur bangsa ini baru menginjak usia 10 tahun, dapat dimaklumi jika Pemerintah belum memiliki dana yang memadai untuk gelaran se-akbar ini hingga dengan sukarela bahu-membahu rakyat membantu pemerintah menyukseskan acara ini. Demikian halnya untuk makanan para delegasi, konon restoran-restoran Tionghoa, India, Arab hingga Nusantara memberikan andilnya menyumbang makanan secara cuma-cuma. Makanan ini adalah hal yang krusial namun kadang terlupakan.

Salah satu yang memberikan sumbangsihnya bagi acara KAA 1955 adalah Rumah Makan Madrawi. Sayang sekali rumah makan ini tidak bisa kita jumpai lagi sekarang. Maklum saja setelah penggusuran di tahun 1987, H.M. Fadlie Badjuri sebagai pemilik sekaligus pengelolanya tidak lagi meneruskan usahanya. Lokasi Rumah Makan Badjuri saat ini telah berganti menjadi Kantor Satpol PP di depan Masjid Agung Alun-Alun Bandung. Memang sangat disayangkan, mengingat rumah makan yang berdiri sejak tahun 1800-an ini dulunya adalah tempat makan sekaligus berkumpul dan rapatnya Pejuang-Pejuang Pergerakan Nusantara seperti; H.O.S. Cokroaminoto, Soekarno, Moh. Hatta, Ali Sastroamidjojo dan lainnya.

Menurut cerita dari Bapak Fadlie Badjuri, sejarahnya Rumah Makan ini berdiri adalah ketika 2 orang kakak beradik asal Madura, Madrawi dan Badjuri yang merupakan uwak dan ayahnya pergi berkelana ke Kota Bandung untuk mencari paman mereka. Sang paman adalah seorang korban kerja paksa pembangunan jalan Anyer –  Panarukan Pemerintah Kolonial atau biasa disebut rodi yang melarikan diri. Suatu ketika pernah terlihat oleh kerabatnya di kampung berada di Kota Bandung. Setelah terlunta-lunta akhirnya sebuah keluarga menampung Madrawi dan Badjuri untuk kos ditempatnya. Beberapa hari kemudian secara tidak sengaja mereka bertemu dengan sang paman. Kejadiannya ketika mereka sedang memotong rambut dan sang pemotong rambut adalah sang paman yang mereka cari. Seiring waktu kedua kakak beradik ini akhirnya membuka usaha. Awalnya sama seperti kebanyakan Suku Madura lainnya, mereka membuka usaha Potong Rambut hingga akhirnya membuka usaha kuliner. Membuka usaha di depan Pasar Kosambi dimana pasar ini merupakan satu-satunya pasar dan tempat berkumpulnya Rakyat Kota Bandung kelas menengah ke bawah. Kelezatan masakan madura di depan Pasar Kosambi ini gaungnya sampai juga hingga ke Bupati Bandung saat itu R. A. Wiranatakusumah. Berkatnya pula usaha mereka berkembang dan diberi lahan di depan Alun-Alun Bandung dan pada akhirnya tempat usaha kuliner mereka itu diberi nama Rumah Makan Madrawi, sesuai nama sang kakak. Dikarenakan sang kakak tidak memiliki keturunan selanjutnya pengelolaan Rumah Makan Madrawi jatuh kepada keponakannya, H. M. Fadlie Badjuri.

Bapak Fadlie Badjuri yang kini berusia 108 tahun masih ingat ketika ia bersama sang ayah menjemput seorang pemuda bernama Koesno yang datang dari Surabaya di Stasiun Bandung. Bapak Fadlie yang saat itu berusia belasan sangat terkesan dengan pertemuan itu, tak pernah terbayangkan sebelumnya Pemuda Koesno yang datang ke Bandung untuk bersekolah di Techische Hoogeschool te Bandoeng atau sekarang dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung ini kelak menjadi Bapak Bangsa, Ir. Soekarno. Dari sini pula Rumah Makan Madrawi seolah mengikuti perjuangan Ir. Soekarno selama di Bandung.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tubuhnya masih sangat bugar untuk ukuran pria berusia 108 tahun, Bapak Fadlie Badjuri mengeluarkan perangkat makan dari lemarinya, menyusunnya dengan rapi diatas meja. Susunan piring dan gelas serta mangkok yang rapi tersebut adalah posisi alat-alat makan favorit Ir. Soekarno. Beliaupun mengeluarkan uang logam jaman dulu yang dia dapat dari pelanggannya, salah satunya dia tunjukan uang senilai 25 sen, uang ini adalah uang pembayaran makan Ir. Soekarno. Memang setiap hari makanan favorit Bung Karno berupa sate 10 tusuk, soto, nasi putih serta es teh manis dihargai 25 sen. Tempat makan ini selain dijadikan tempat pelepas lapar sering dipergunakan untuk rapat pergerakan. Walaupun berhadapan dengan Kantor Besar Polisi Bandung namun tempat ini dirasa aman karena mereka menganggap tokoh-tokoh ini hanya sekedar makan saja. Semasa Bung Karno ditahan di Penjara Banceuy, setiap hari makanan dari Rumah Makan Madrawi di suplay ke penjara, bukan karena beliau manja tidak mau makanan penjara namun sang pemilik rumah makan khawatir Bung Karno diberi makanan beracun oleh Belanda. Bahkan rumah makan ini tidak hanya melayani tokoh-tokoh perjuangan saja, aktor Amerika legendaris, Charlie Chaplin-pun pernah bersantap di sana, salah satu hidangan favoritnya adalah sate, dia bahkan mengambil sepuluh tusuk sate untuk dimakan dalam perjalanan pulang. “Pada masa itu tempat berkumpulnya orang-orang Eropa di Kota Bandung hanya ada tiga, untuk berdansa-dansi di Societeit Concordia (Gedung Merdeka sekarang), untuk mabuk-mabukan di Indische Restaurant (Gedung BRI 46 sekarang), dan melepas lapar di Rumah Makan Madrawi”, jelas Pak Fadlie Badjuri. Sayang bukti-bukti otentik akan hal ini seolah hanya ada di ingatan Bapak Fadlie Badjuri saja karena semuanya musnah dibakar oleh Jepang dan Tentara NICA serta dihancurkan oleh rakyat di tahun 1965 sehubungan dengan gerakan anti Soekarno pasca kejadian G30S/PKI.

Dalam Konferensi Asia Afrika tahun 1955, Rumah Makan Madrawi yang sudah dikelola langsung oleh Bapak Fadlie Badjuri, peranannya tidak bisa dikesampingkan. Ir. Soekarno lewat sahabatnya, Ali Sastroamidjojo, meminta langsung Bapak Fadlie Badjuri untuk memberikan sumbangsih bagi kelancaran acara konferensi. Rumah Makan Madrawi menyumbang ribuan tusuk sate yang kemudian dibawa ke Gedung Pakuan untuk diganti tusuk kayunya dengan menggunakan tusuk dari perak serta dialas piring perak. Bukan hanya berhenti disitu, selepas acara konferensi Ali Sastroamidjojo mengajak sepuluh delegasi untuk makan di sana. Perdana Mentri India, Jawaharal Nehru, Perdana Menteri Burma, U Nu, Delegasi dari Arab Saudi serta Presiden Gamal Abdul Nasser dari Mesir adalah beberapa delegasi yang ikut dalam rombongan tersebut. Ketika dihidangkan makanan di atas meja karena ketidaktahuan mereka, air kobokanpun diminum disangkanya air tersebut adalah air minum biasa. Menu yang disajikan saat itu adalah, sate, soto, rawon dan kari. Pada saat itu Bapak Fadlie Badjuri mendapat pin untuk bebas keluar masuk salama konferensi berlangsung.

Sayang sekali untuk acara Peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika kali ini tidak seperti biasanya, hingga beberapa hari acara akan berlangsung Bapak Fadlie Badjuri selaku pelaku sejarah belum mendapat undangan untuk hadir. Seolah sama seperti nasib rumah makan yang banyak menyimpan sejarah itu harus lenyap tergusur oleh pengembangan kota. Sangat disayangkan, perannya yang secuil namun sangat berarti tersebut harus dilupakan juga. Tanpa mengurangi rasa hormat kami kepada peran serta penyokong kuliner lain seperti Hotel Savoy Homann dan Preanger, restoran-restoran Tiongkok, Arab, India serta Toko-Toko Roti di Bandung yang menyuplai makanan untuk Konferensi Asia Afrika 1955.

 

Exclusive Interview Fadly Shaputra (Kontributor Warna Nusantara) dengan Bapak H.M. Fadlie Badjurie

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *