April 10, 2015
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Yang Ter-Eksis Di Kota Bandung

“Seblak adalah produk bumbu.” – Kang Abu, Pemilik dan Pengelola Seblak Pedo Eco

Bandung sebagai salah satu kota tujuan kuliner nusantara sepertinya tak pernah kehabisan mengeluarkan makanan yang khas. Dari makanan nusantara, barat, asia, fushion dari ketiganya, hingga makanan tradisional yang hampir punah semua menjadi favorit para pecinta kuliner. Salah-satu makanan yang hampir ada disepanjang kota boleh jadi adalah seblak. Bisa jadi makanan ini yang tereksis di kota bandung.

Salah satu Kedai Panganan di Bandung yang mengangkat makanan ini sebagai komoditinya adalah Seblak Pedo Eco. Kedai yang berlokasi di Jl. Badaksinga No. 2, Bandung ini mencoba menyajikan seblak yang otentik. Seperti yang diutarakan oleh Abubakar Alam Ali atau lebih dikenal dengan Kang Abu, pemilik dan pengelola Seblak Pedo Eco, banyak yang salah mengidentifikasikan seblak ini. Seblak merupakan makanan tradisional sunda. Banyak orang yang mempersepsikan seblak ini adalah kerupuk yang diolahnya, sebetulnya bukan itu yang dimaksud dengan seblak, seblak ini bumbu dasarnya adalah kencur dan bawang putih. Berkembang dengan penambahan konten kerupuk. Seiring berkembangnya makanan dan konsumsi publik maka berkembang pula konten yang ada dalam seblak seperti batagor, siomai, mie, tulang, ceker ayam dan lain sebagainya. Seblak Pedo Eco kembali mengembangkan potensi dari bumbu seblak yang otentik tadi, konten yang belum pernah ada, belum pernah dibuat dan belum pernah diracik di kedai seblak lain melebur menjadi satu racikan seblak yang bisa dinikmati. Dari ide pemikiran itu akhirnya Seblak Pedo Eco merambah ke dunia perdagingan sebagai konten seblak.

Seblak Tulang Iga Sapi dan Seblak Daging Kambing, adalah bentuk dari pengembangan seblak dengan basis daging, disamping konten-konten umum lainnya. Jadi seblak yang ada di Pedo Eco ini merupakan gabungan dari konten yang suda ada dikembangkan lagi dengan konten yang belum ada. Sejauh ini Seblak Pedo Eco sangat lengkap, dari mulai resep karuhun yang tradisional hingga ke konten-konten baru. Walaupun banyak menggunakan konten baru namun Kang Abu selaku pemilik dan pengelola menjamin keotentikan bumbu dan rasa seblaknya.

Merasa percaya diri dengan seblak ditengah persaingan kuliner Kota Bandung yang sangat ketat karena punya bumbu dan rasa yang original. Selain itu ikut mengangkat khasanah budaya sunda lewat makanannya. Keyakinan Kang Abu bahwa tidak semua menu tradisional ini jelek. Hingga saat ini Seblak Pedo Eco bisa diterima oleh semua kalangan bahkan hingga ke kalangan executif muda.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Arti dari nama Pedo Eco  itu sendiri dalam Bahasa Sunda artinya mantap dan nikmat. Sedangkan arti dari seblak itu sendiri adalah konon orang tua dulu belum memiliki nama atas bumbu ini namun ketika mereka mencoba katanya rasanya “nyeblak kana hate (menyentuh hati)” dan kemudian si bumbu ini pas dengan kerupuk. Munculnya nama Pedo Eco sendiri awalnya Kang Abu dan istri akui tidak memiliki nama yang khusus untuk produknya, mereka hanya bermodalkan integritas, keyakinan serta keinginan. Setelah itu meminta saran dari orang tua dan kakak hingga akhirnya mendapatkan nama Pedo Eco. 

Kang Abu dengan Seblak Pedo Eco-nya berani menjamin 100% bahan dasar yang digunakan adalah seblak yang otentik. Bagi peminat seblak yang asli seblak akan terasa originalitasnya karena tidak ada sentuhan bumbu modern, sentuhan modern hanya dipergunakan dengan porsi kecil untuk seblak-seblak varian lainnya namun kesemuanya dijamin memakai rempah asli nusantara.

Suatu ketika pernah seorang Ibu datang untuk mencicipi Seblak Pedo Eco, dia mengakui bahwa seblak ini yang otentik, memakai kerupuk dengan bumbu yang pas. Selain seblak dengan kerupuk silahkan coba “galecok”, perpaduan beberapa konten seblak dengan daging ayam. Selain itu salah satu yang diminati adalah seblak tulang iga. Penasaran dengan seblak yang beda dari yang lain? Silahkan coba saja di Seblak Pedo Eco.

Menjamurnya seblak di Kota Bandung nampaknya menjadi makanan yang tereksis. Walaupun demikian tidak semua mengetahui bahwa seblak itu “produk bumbu” namun dengan munculnya Seblak Pedo Eco setidaknya mengedukasi pecinta kuliner tentang originalitas seblak yang ternyata jauh lebih enak dari yang tereksis.

 

Liputan Irvan Minz Priono & Awiel_Wilman (Kontributor Warna Nusantara)

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *