Maret 10, 2015
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Yang Beda di Ikan Bakar Bang Temmy

“Rasa adalah yang paling utama karena itulah yang kita jual,” – Bang Temmy, Pemilik dan Pengelola Ikan Nila Bakar Khas Padang

Hujan belum berhenti beranjak, terpaksa tubuh terjebak di sebuah kedai pinggir jalan. Entah kenapa walaupun pinggir jalan namun suasananya memberi kehangatan. Kepulan asap yang menggugah aroma membuat penasaranku, aku si pendatang baru ditengah kumpulan pelanggan yang tampak akrab bercengkrama dengan pemilik kedai. Terasa ada yang berbeda lagi, lantunan musik yang mengalun, tidak lambat tak pula cepat. Nada gitar blues dengan penyanyinya yang menyentuh hati serasa pas hari itu. Namun asap ini sangat membuat penasaran.

Beruntung hari itu kami berkesempatan berbincang-bincang dengan Bang Temmy sang pemilik kedai. Awalnya pasti kita tidak menyangka bahwa dialah si pemilik kedai karena sosoknya yang lebih cocok jadi musisi rock. Setidaknya memang itu yang dia cita-citakan dulu ketika memutuskan merantau ke Bandung. Entah berapa usaha yang sudah dia jalani sebelum akhirnya membuka Ikan Nila Bakar Khas Padang di Jalan Terusan Jalan Jakarta, Antapani, Bandung. Awalnya belajar membuat ikan bakar dari temanya yang mempunyai rumah makan di Padang. Bereksperimen terus hingga akhirnya berhasil membuat Ikan Nila bakar yang lezat kita nikmati sore itu.

“Rasa adalah yang paling utama karena itulah yang kita jual,” ujarnya. “Masa bodoh dengan bahan baku naik yang penting bahan baku itu harus tetap ada, kalaupun naiknya tidak wajar ya apa boleh buat kita harus menaikkan harga, yang penting jangan pernah merubah rasa,” tambahnya. Dalam hal rasa ini, Bang Temmy memang sangat serius, salah satunya adalah dengan mendatangkan langsung Batu Lado dari tempat asalnya, Sumatera Barat. Batu Lado ini adalah alat menggiling rempah tradisional dari daerah Sumatera Barat, atau di pulau Jawa lebih dikenal dengan istilah ulekan. Getah dari rempah akan keluar jika kita giling secara manual menggunakan Batu Lado dibandingkan dengan menggunakan blender. Lebih capek pastinya tapi rasanya jelas berbeda.

Ikan Nila yang dipergunakan adalah ikan pilihan pula. Mulai dari daerah Tasikmalaya, Sukabumi, Saguling dan Cirata hingga akhirnya pilihan jatuh ke Ikan Nila dari Subang. Faktor air sangat berpengaruh pada daging ikan dimana di Subang si ikan bergerak terus mengikuti arus air yang kuat. Hal ini yang menjadikan si daging ikan itu tidak mudah hancur ketika dibakar. Dalam masalah ikan ini, karena keingintahuan Bang Temmy akan ikan, dia turun langsung menangkap ikan. “Supaya kita tahu tidak bisa dibohongi orang,” jelasnya. Ikan Nila ini dibumbui dengan bumbu khasnya. Kita bisa meme

Untuk menu yang dihidangkan disini Bang Temmy mengakui bahwa resepnya otentik Padang. Namun suatu ketika pelanggannya yang berasal dari Padang mengomentari bahwa menu yang dia santap di kedai ini tidak ada di Padang. Hal ini yang membuatnya bangga, “Alhamdulillah beda sendiri,” gumamnya. Sore itu kami disuguhi sesuatu yang spesial, nama menunya “Pucuak Ubi Tigo Jam.” Resepnya berasal dari ibu di kampung, mungkin karena diolah selama hampir tiga jam makanya diberi nama seperti itu. Mengolah makanan ini tidak sembarangan dimana dibutuhkan pucuk daun singkong yang segar sebagai bahan utamanya. Jangan salah jika banyak daun singkong yang terbuang karena hanya pucuknya saja yang diambil, bahkan jangan kaget kalau di musim kemarau menu ini tidak ada karena bahannya yang tidak ada.

Resep yang diambil kebanyakan dari daerah kelahirannya Bukittinggi. Salah satu menu otentik lainnya adalah “sambal lado ampo-ampo.” Ampo-ampo artinya kurang lebih adalah ditumbuk. Salah satu rempah yang dipergunakan selain cabai tentunya adalah jengkol. Bayangkan bagaimana lezatnya. Pernah suatu ketika sambal ini tidak ada karena bahannya yang mahal, mereka tidak perduli dengan harganya yang penting sambal itu harus ada. Sama halnya dengan makanan khas padang lainnya, disini tidak menggunakan MSG.

Selain pemilik kedai, Bang Temmy mengaku sebagai seorang penikmat musik. Musik adalah jembatan antara dirinya dengan pelanggan. Biasanya dari sini perbincangan berawal dan pada akhirnya hubunganpun terjalin. Memang itu yang dia inginkan, orang bukan hanya sekedar datang, makan selanjutnya pulang tapi timbulnya hubungan batin yang lebih dari itu.

Hujan akhirnya reda juga. Perut sudah terisi penuh, obrolan akrab dengan Bang Temmy harus diakhiri juga. Lain waktu kita mapir lagi Bang, selanjutnya yang kita obrolkan adalah Progressif Rock.

 

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *