Maret 23, 2015
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Wisata Budaya Sunda di ECO Bambu Cipaku

“Bisa dikatakan seperti seorang pria yang jatuh cinta pada gadis pujaannya, dia akan mendandani, merawat dan menjaganya.”

– Andreas Wihardja, Sesepuh Sanggar Seni Budaya ECO Bambu Cipaku

 

 

Hari Minggu 22 Maret 2015, Kota Bandung mendapatkan satu hadiah yang istimewa. Hadiah istimewa itu adalah dengan diresmikannya Sanggar Seni dan Budaya Sunda ECO Bambu Cipaku (Estetika Cipaku Oase, Barisan Muda Bandung Utara). Sanggar Seni dan Budaya Sunda ini merupakan kawasan wisata edukasi, seni dan budaya sunda yang bisa diterima semua lapisan masyarakat dan juga merupakan salah satu bentuk dukungan pada program Pemerintah Kota Bandung dalam rangka mewujudkan Bandung sebagai tujuan Wisata Dunia. Mengingat seni dan budaya Sunda merupakan aset dan kekayaan suatu bangsa dan memperkenalkan budaya tersebut kepada generasi penerusnya, maka pendiri Sanggar Seni dan Budaya ECO Bambu Cipaku dibantu dengan pemiliknya PT. CIPAKU INDAH mulai mewujudkan impian tersebut di tahun 2012 dan pada akhirnya tanggal 22 maret 2015 secara resmi dibuka.

 

Di tahap awal pembangunan terdapat kawasan wisata edukasi seni dan budaya di areal seluas 3.200 mtr² serta prototype rumah bambu layak huni. Di areal ini nantinya akan kita temui kesenian-kesenian Sunda seperti gamelan, angklung dan sebagainya. Adapula alat-alat bermain anak-anak tempo dulu dan masih banyak lagi. Seperti diutarakan oleh salah seorang Mojang Jajaka Parahyangan selaku duta Sanggar Seni dan Budaya ECO Bambu Cipaku bahwa tempat ini adalah merupakan salah satu wahana baru di Kota Bandung untuk anak mudanya dapat mengenal dan melestarikan budaya sunda. Untuk pembangunan tahap berikutnya Sanggar Seni Budaya ECO Bambu Cipaku akan membangun hutan observasi dan budidaya bambu sekaligus museum bambu hidup. Ditargetkan pada 2020 di tempat yang sama dengan total areal 15 Ha akan sudah terbangun Institut Bambu.

 

Tentu saja untuk kelanjutannya diperlukan dukungan dan partisipasi semua belah pihak hingga tempat yang bagus dan sangat bermanfaat ini dapat berjalan dengan baik. Gayung bersambut, Ridwan Kamil, Walikota Bandung dalam Pidato Sambutan peresmian Sanggar Seni dan Budaya ECO Bambu menyatakan dukungan pemerintah dalam segala bentuk kegiatannya. Peresmian Sanngar Seni dan Budaya ECO Bambu Cipaku selain dihadiri oleh Walikota Bandung dihadiri pula oleh Dandim dan sesepuh-sesepuh Pencak Silat.

Di hari yang sama, setelah resmi dibuka Sanggar Seni Budaya ECO Bambu Cipaku, acara dirangkai dengan Pasanggiri Pencak Silat Se-Priangan. Seperti kita ketahui bahwa olahraga ini merupakan warisan budaya Nusantara. Salah satu tujuan diadakannya Pasanggiri ini adalah menjadikan propinsi Jawa Barat sebagai model dari perkembangan Pencak Silat. Seperti halnya yang disampaikan oleh Bapak Edi Nalapraya selaku sesepuh Pencak Silat Indonesia, acara ini adalah salah satu pembuktian Jawa Barat sebagai model perkembangan Pencak Silat dimana budaya ini sudah didaftarkan ke UNESCO untuk menjadi warisan budaya asli Nusantara. “Pencak Silat sudah menjadi Universal Wisdom, dengan kata lain diterima masyarakat dunia, terbukti pada Kejuaraan Dunia Pencak Silat edisi terakhir diikuti kontingen dari 40 negara,” lanjutnya. Sampai dengan saat ini terdapat 60 aliran pencak silat di Nusantara, kesemuanya akan diangkat menjadi Haritage Indonesia. Hal ini ditambahkan oleh Bapak Andriyas Wihardja selaku sesepuh dan pendiri Sanggar Seni Budaya ECO Bambu Cipaku, “acara pasanggiri ini dihasilkan dari pergguruan yang bisa ditemui, masih ratusan yang kedepannya menyatakan bergabung meramaikan Pasanggiri selanjutnya.” Memang acara Pasanggiri Pencak Silat ini kedepannya akan terus diadakan, kalau bisa 10 kali dalam setahun,” ujarnya, “karena atlit-atlit itu muncul berawal dari perguruan-perguruan dan pasanggiri-pasanggiri bukan dari wadah organisasi yang menaunginya.” Bapak Andreas Wihardja mengakui bahwa dia lahir dari Pencak Silat, atau lengkapnya dari Perguruan Pencak Silat Riksa Diri, dikarenakan regenerasi yang baik di Pencak Silat akhirnya beliau mendatangkan olahraga Wushu dan Muaythai ke Indonesia. Dari tangannya lahir atlit-atlit yang kelak menjadi Juara Nasional bahkan Dunia dan kesemua atlitnya tersebut berlatar belakang ilmu beladiri Pencak Silat. Jadi boleh dikatakan semuanya berawal dari Pencak Silat.

 

 

 

 

 

 

Sanggar Seni Budaya ECO Bambu menurut Bapak Andreas Wihardja didirikan atas dasar kecintaannya pada Budaya Sunda dan Pencak Silat. Bisa dikatakan seperti seorang pria yang jatuh cinta pada gadis pujaannya, dia akan mendandani, merawat dan menjaganya. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah kita mencintai seni dan budaya tempat kita berasal dan diami atau bahkan mati nanti? Seperti halnya Bapak Andreas Wihardja dan PT. CIPAKU INDAH memberikan hadiah yang sangat berharga bagi Kota Bandung dan warganya ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

liputan : irvan minz priono, fadlly shaputra, awiel wilman  ( kontributor warna nusantara )

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *