Uniknya Cilok, Cireng dan Cimet
Januari 13, 2016
Warna Nusantara (339 articles)
0 comments

Uniknya Cilok, Cireng dan Cimet

Bagi kita yang memijak di Bumi Nusantara tentu tidak diragukan lagi kebanggaannya akan negeri ini. Negeri di ufuk barat yang mengaku lebih maju dalam segala halpun tidak akan mampu mengalahkan kekayaan kita. Secara intelektual norma berbudaya bangsa ini bisa jadi lebih maju dari mereka, budaya sopan santun yang hingga kini nampaknya hanya warga nusantara yang punya. Jangan tanyakan tentang budayanya, nampaknya tidak ada dalam satu negara yang memiliki budaya hingga ribuan jumlahnya. Jumlah yang banyak tentu saja memiliki keunikan yang tak kalah banyak pula. Dalam rangka keunikan ini kami mencoba mengangkat 1/2 ujung kukunya, uniknya cilok, cireng dan cimet.

Bagi yang belum mengetahuinya, ketiga nama di atas adalah sejenis cemilan yang banyak ditemui di sekitaran Jawa Barat. Propinsi yang terkenal dengan sebutan tatar sunda karena mayoritas suku ini yang mendiaminya. Salah satu yang menarik dari daerah ini adalah penggunaan singkatan-singkatan dalam menamai sesuatu, salah satunya makanan. Mungkin sedikit yang menyadari tentang hal ini namun kita ambil contoh ketiga makanan tadi.

Jika kita telusuri, singkatan-singkatan dari panganan ini diperoleh dari generasi pendahulu kita. Bahkan berdasarkan obrolan dari salah seorang sepuh penggunaan singkatan ini sudah ada dari tahun 1500-an atau pada jamannya Prabu Siliwangi, Raja Padjadjaran ini berkuasa. Bagi sebagian masyarakat sunda dipercayai bahwa Raja ini merubah wujudnya menjadi harimau dan hingga kini menghilang entah kemana. Bagi sebagian orang tentu hal ini tidak dapat diterima oleh akal sehat bahkan ajaran agama pun tidak membenarkannya karena manusia hidup pasti akan mati. Bagi sebagian orang ini dipercaya bahwa Prabu Siliwangi ini berubah wujud menjadi harimau atau maung dalam Bahasa Sundanya. Maung ini sendiri merupakan singkatan dari manusa unggul alias manusia yang lebih baik dalam hal budi pekertinya dibandingkan yang lain. Jika kita sambungkan tentu kita bisa melihat kebiasaan menyingkat kata sudah dilakukan oleh masyarakat sunda pada jaman itu.

Kembali lagi ke makanan cilok, cireng dan cimet. Ketiganya bisa kita kategorikan ke dalam cemilan karena sepertinya tidak cocok kalau dikonsumsi sebagai lauk pendamping nasi kecuali memang jika tidak ada pilihan lain. Persamaan dari ketiganya adalah bahan utamanya, tepung kanji alias aci. Dari aci ini pula ketiga nama tersebut terbentuk.

Cilok merupakan singkatan dari aci di colok. Seperti kita ketahui memang untuk mengkonsumsi cilok diperlukan alat sejenis tusuk sate untuk mencoloknya. Kenapa demikian, karena cilok ini memiliki bentuk seperti bakso namun teksturnya lebih kental dan licin. Ya, ini yang membedakan antara cilok dengan bakso. Biasa disajikan langsung dalam kondisi masih panas dimana biasanya si tukang cilok akan mengeluarkannya langsung dari panci seperti layaknya siomay. Tidak diketahui dari kapan dan bagaimana asal muasal cilok ini berada namun ketika bertanya kepada orang tua yang masa kecilnya di sekitaran tahun 1950-an, makanan ini ternyata sudah ada. Lazimnya didalam cilok akan diisi oleh sepotong daging sapi, sering kali bagian lemaknya. Ini yang membuat sensasi ketika kita menggigitnya dimana cairan dalam cilok akan muncrat ke dalam mulut kita. Kalau istilah dalam bahasa sundanya, ngagejrot. Pengalaman sewaktu sekolah dasar dulu sang penjaja cilok akan mengisi sebagian ciloknya dengan kacang merah, siapa yang mendapatkannya maka akan mendapatkan pensil atau penghapus. Strategi marketing yang jitu pada jamannya. Karena biasa dijajakan di sekolah-sekolah terutama SD maka dari itu cilok ini biasa disebut jajanan SD. Bagi yang ingin bernostalgia ke jaman SD itu pada orang banyak mencari hingga akhirnya disekitaran pertengahan tahun 1990-an makanan ini kembali booming di Bandung hingga sekarang. Bahkan si cilok ini sekarang difariasikan beragam. Sebelum lupa, bumbu yang digunakan sebagai pendamping cilok pada masa lalu hanya kecap dan saus saja hingga akhirnya berkembang dengan menggunakan saus kacang ala siomay. Hingga saat ini kedua varian bumbu ini masih digunakan.

Sama halnya dengan cilok, cireng merupakan singkatan dari “aci” di “goreng”. Entah bagaimana kejadiannya hingga tercipta panganan ini bahkan kapan dan dimana terciptanya pun tidak diketahui. Pada jamannya dulu cireng ini biasa ditemui di pedagang gorengan berteman dengan bakwan, comro dan lain sebagainya. Bentuknya jajaran genjang, diberi bumbu-bumbu serta rempah-rempah lainnya hingga rasa si cireng ini enak dikonsumsi walau tanpa pendamping lainnya. Seiring berjalannya waktu, si cireng dimodifikasi dengan memasukan sambal oncom layaknya comro, bahkan ada yang memfariasikannya dengan bumbu kacang. Turunan dari variasi ini adalah ciclom alias “aci” di “anclom”, dalam Bahasa Indonesia bisa diartikan dengan aci yang dicelupkan ke dalam bumbu. Kenapa demikian karena memang cireng ini sebelum dikonsumsi dicelupkan dulu ke dalam panci berisi bumbu kacang. Jenis ini yang termasuk ke dalam jajanan SD. Kesemua varian ini masih banyak kita temui hingga sekarang bahkan bisa dibilang kemunculan cireng lebih stabil dibandingkan dengan cilok yang dalam beberapa saat pernah menghilang dari pasaran.

Yang terakhir adalah cimet, sama seperti makanan yang dua tadi dimana ci merupakan singkatan dari “aci” dan “met”-nya berarti “leumet” atau dalam Bahasa Indonesia berarti kecil. Nama cimet mungkin sekarang tergantikan oleh kata cimol. Nah ini dia, ternyata nama cimol sendiri diambil dari menyingkat kata Cibadak Mall alias Pasar Baju bekas di pertengahan tahun 1990-an yang lokasinya saat itu memang di Jalan Cibadak sebelum dipindahkan ke Pasar Gedebage. Lokasi ini adalah tempat awalnya para penjaja cimet berjualan. Makanan ini sama dengan cireng hanya saja ukurannya lebih kecil, bentuknyapun sama dengan cilok namun teksturnya lebih keras karena cara membuatnya digoreng bukan di kukus. Yang lebih terang lagi bumbu yang dipergunakan cimet alias cimol ini adalah serbuk cabai merah, bahkan sekarang ada yang memvariasikannya dengan serbuk keju, barbeque dan lainnya. Cara menikmatinya cukup unik karena biasanya dimasukan ke dalam plastik kecil dan kita harus menusuknya seperti layaknya memakan cilok.

Ketiga cemilan ini mudah didapat terutama di Kota Bandung. Kebanyakan dari penjaja ini menggunakan roda sebagai alat berjualannya. Oleh karena itu hampir disudut-sudut jalan dapat kita temui penjualnya. Bahkan kini ketiganya bisa didapatkan secara online dimana makanan ini sudah meningkat statusnya baik secara pengolahan maupun bahannya. Namun tetap saja si aci selalu turut serta. Makanan ini hanya sebagai contoh saja tanpa kita kesampingkan makanan lain yang berasal dari singkatan pula seperti comro, colenak, ciu, sukro dan masih banyak lagi yang lainnya. Ini baru 1/2 ujung kuku keunikan bahkan kelebihan kita loh. Masih malu jadi Penghuni Negeri Nusantara?

 

 

 

 

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *