Mei 11, 2015
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Tiga Chef Indonesia Hidangkan Tempe dalam Fine Dining di Breda

Berawal dari sebuah gagasan Detty Janssen yang aktif terjun mengkampanyekan makanan Indonesia di Belanda, akhirnya ketiga chef papan atas dari 3 negara berbeda dieropa berhasil dipertemukan dalam satu dapur untuk bicara dan memasak tempe. Bahan pangan lokal yang asli Indonesia ini diangkat dalam acara temp(e)tation, dengan tema When tempe can make its own words”.

Acara yang didukung oleh KBRI Den Haag ini telah berlangsung pada tanggal 4 Mei 2015 kemarin direstoran Bali James, Breda – Belanda dan dimulai pukul 12 siang hingga 18.00 waktu setempat.

Detty dibantu tiga rekannya, Reza Akil, Stevie Heru, dan Cisca Suxma telah berhasil mengkolaborasikan 3 koki Indonesia yang bermukim dan berkarir di Eropa dan patut dibanggakan. Mereka adalah Jimmy Lo Hamzah, pemilik sekaligus head chef dari restoran Bali James Belanda, Yudi Yahya, executive chef dari restaurant Rock Salt Chilli Peppers Brussels, dan Ari Munandar pemilik restaurant Ari’s dari Prague.

Ketiganya berhasil mengundang decak kagum para tamu yang pada hari itu bisa menikmati deretan hidangan tempe dalam berbagai gaya yang berbeda, unik, sekaligus mewah dalam balutan fine dining.

Dengan teknik yang baik, Ari Munandar menghidangkan tempe dengan gaya masakan barat yang sungguh menawan. Ia membuat ravioli isi tempe yang dihidangkan dengan water chesnut, bokchoi dan truffle oil. Sungguh kreatif!

Selain itu, ia juga membuat satu dish lainnya, berupa tempe puree yang disantap dengan pan fried ikan cod, yang disiram dengan mussels dan clam sauce.

Berbeda dengan Jimmy Lo Hamzah yang melakukan pendekatan hidangan tempe melalui sentuhan tradisional. Ia membuat botok tempe dan perkedel tempe yang dipresentasikan secara cantik di atas piring. Jimmy bahkan menghidangkan perkedelnya bersama nasi dan sayur lodeh, sungguh membanggakan.

Dua hidangan lainnya muncul ditangan Yudi Yahya. Ia menyentuh tempe dengan konsep hidangan fushionnya, dalam sajian Le Tempe de Mer. Dimana yudi menyajikan tempe dalam bentuk sushi diatas piring bersama scallop, asparagus dan mojo. Mengagumkan bukan?

Sementara menu kedua Yudi adalah Sailing Tempe on Prawn, yakni sajian 3 macam puree yang salah satunya adalah puree tempe dikombinasikan dengan courge butternuts dan pure kentang dengan udang bakar yang disiram dengan coco vinaigrettes dan yuzu.

Hidangan serba tempe ini disajikan kepada 35 undangan yang terdiri dari media, food writers, food trends, food bloggers, young generation, pemilik restaurant dan juga chef. Acara ini bertujuan untuk mengangkat tempe sebagai warisan budaya dari bangsa Indonesia yang layak untuk dilestarikan dan disebarkan asal usulnya di mata internasional khususnya dinegara Belanda.

Tempe sendiri adalah makanan yang dibuat dari kacang kedelai yang difermentasikan. Tidak seperti makanan kedelai tradisional lain yang biasanya berasal dari Cina atau Jepang, tempe berasal dari Indonesia. Tempe merupakan jenis makanan yang sangat unik, tak ubahnya seperti keju yang dibuat di Perancis. Bahkan, di Amerika Serikat, dan Australia, tempe adalah makanan yang sangat mewah, karena sulit dibuat dan didapatkan.

 Tempe dikenal oleh masyarakat Eropa melalui orang-orang Belanda dan telah populer di Eropa sejak tahun 1946. Di Belanda sendiri terdapat beberapa perusahaan yang memproduksi tempe, salah satunya adalah pabrik tempe terbesar di Eropa dan terletak di Kerkrade.

Pengenalan budaya Tempe ini, sekaligus upaya memperkenalkan lebih mendalam mengenai kekayaan Indonesia yang jumlahnya beragam. Disamping itu, beberapa negara maju saat ini berlomba-lomba membuat varian dan mempatenkan tempe. Hal tersebut tentunya dikhawatirkan dapat mengancam asal usul tempe sebagai bagian dari Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

Hingga saat ini tempe sendiri telah banyak mendapatkan penelitian, dimana berbagai hasilnya telah dimanfaatkan dengan baik di luar negeri, terutama di Jepang dan Jerman. Bahkan di Jerman pengembangan tempe sudah mencapai generasi ketiga yang berupa isolasi senyawa-senyawa berguna yang dikandung oleh tempe.

Untuk itu upaya-upaya pengenalan hingga pelestarian dan asal usul tempe harus terus diperkenalkan dan dikembangkan, agar tempe bisa menjadi tuan rumah dinegara sendiri dan dikenal baik sebagai produk lokal yang go internasional oleh negara asing.

Acara yang dibuka oleh Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) KBRI Den Haag Ibnu Wahyutomo dalam sambutannya mengatakan bahwa asal-usul tempe di Yogyakarta sudah tertulis di Serat Sri Tanjung pada abad 12. “Sejarah asal-usul tempe dari Yogyakarta sama tuanya dengan sejarah Yogyakarta itu sendiri. Makanan tradisional khas Indonesia ini dapat menjadi salah satu aset diplomasi kuliner Indonesia,”

Kegiatan acara diawali dengan pemutaran video presentasi sekaligus film singkat dengan berbagai informasi seputar tempe, dan dilanjutkan dengan diskusi singkat mengenai tempe.

Dalam acara temp(e)tation ini, para chef Indonesia dengan latar belakang berbeda telah menampilkan keahliannya dengan memperlihatkan bahwa tempe tidak hanya bisa dipakai sebagai bahan rumahan, namun tempe juga layak dan dapat dihidangkan sebagai hidangan berkelas bahkan direstoran sekelas michelin sekalipun.

Kegiatan ini sendiri mendapatkan apresiasi yang sangat baik, bahkan telah membuat banyak tamu undangan cukup terkejut, disamping karena dari beberapa tamu undangan sendiri tidak mengenal tempe, namun para undangan pun tidak mengira bahwa tempe yang selama ini hanya dikenal sebagai ‘vegan food’ ternyata bisa ditampilkan secara apik diatas piring. Tidak hanya secara traditional atau masakan rumahan namun juga hidangan kelas tinggi dengan rasa yang cukup enak. Dan setiap orangpun bisa mendapatkan manfaat dari tempe.

Untuk lebih memeriahkan acara, restoran Bali James sendiri juga mempersembahkan hidangan khas dari restoran mereka, yaitu hidangan rijstafel sajian makanan Indonesia yang cukup dikenal di Belanda dan acara ditutup secara apik dengan pengenalan dan pencicipan kopi Luwak liar dari Indonesia oleh Kopi Desa.

 

Maju terus pangan Indonesia!

 

Seperti dituturkan oleh Detty Janssen

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *