Mei 15, 2015
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Tidak Pernah Absen di Dapur Nusantara

“Kecil-kecil cabai rawit.” – Pepatah Nusantara

Kekayaan budaya Nusantara yang beragam seberagam makanannya. Berjajar pulau-pulau berjajar pula kekayaan rempahnya. Keberagaman budaya ini dapat ditarik garis lurus menjadi persamaan budaya khatulistiwa. Untuk makanan, persamaannya kita bisa tarik garis lurus dengan cabai. Ya, siapa yang menyangkal, masyarakat nusantara adalah penyuka makanan pedas, berapapun itu kadarnya. Jadi bisa dikatakan rempah yang tak pernah absen di Dapur Nusantara adalah cabai.

Itu hanya sebagai jargon saja jika kita menilik masyarakat modern nusantara. Bagi masyarakat pedalaman, kita harus menelitinya lebih jauh lagi. Namun dapat diyakini bahwa 99% masyarakat nusantara menyimpai cabai di dapurnya. Oke, kita setujui saja, tapi pernah kah kita pikirkan, pakah jenis cabai yang ada di dapur ini sama semua? Mungkin juga, mungkin hanya penyebutan namanya saja yang berbeda karena nusantara memiliki beribu bahasa. Tapi bentuknya sepertinya berbeda juga. Ah, intinya semua sama, pedas.

Sebetulnya tidak ada salahnya kita mengetahui jenis-jenis cabai yang ada di nusantara. Sebagai bahan pengetahuan dan penebal keimanan kita akan negara yang kaya ini. Berikut adalah jenis-jenisnya:

  1. Cabai Gendot, cabai yang konon terpedas di Nusantara, berwarna bisa merah, oranye atau hijau, biasa dipakai untuk makanan jenis tumis-tumisan. Berukuran besar dibandingkan cabai lainnya.
  2. Cabai Rawit, cabai ini berukuran kecil, berwarna biasanya hijau tapi ada juga yang merah, hijau muda bahkan oranye. Dibandingkan cabai merah atau keriting, cabai ini lebih menggigit pedasnya. Karena ukurannya yang kecil tapi pedasnya mantap hingga muncul istilah kecil-kecil cabai rawit. Biasa dipakai untuk bumbu-bumbu seperti gado-gado, sambal, rujak. Namun ada yang lebih ekstrim lagi, dikunyah bulat-bulat bersama gorengan.
  3. Cabai bird paper, entah kenapa namanya ini mungkin karena ukuran panjangnya yang tidak lebih dari 2 cm, warnanya juga unik, tembaga.
  4. Cabai Ceplik, ukurannya lebih besar dari cabai rawit, tubuhnya ramping dan rasanya juga kurang pedas. Biasa digunakan sebagai penambah cita rasa dan hiasan atau garnish pada makanan-makanan nusantara.
  5. Cabai Domba, disebut demikian karena bentuk tubuhnya yang gempal. Cabai super pedas apalagi yang berwarna oranye. Cocok dijadikan sambal buat penggila pedas.
  6. Cabai Kathur, dinamai sesuai Bahasa Jawa, “ngathur” atau mempersembahkan, karena buahnya yang lurus menjulang ke langit. Berwarna hijau yang akan berubah menjadi merah tua ketika sudah masak. Bijinya banyak sehingga jenis cabai ini tidak mengandung banyak air. Positifnya, dia akan lebih tahan lama.
  7. Cabai Jemprit, sejenis cabai rawit, yang membedakannya adalah ujungnya yang lebih runcing. Rasanya dijamin lebih pedas dari cabai rawit biasa.
  8. Cabai putih, walaupun namanya putih namun sebenarnya warnanya adalah kuning pucat. Biasa disebut pula cabai Manado dan juga biasa dipakai pada masakan-masakan Manado.
  9. Cabai Merah, cabai ini sudah pasti berwarna merah. Rasanya kurang pedas namun bentuknya sering dipakai sebagai ikon dari cabai keseluruhan bahkan untuk melambangkan sesuatu yang pedas.
  10. Cabai Hijau, mungkin bertujuan untuk berinovasi atau membuat varian berbeda, jenis cabai ini sebetulnya adalah jenis cabai merah yang sudah dipanen sewaktu muda.
  11. Paprika, menjadi perdebatan sebagian orang yang beranggapan bahwa paprika itu buah yang bukan satu spesies dengan cabai, mungkin karena bentuknya yang menyerupai lonceng layaknya buah jambu air. Teksturnya kerasnamun renyah dikunyah. Warnanya ada yang hijau, oranye dan merah.
  12. Cabai Keriting, dinamai ini mungkin karena tekstur dari cabai yang kurus dan bergelombang, bisa berwarna merah namun adapula yang berwarna hijau. Biasa dipergunakan pada masakan-masakan Padang atau Minangkabau.
  13. Cabai Jepang, mungkin karena biasa ada di swalayan Jepang atau Korea atau juga karena negara asalnya. Bentuknya melingkar-lingkar atau meliuk-liuk.
  14. Jalapeno, cabai asal Meksiko ini berbentuk oval, biasa dipakai untuk acar dan sebagainya. Warnanya hijau dan merah tua, bisa dipakai setelah dikeringkan, biasa disebut chipotles.
  15. Cabai Jawa, kadangkala disebut cabai jamu karena fungsinya biasa dipergunakan sebagai obat atau jamu.
  16. Cherry Pepper, bentuk cabai ini seperti buah cerry, biasa dipergunakan sebagai campuran dalam acar.
  17. Yellow Banana Pepper, bisa ditebak kan? Bentuknya menyerupai pisang. Cabai ini biasa pula ditemui dalam acar.

Jenis-jenis cabai tadi baru yang tercatat belum termasuk yang tidak tercatat lainnya. Sebuah keunikan dari Nusantara ini adalah walaupun si cabai berjenis sama namun kadar kepedasannya bisa berbeda. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, bisa saja karena suhu yang berbeda, kadar air hingga teknik penanamannya. Maka jangan salah jika kita temui Pedagang Nasi Padang di daerah lain akan mengimport sendiri cabai dari daerahnya langsung. Seperti pepatah, serupa tapi tak sama. Terbayang sudah kan kenapa Bangsa Eropa ingin datang menjajah kita karena kekayaan rempahnya, dari cabai saja bisa kita temui berbagai macamnya. Tapi sepertinya kita belum pernah mendengar salah satu rempah yang dimaksud adalah cabai, padahal kalau itu yang dikeruk bisa-bisa bangsa kita kekurangan semangat bertempur gara-gara makanan yang dihidangkan tidak ada rasa pedasnya.

 

Bahan tulisan lain : www.nutrisari.co.id

Related articles

Sorry, no posts were found.

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *