Oktober 14, 2014
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

The Special One Pendiri Soto Bangkok

[vc_row][vc_column][vc_column_text]

Soto adalah salah satu makanan populer di Nusantara. Hampir semua daerah di Nusantara ini memiliki soto dengan versi-nya masing-masing. Seperti yang pernah kita bahas di rubrik Food Tradition terdahulu menurut Dennys Lombard seorang professor berkewarganegaraan Perancis yang telah meneliti kebudayaan nusantara selama tiga puluh tahun menyebutkan dalam bukunya yang terkenal  Nusa Jawa: Silang Budaya, bahwa asal muasal soto adalah makanan oriental bernama caudo, pertama kali populer di wilayah Semarang. Hingga kini warung soto masih banyak kita temui di Nusantara ini. Salah satunya adalah Soto Bangkok.

Soto Bangkok berlokasi di Jalan Lembong, Bandung tepatnya di depan Museum Mandala Wangsit, Siliwangi. Soto ini dimiliki dan dikelola oleh Mas Paing, orang solo asli yang sudah belasan tahun tinggal di Bandung. Awal berdirinya Soto Bangkok ini adalah dari ketidaksengajaan, hanya jalan hidup yang menentukan arahnya.

Setelah bekerja selama 25 tahun di sebuah warung soto terkenal, pada tahun 2006 Mas Paing harus menerima kejadian yang pahit dalam hidupnya, dia tidak dipekerjakan di sana lagi. Setelah beberapa lama tinggal di Solo seorang temannya menelpon dan memberinya modal sebesar Rp 2.500.000,- untuk membuka warung makan di Bandung. Setelah mendapatkan lokasi yang pas yaitu di depan Terminal Cicaheum akhirnya dia berjualan makanan. Sesuai dengan kemampuannya dia menjual ayam goreng, pecel lele dan macam-macam ikan. Hidup pahit kembali dia hadapi bersama keluarganya. Hidup pas-pasan bahkan berdesakan menginap di warungnya bahkan tiap hari untuk mandi mereka harus pergi ke wc umum terminal. Hingga suatu hari seorang teman lainnya memberikan masukan yang sekaligus merubah arah usahanya. “Kamu tuh goblokkk, spesialisasi kamu itu soto kenapa kamu jualan yang lain?” perkataan temannya yang selalu dia ingat.

Tidak memerlukan waktu yang lama akhirnya dia berjualan soto yang notabene adalah spesialisasinya. Bulan berganti usahanya mulai menghasilkan. Tidak puas dengan pendapatannya dia mulai menambah porsi penjualannya. Buka dari pukul 06.00, pukul 16.00 sotonya sudah habis terjual. Setelah sotonya mendapatkan sambutan yang baik seorang investor dari Boyolali menawarinya untuk berinvestasi lewat sotonya. Untuk lebih mendapatkan cita rasa yang pas Mas Paing disuruh untuk mencicipi soto-soto yang ada di Boyolali yang terkenal enak. Puluhan warung soto dia masuki mulai dari Salatiga hingga Boyolali. Puluhan soto yang ia cicipi tersebut semuanya enak namun dengan keyakinan akan kemampuannya, dia percaya bahwa soto buatannya pasti lebih enak. Pada akhirnya di tahun 2007 berdirilah Soto Bangkok dengan lokasi yang sama hingga sekarang.

Pemilihan nama Soto Bangkok didasarkan kepada keunikan saja, “biar orang beranggapan makanan dari Thailand padahal asli dari Nusantara.” ujarnya. Selain itu jika menggunakan nama Soto Bangkong di daerah Bandung yang masyarakatnya didominasi Suku Sunda, Bangkong itu berarti kodok, jadi bisa disalah tafsirkan soto yang ia buat berbahan baku utama daging kodok. Selain Soto Bangkok-nya yang terkenal ada pula Makanan Mangut. Di daerah Jawa Tengah dan sekitarnya makanan ini terkenal. Mangut adalah sejenis sop dengan menggunakan ikan sebagai bahan utamanya, yang membedakan ikan yang dipergunakan adalah sejenis ikan laut yang sebelumnya sudah diasapi atau dibakar terlebih dahulu. Bagi warga Bandung yang notabene tinggal jauh dari pantai makanan ini cukup asing namun bagi para pendatang yang tinggal sebaliknya, menikmati Mangut Mas Paing ini serasa makan di daerahnya sendiri. Menu lain yang tak kalah enaknya adalah Garang Asem Ayam dan Daging. Makanan ini  sejenis sayur lodeh namun lebih kental terasa asam dan pedasnya.

Kembali ke kisah hidupnya Mas Paing, sedari kecil hingga umur 36 tahun terbiasa hidup menumpang pada orang lain, pahit getirnya sudah ia jalani, hingga akhirnya kehendak Tuhan yang kadangkala disalah artikan oleh manusia  merubah jalan hidupnya. Siapa sangka diberhentikan dari tempat bekerjannya, tempat menggantungkan hidup keluarganya selama 25 tahun berakhir dengan kesuksesan. Pernah suatu kali ketika dia masih bekerja pada orang lain, Mas Paing diberi modal untuk membuka usaha sendiri. Hal itu tidak dia laksanakan karena merasa cukup mengabdi ditempat kerjanya dulu. Hal itu tidak berlaku lagi ketika dia sudah tidak dipekerjakan disana lagi. Baginya selama kita memiliki niat, nasib bisa kita ubah. Keuntungan lainnya adalah mendapatkan relasi yang banyak dari konsumen tempatnya bekerja dulu. Hingga sekarang hampir semua kantor pemerintahan dan markas militer di Bandung sudah menjadi kliennya. Semua yang ia raih sekarang memang sebanding dengan apa yang dia harus jalani sebelumnya, bayangkan saja perjuangannya yang harus berjalan selama 40 hari untuk mendapatkan lokasi strategis berjualan sampai tidurpun harus ikut menginap di rumah teman.

Belum merasa sukses baginya menjadi pengusaha sukses masih jauh, masih memerlukan kerja keras lagi. Hal ini ditularkan kepada ke-empat anaknya. Biar mereka bekerja dengan orang dulu, biar tahu susahnya bukan senangnya. Walaupun sudah memiliki 3 cabang di Bandung; Jl. Dustira, Jl. Ahmad Yani, Jl. Husein, serta 1 cabang di Pekalongan cita-citanya ke depan adalah memiliki tempat yang permanen. Ya, itulah Mas Paing dengan semangat pantang menyerahnya telah berhasil memperkenalkan menu baru di Bandung. Selamat menikmati Soto Bangkok Mas Paing.[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/1″][vc_gallery type=”image_grid” onclick=”link_image” custom_links_target=”_self” interval=”3″ images=”2299,2300,2301″][/vc_column][/vc_row]

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *