Oktober 29, 2014
Warna Nusantara (339 articles)
0 comments

Teh Peninggalan Preangerplanters

“I don’t drink coffee I like tea my dear, I like my toast done on one side…” (Englishman in New York) – Sting, Nothing Like The Sun

Demikian penggambaran seorang Inggris atau Bangsa Eropa di Kota New York menurut Sting dalam lagunya Englishman in New York. Sedikit menggambarkan kebiasaan minum teh bagi warga Eropa. Budaya yang turun temurun sudah dilaksanakan di sana. Dalam hal budaya ini sebetulnya Nusantara sedikit memberikan sumbangsihnya lewat perkebunan yang dirintis oleh orang-orang Belanda yang pada jamannya biasa disebut Planters walaupun pada awalnya hal ini dilaksanakan dengan paksaan. Daerah Priangan atau Jawa Barat pada jaman dulu pernah menjadi andalan Pemerintah Hindia Belanda dalam menutupi kebangkrutan akibat meletusnya Perang Jawa (Perang Belanda melawan Pangeran Diponegoro tahun 1825 – 1830). Menurut Dr. H.J. De Graff, (Geschiendenis von Indonesie, 1949) perang tersebut telah menghabiskan dana sebesar 20.000.000 gulden. Untuk menutupi pengeluaran keuangan yang sangat besar itu dalam waktu singkat, Pemerintah Hindia Belanda menerapkan Tanam Paksa (Cultuur Stelsel) di Nusantara. Beberapa jenis tanaman yang diwajibkan adalah: tembakau, gula, nila, kayu manis, kopi dan teh. Keuntungan yang didapat Pemerintah Hindia Belanda dari Cultuur Stelsel sangat besar, berbanding terbalik dengan para petani pribumi bahkan boleh dibilang para pribumi ini hidup dalam penderitaan. Penderitaan rakyat ini mendapatkan simpati dari  beberapa orang Belanda yang menyaksikan langsung kehidupan rakyat. Mereka diantaranya adalah Pendeta Baron Van Hoevell yang mengecam Pemerintah Belanda di Parlemen Belanda, serta seorang penulis bernama Edward Douwes Dekker, dengan nama pena Multatuli menggambarkan penderitaan rakyat pribumi dalam novelnya yang terkenal “Max Havelaar.” Setelah berjalan selama hampir 40 tahun (1831-1870) akhirnya sistem tanam paksa ini berakhir. Berbarengan dengan berakhirnya tanam paksa, Pemerintah Belanda mengeluarkan “Undang-Undang Agraria” yang membuka lebar-lebar penanaman modal swasta di sektor perkebunan. Pada masa itu Priangan atau dikenal dengan Jawa Barat sekarang merupakan daerah pilihan lokasi bagi perkebunan jenis tanaman ekspor. Salah satu komoditi ekspor yang laku keras dipasaran adalah teh. Teh atau Camellia Sinensis pertama kali ditemukan di daerah Yunnan, barat daya Tiongkok. Iklim wilayahnya sama dengan Nusantara yang tropis dengan hawanya yang hangat dan lembab. Pada Awalnya pamor teh di Priangan kalah oleh kopi sesuai pamornya di pasaran Eropa. Pada tahun 1712, Abraham Van Riebeek datang ke Tatar Ukur atau Negorij Bandong, Kota Bandung masih berbentuk hutan belantara dimana salah satu jalan yang bisa dilalui dari Batavia atau Jakarta sekarang  Masih lewat sungai. Pada tahun 1713, Van Riebeek mendaki Gunung Papandayan dan Tangkubanparahu dengan membawa benih kopi untuk ditanam serta belerang yang akan dia eksplorasi. Tercatat Van Riebeek adalah orang Eropa pertama yang mendaki Gunung Tangkubanparahu. Seiring berjalannya waktu Tatar Priangan merupakan gudang tanaman teh berbanding terbalik dengan daerah Jawa Tengah terutama Yogyakarta, Surakarta dan Jawa Timur banyak terdapat pabrik gula. Mungkin awalnya dari sini ada budaya dimana suku sunda akan menyuguhkan air teh secara cuma-cuma kepada tamunya karena keberlimpahan teh di daerah ini. Khusus untuk tuan tanah Belanda pemilik perkebunan ini dikenal dengan istilah Preangerplanters. Dalam struktur sosial masyarakat Belanda, para Preangerplanters ini menduduki strata sosial yang tinggi. Hal ini bisa juga disebabkan oleh sumbangsihnya bagi pemasukan kas Hindia Belanda. Para Preangerplanters ini yang terkenal diantaranya adalah keluarga Van der Huchts, de Kerkhovens, de Holles, Van Motmans, de Bosscha’s, Families Mundt, Denninghoff Stelling dan Van Heeckeren van Walien (Rob Nieuwehhuys, “Tempo Doeloe, Een Verzoken Wereld,” 1982).  Hingga saat ini peninggalan para Preangerplanters masih dapat kita nikmati. Hamparan kebun teh di Utara dan Selatan Kota Bandung bukan hanya teh-nya saja yang dapat kita nikmati tapi juga keindahan pemandangan alamnya. Walaupun sebenarnya sumbangsih mereka tidak hanya pada teh-nya saja tapi sumbangsihnya bagi pembangunan Kota Bandung. Berdirinya Gedung ITB, Teropong Bintang di Lembang, Gedung Sate dan lain-lain adalah sumbangsih mereka. Walaupun demikian teh para Preangerplanters merupakan peninggalan tak ternilai bagi Nusantara bahkan sampai dunia.    Sumber tulisan : Haryoto Kunto, Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, Granesia, 2014

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *