Mei 7, 2014
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Tari Kecak Pura Uluwatu

“Dance is the hidden language of the soul”
― Martha Graham

Senja segera beranjak di Pura Uluwatu, Bali. Lembayung menawan memberi kehangatan. Alam yang sangat mempesona. Pandanganku beranjak ke sekumpulan penari pria yang duduk membentuk lingkaran. Suara pemimpin terdengar nyaring, mulailah paduan suara “kecak” terdengar seirama. Gerak tubuh sekitar 70-an penari mengikuti irama, seolah terasuk tangannya naik turun, jari-jemari menari seolah ombak Samudra Hindia bergelombang bergerak dibawah panggung pementasan.

Tari kecak biasa dipentaskan saat matahari terbenam disamping Pura Uluwatu. Salah satu pura eksotis di Bali yang didirikan sekitar abad ke – 18. Bangunan pura ini berdiri megah diatas bebatuan karang yang menjorok kelautan. Pura ini terletak takjauh dari Bandara InternasionalNgurah Rai,Denpasar. Keeksotisan pura ini bertambah dengan adanya pementasan tari kecak. Tempat pementasan tari kecak dibuat berbentuk mirip coloseum dimana penari berada dibawah penonton yang duduk bersaf mengitarinya.

Tari ini pertama kali diciptakan sekitar tahun 1930-an oleh seniman tari Bali bernama Wayan Limbak bekerja sama dengan seorang pelukis Jerman bernama Walter Spies (wilkipedia). Berbentuk sendratari yang biasa mengankat cerita epos dari “Ramayana.” Keunikan lain dari tarian ini adalah ketiadaan alat musik sebagai pengiring. Suara puluhan penari latar yang semuanya laki-laki berseragam kain bercorak kotak-kotak menyuarakan kata..cak..cak..cak..cak… sebagai pengiringnya. Demikianlah akhirnya tarian ini dikenal dengan Tari Kecak.

Adegan demi adegan, bagian demi bagian dari cerita Ramayana dipentaskan dengan apik. Dimulai dengan kemunculan Sang Rahwana si Raksasa Dasa Muka yang berencana menculik Dewi Shinta istri dari Rama. Kemunculan tokoh-tokoh ksatria berbentuk binatang seperti Hanoman dan garuda sakti yang dimainkan apik oleh penari-penari pemerannya membuat kita tidak mau beranjak dari tempat duduk. Pertempuran dua kera sakti Subali dan Sugriwa dan suara penari latar yang makin cepat membuat drgub jantung bertambah kencang.

Senja berganti malam, obor-obor yang dari sore sengaja dinyalakan telah mengganti cahaya sang surya. Kematian Sang Rahwana oleh panah Sri Rama pun mengakhiri acara Tari Kecak. Si jahat kalah oleh si baik. Demikian mungkin pesan yang tersirat di dalamnya. Seiring beranjak dari duduk, Tari Kecak di keindahan panorama Pura Uluwatu ini benar-benar mengingatkanku akan Kebesaran Tuhan.

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *