April 9, 2015
Warna Nusantara (335 articles)
0 comments
Share

Simpan Separuh Hati di Nom Nom Eatery

“The only time I feel alive is when I’m painting.” – Vincent van Gogh

Setidaknya seseorang merasa dihargai ketika dia merasa eksistensinya diakui. Tidak hanya untuk sekedar singgah dan menerima ucapan terima kasih namun kembali karena merasa memberikan sesuatu pada tempat itu. Adalah Nom Nom Eatery, sebuah cafe di Bandung yang merasa tidak cukup hanya memberikan ucapan terima kasih saja bagi pengunjungnya. Lewat guratan-guratan tangannya, pengunjung dipersilahkan untuk mengekpresikan semua idenya. Bahkan anda bisa simpan separuh hati di Nom Nom Eatery.

Berlokasi tepatnya di Jalan Merak No. 2, Bandung cafe ini adalah perpaduan dari keindahan art design dan culinary art. Ruangan indoor dan outdoor cafe yang nyaman dan berkelas diimbangi dengan makanan yang disajikan adalah kombinasi makanan yang dibuat unik, yang jarang diolah oleh orang lain dicoba untuk diolah dan disajikan dengan sangat baik. Wajar saja demikian karena pemilik dan pengelola Nom Nom Eatery memang orang-orang yang berkompetensi untuk menghadirkan itu semua.

Adalah Niko yang lulusan STP Bandung jurusan Kitchen yang selama 12 tahun tidak berjumpa sahabatnya Andre, seorang lulusan dari sekolah design bertemu dan sepakat untuk membuka usaha bersama. Niko yang sudah memiliki usaha catering bersama istrinya Maya yang secara kebetulan adalah lulusan STP Bandung jurusan Pastry, mengajak istrinya tersebut untuk bergabung. Berkat ketiganya inilah muncul nama Nom Nom, yang merupakan singkatan dari “N”iko, “O” adalah huruf favoritnya Andre, serta singkatan dari “M”aya. Walaupun secara harfiah bisa pula diartikan dengan nyam-nyam.

Sebagai pengelola Niko dan Maya menyajikan makanan yang mereka akui sangat simple, dengan easy taste dan yang terpenting adalah humble, jadi intinya makanan yang gak ribet. Makanan tersebut bisa dinikmati oleh semua kalangan dan usia, itu yang terpenting. Suami – istri ini yang sudah bersama-sama semenjak kuliah, job trainning, kerja hingga mempunyai usaha bersama, bahu-membahu menciptakan makanan yang “mudah-mudahan tidak mengecewakan.” Setidaknya itulah yang mereka utarakan dengan rendah hati.

 

 

 

 

 

 

 

Bukan hanya Andre saja yang mencurahkan semua kemampuan designnya untuk bisa menata Nom Nom Eatery sedemikian apiknya, Niko dan Maya pun berkreasi melalui dapurnya untuk menciptakan makanan-makanan fushion yang menarik dan tentu saja enak. “Makanan-makanan yang ada di Nom Nom Eatery adalah kombinasi dari makanan Western, Asian dan Nusantara, kami juga menyajikan makanan khas Nusantara, menurut saya makanan ini sudah paling enak dihasilkan dari hasil kombinasi terbaik jadi harus disajikan secara otentik, kombinasinya tidak bisa digantikan,” jelas Niko.

 

 

 

 

 

 

Awalnya Nom Nom Eatery tidak berniat untuk memberikan tempat untuk menggambar bagi pengunjungnya. Rencananya dinding tersebut ingin digambari sendiri namun untuk merampungkan 1 frame gambar dibutuhkan waktu 1 minggu, terbayang dengan luasnya dinding dan banyaknya frame akan memakan waktu yang lama untuk mengisinya. Akhirnya frame tersebut dikosongkan dan ditawarkan kepada pengunjung untuk menggambar di sana. Ternyata animo dari pengunjung cukup besar dan kagetnya ternayat lukisan mereka bagus-bagus. Gambar-gambar yang dihasilkan tidak langsung jadi dalam satu hari, rata-rata pengunjung yang menggambar membuat sketsa dulu kemudian datang lagi untuk menggambar. Dengan demikian orang tersebut datang berkali-kali ke Nom Nom Eatery dengan membawa teman yang berbeda-beda. Lukisan yang diakui Niko paling wah adalah lukisan burung hantu, bukan hanya karena lukisannya bagus saja namun perjuangan pelukisnya yang harus pergi ke Jakarta selama 2 hari hanya untuk membeli spidol saja. Melihat animo yang besar, Nom Nom Eatery berekpansi dengan menambah frame-frame hingga ke belakang cafe.

Pada akhirnya dinding ini bukan hanya menjadi warana meluapkan ekspresi para pengunjungnya namun juga menjadi sarana komunikasi antara pengunjung dan Nom Nom Eatery. Sama seperti yang diutarakan oleh Vincent van Gogh, bahwa dia merasa hidup ketika melukis mungkin itu pula yang dirasakan oleh pengunjung di sana, mereka merasa hidup dan dihargai ketika apa yang ada di benak mereka bisa diutarakan dan dinikmati oleh orang banyak. Biarlah orang menyimpan separuh hatinya di Nom Nom Eatery untuk nanti mereka ambil kembali.

 

Liputan Donnie Kurniawan (Senior Jurnalist), Irvan Minz Priono & Fadli Shaputra (Kontributor Warna Nusantara)

 

 

 

 

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *