Juni 23, 2015
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Seputih Bubur Sumsum

Salah satu yang menarik tentang Ramadhan adalah kulinernya. Entah bagaimana di negara lain, namun jujur saja panganan Bulan Ramadhan adalah salah satu yang saya nantikan. Kuliner yang khas-khas ini memang bisa temukan di bulan-bulan biasa namun intensitasnya lebih sedikit bahkan bisa jadi tidak ada. Salah satunya adalah bubur sumsum. Walaupun demikian tetap saja ibadah harus tetap diutamakan, kuliner ini hanya menjadi penyemangat saja. Dalam rangka membersihkan diri di bulan suci ini, harapan kita hatipun akan kembali suci, putih seputih bubur sumsum.

Bubur sumsum sepertinya tidak aneh alias banyak kita temukan di bulan-bulan selain Ramadhan dan sepanjang Pulau Jawa ini. Ya, makanan ini dulunya biasa dihidangkan setelah acara syukuran. Rasanya yang manis dari gula merah dan gurih dari bubur tepung berasnya menjadi pelepas lapar dan penambah energi. Dua warna inti dari bubur sumsum ini jelas-jelas memiliki nilai filosofis masyarakat Jawa Kuno, kesucian dan keberanian. Sepertinya budaya ini sudah menjadi hal yang dikultuskan diseluruh lintasan nusantara, dapat terlihat dari Bendera yang menjadi identitas negara ini hingga kini. Nama bubur sumsum diambil dari warna putih bubur yang mirip seperti tulang sumsum.

Bagi yang belum tahu makanan ini dibuat dengan bahan tepung beras dan santan untuk bahan buburnya, dengan gula merah yang dicairkan sebagai sausnya. Walau bisa kita temui di bulan selain bulan ramadhan namun tetap saja makanan ini dinilai pas sebagai hidangan buka puasa. Selogan “berbukalah dengan yang manis” cocok sekali dengan panganan ini, manis rasanya dan manis pula tampilannya. Bubur dari tepung berasnya lembut, pas untuk perut yang kosong dan rasa manisnya dapat mengembalikan energi, walaupun demikian jangan salah pula jika gula dapat membuat anda cepat kenyang. Makanan ini pun bisa dipergunakan sebagai alternatif panganan balita anda, sekali-kali sebagai variasi makanan tambahan, terbukti tidak memiliki efek samping yang membahayakan, apalagi jika kita buat sendiri jadi kebersihannya bisa terjamin.

Bulan Ramadhan yang suci ini adalah bulan yang penuh dengan berkah dan ampunan, agak kurang pas memang jika kita membicarakan makanan ketika berpuasa. Namun dapat menjadi bahan perenungan kita betapa agungnya Allah S.W.T. Betapapun tidak, dibulan yang notabene dibatasi waktu makannya, para penggiat kuliner malah mendapatkan berkahnya walau hanya berjualan di waktu buka hingga malam hari. Kecil jika kita melihat keangungan Allah hanya dengan melihat ini saja. Bulan Ramadhan adalah awalan dari keberlangsungan ibadah kita di bulan-bulan selanjutnya, sama seperti bubur sumsum yang sudah berwarna putih, bersih, akan kita jaga terus kesuciannya, demiian pula hati kita.

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *