Agustus 15, 2014
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Sepenggal Sejarah di Jalan Braga

Sejarah perkembangan kota Bandung bisa dikatakan tidak bisa lepas dari Jalan Braga. Bisa dikatakan bahwa di jalan ini keramaian layaknya sebuah kota besar berawal. Menurut sejarahnya jalan ini mulai ada atau dibangun berkaitan dengan pembangunan Jalan Anyer – Panarukan oleh Daendels antara tahun 1808 hingga 1811 serta politik tanam paksa pada kisaran tahun 1830 hingga 1870. Pada tahun 1856 saat Bandung menjadi ibu kota Karesidenan Priangan, beberapa rumah warga Eropa dibangun di sepanjang jalan yang masih terbuat dari tanah. Sedangkan rumah-rumah lainnya masih beratapkan ijuk, rumbia, atau ilalang. Hingga tahun 1874 hanya terdapat 6 sampai 7 rumah dari batu di Jalan Braga. Sebelum tahun 1882 Jalan Braga diberi nama Pedatiweg, dengan lebar sekitar sepuluh meter, sebagai penghubung Groote Postweg atau Jalan Raya Posyang sekarang menjadi Jalan Asia-Afrika dengan Koffie Pakhuis atau Gedung Kopi milik Tuan Andries de Wilde yang sekarang menjadi Balai Kota Bandung.

Pada  tahun 1882 seiring dengan pendirian Tonil Braga, Asisten Residen Bandung, Pieter Sitjhoff, mengganti nama Pedatiweg menjadi Bragaweg. Waktu itu jalan diperkeras dengan batu kali, dan lampu-lampu minyak digunakan untuk penerang jalan. Ketika jalur kereta api Batavia-Bandoeng dibangun pada tahun 1884, ujung Bragaweg yang terletak dekat pusat kota telah berkembang pesat, sedangkan bagian utaranya masih berupa hutan karet. Ada juga pendapat lain mengatakan sebenarnya nama Braga sudah dipakai pada tahun 1810 dan dipopulerkan pada tahun 1887 oleh Tonil Braga.

Perkembangan Bragaweg dipicu oleh berdirinya Toko Kelontong De Vries. Toko yang menjual kebutuhan sehari-hari ini banyak dikunjungi petani Priangan keturunan Belanda yang kaya raya yang biasa disebut Priangan Planters. Keramaian De Vries membuat kawasan di sekitarnya ikut berkembang sehingga berdiri hotel, restoran, bioskop, dan bank. Dari peninggalan-peninggalan sejarah yang masih ada, kita bisa tahu bahwa di jalan Braga pernah dibangun gedung-gedung berarsitektur art deco, seperti gedung Bank Dennis, gedung toko Onderling Belang, di sebrang jalan gedung bioskop Majestic, dan viaduct. Karena lalu lintas dari Landraadweg mungkin sekarang jalan Pengadilan selalu dipenuhi delman yang menanti kereta api lewat dari Setasion Bandoeng atau kereta api dari arah timur. Kemudian viaduct itu menghubungkan jalan Parapatan Pompa yang sekarang berubah menjadi jalan Suniaraja dengan jalan Braga. Dulu jalan di jalan Braga ini buntu, namanya Gang Effendi. Lalu jalan di samping penjara Banceuy sebelumnya adalah jalanan kampung yang dibuat menembus sampai ke jalan Braga di jalan Naripan. Jalan Braga menjadi ramai karena banyak usahawan-usahawan terutama berkebangsaan Belanda mendirikan toko-toko, bar dan tempat hiburan di kawasan itu seperti toko Onderling Belang. Kemudian pada dasawarsa 1920-1930-an muncul toko-toko dan butik. 

Braga sekarang memang sudah jauh berubah walaupun tetap berpenampilan seperti Eropa. Hal ini terbukti ketika Warna Nusantara bertanya langsung kepada Mr. Andreas Schorth, wisatawan asal Belgia yang sedang berjalan-jalan di seputaran Braga. Walaupun berubah namun ada 2 tempat yang masih seperti dulu. Tempat itu adalah Braga Permai dan Toko Roti Sumber Hidangan.

Toko Roti Sumber Hidangan pertama kali beroperasi tahun 1929 dengan nama awalnya Het Snoephuis. Tidak banyak yang dapat kami gali informasi dari sini selain tahun dan nama awalnya. Nama-nama roti yang dijual memakai nama Belanda dan memang dari sejak pendiriannya jenis-jenis roti ini yang dijual di sana. Demikian yang diutarakan oleh Ibu Erna, kasir yang sudah bekerja di Toko Roti Sumber Hidangan selama 54 tahun. Nama-nama roti seperti bokkepoot, doubllet, kretenbrood, suiker hageslag dan masih banyak lagi. Perbedaan roti ini dengan roti-roti lainnya adalah tidak dipergunakannya bahan pengawet ujar Bu Kusmiati, karyawan yang sudah mengabdi selama 50 tahun. Jangan aneh jika kami sebutkan lama waktu pengabdian mereka karena dapat kita bayangkan pekerja termuda di sana saja sudah bekerja selama 20 tahun. Sisa peninggalan dari toko ini adalah mesin hitung yang sudah ada sedari pertama toko ini buka. Mesin ini masih bisa dioperasikan dengan baik hanya saja nominal angkanya yang hanya sampai angka 1.000. Entah bagaimana kelanjutan dari Toko Roti ini jika sudah ditinggalkan oleh Tante pemilik sekaligus pembuatnya langsung yang sudah berusia 85 tahun.

Jalan Braga yang penuh dengan catatan sejarah peninggalan kolonial masih tetap meninggalkan sepenggal sejarahnya lewat Toko Roti Sumber Hidangan. Hiruk pikuknya kota yang sudah tergerus zaman akan selalu diingatkan akan sejarah keberadaannya lewat tempat ini. Semoga tetap seperti itu, Braga.

Bahan tulisan lain : www.sejarahbandung-danny.blogspot.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *