Seniman yang Berkarier di Dapur
Januari 26, 2016
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Seniman yang Berkarier di Dapur

“Memasak itu harus happy apapun kondisinya karena itu yang akan sampai ke pelanggan kita.” – Chef Hanafi Zulfan, Executive Chef Sugar & Cream, Maja House Bandung

Kesenian bukan hanya milik seni rupa, seni lukis dan seni musik saja. Salah satu yang sekarang sedang berkembang adalah food stylist, seni menata makanan. Berkembangnya salah satu bentuk dari kesenian ini tentu seiring dengan pesatnya industri kuliner. Walaupun tampak mudah ternyata menata makanan menjadi seperti enak dimakan dan menggugah selera ini ternyata sulit. Perlu orang yang memiliki pendidikn serta keahlian khusus untuk dapat mengerjakannya atau minimal orang yang tertarik pada dunia kuliner. Adalah Chef Hanafi Zulfan atau biasa dikenal dengan panggilan Chef Ivan salah satu darinya. Seniman yang berkarier di dapur.

Tidak seperti layaknya lulusan-lulusan akademi lainnya yang harus mencari-cari pekerjaan selepas lulus, Chef Ivan sudah memiliki pekerjaan walaupun masih kuliah. Berkat dorongan orang tua yang mendorongnya untuk memasuki salah sebuah Akademi Perhotelan mungkin salah satu sebabnya. Walaupun untuk awal merasa risih karena dunia perhotelan ini jauh dari bayangan sebelumnya yang ingin menjadi seniman. Hal ini juga karena keterbatasan dana dimana menjadi seniman harus punya extra uang untuk membeli peralatan melukis.

Keresahannya tak berlangsung lama setelah mengenal dunia dapur. Merasa asyik dengan dunia barunya ini walaupun dulu suka juga memasak kalau sedang mendaki gunung. Ternyata dunia memasak tidak jauh berbeda dengan dunia seniman yang Chef Ivan impikan. Yang membedakan hanya medianya saja, jika melukis menggunakan kanvas maka memasak medianya tentu makanan. Dalam makanan ada pula kombinasi warna dimana satu bumbu atau rempah jika dipergunakan akan menghasilkan warna tertentu, selain itu tentu saja seni menata makanan yang lebih menantang. Dalam seni ini seseorang harus peka dengan bahan yang digunakan serta apa yang ingin ditonjolkan. Lewat seni ini pula orang akan tertarik memakan makanan tersebut walau hanya melihatnya saja.

Tentu selain itu rasa dari masakannya adalah yang utama. Menurutnya, “memasak itu harus happy, apapun kondisinya, karena itu yang akan sampai ke pelanggan kita.” “Kalau hati tidak sedang baik maka makanan yang dihasilkan akan tidak baik pula, oleh karena itu pekerjaan ini harus dijiwai,” sambungnya. Oleh karena itu apapun jenis masakan, dari yang berat hingga ringan, mau yang modern atau western hingga tradisional dengan senang hati akan dibuatnya. Tidak merasa kesulitan walaupun masakan tradisional nusantara lebih banyak bermain di bumbu dan rempah karena alasan tadi, menjiwai pekerjaannya.

Hingga kini sudah selama 16 tahun waktunya dihabiskan di dunia seni barunya. Setengahnya dengan berkarya di dapur Sugar & Cream Restaurant, Maja House Bandung. Menurutnya bekerja di Kota Bandung sangat cocok dalam memunculkan kreatifitas, dimana di kota ini banyak chef-chef yang inovatif. Hal ini yang menumbuhkan persaingan positif di dunia kuliner Bandung dimana mereka berlomba-lomba untuk menciptakan makanan terbaik. Kita sebagai pecinta kuliner Bandung diuntungkan pula dengan hal ini tentunya chef. 

 

 

 

 

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *