Agustus 6, 2014
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Sejarah Panjang Warung Nasi Bu Eha

“Selalu bersyukur, lagi ramai tersenyum dan mengucap alhamdulillah sepi juga harus tetap senang dan mengucap alhamdulillah.” – Bu Eha, Pemilik Warung Nasi Eha

Sejarah perjuangan Bangsa Indonesia jika kita rentangkan akan sangat panjang. Dimulai dari penjajahan kaum kolonial, pendudukan Jepang, proklamasi kemerdekaan, masa pendudukan kembali Belanda atau biasa kita kenal dengan Agresi Militer I & II dan akhirnya mendapatkan kedaulatan penuh, semua seolah terangkum di Warung Nasi Bu Eha.

Warung Nasi Bu Eha sudah menempati Pasar Cihapit Bandung selama 67 tahun. Tetap tampil apa adanya, menyajikan masakan sunda bagi pelanggan yang sudah bertahun-tahun dan turun-temurun setia berkunjung. Seperti contohnya Bu Tuti Sriwati yang kami temui sedang berbelanja kesana. Beliau sudah berlengganan sedari tahun 1963. Bahkan makanan dari sini terutama gepuk dan perkedel yang menjadi favorit di sana sudah sampai ke Singapura, Hong Kong, Belanda hingga ke Swiss. Makanan Warung Nasi Bu Eha ini bisa sampai ke sana lewat lengganan-lengganannya yang tinggal menetap di sana yang datang berkunjung ke Bandung dan merasa wajib untuk membawa pulang masakan Bu Eha.

Pelanggan Warung Nasi ini dulunya kebanyakan adalah mahasiswa-mahasiswa yang tinggal ngekos di Bandung salah satunya Guntur Soekarno Putra, putra proklamator kita. Bahkan lengganannya ini ada yang sudah menjadi Hakim dan Jaksa Agung. “Dulu Ibu yang selalu ingatkan mereka agar segera lulus kuliah,” ujar Bu Eha. Masakannya hingga kini sudah menjelajah Sabang sampai Merauke. Dulu mereka ini mengaku suka curang kalau membayar, ngakunya satu padahal ambil dua, sebagai balas budinya, mereka tak lupa selalu membawa oleh-oleh jika datang ke Bandung. Pada jamannya dulu Ibu Hartini Soekarno merupakan pelanggan setianya dan pada jaman sekarang ini Wakil Walikota Bandung hingga Gubernur Jawa Barat mau masuk ke dalam Pasar Cihapit untuk sekedar makan di Warung Nasi Bu Eha.

Warung ini tak lepas dari rentang sejarah bangsa ini. Di tahun 1947 warung nasi ini harus berhenti beroperasi karena pemiliknya harus ikut hijrah bersama Pasukan Siliwangi atau kita kenal dengan istilah Long March Siliwangi. Bu Eha adalah generasi ke dua dari warung nasi ini. Beliau adalah penerus dari Bu Enok, Ibu kandungnya. Bu Eha melanjutkan Warung Nasi ini sedari tahun 1964. Beliau mendapatkan semua ilmu memasaknya dari sang ibu yang dulu bekerja sebagai koki pada jaman kolonial. Hanya saja ilmu yang beliau pelajari hanya masakan tradisionalnya saja tanpa mempelajari masakan Eropa, spesialisasi Ibunya. Untuk kelanjutan dari Warung Eha ini beliau tidak merasa khawatir karena anaknya yang tertua siap untuk menggantikan perannya.

Usianya sekarang 84 tahun namun masih gesit melayani pelanggan bahkan sangat akurat dalam hal hitung-menghitung. Rahasianya adalah selalu bangun dan mandi jam 03.30 pagi dan yang terpenting adalah kepercayaan akan Allah S.W.T sebagai pemilik dan penjaga kita. Sangat mencintai dunia pasar karena sebelum Pasar Cihapit dipugar, beliau tinggal menginap di warungnya. Hal itu beliau jalani selama 32 tahun. Mengasuh dan mengayomi pegawai-pegawainya yang sudah turun-temurun ikut bekerja dengannya. Selalu menghargai para pelanggan dan memperlakukannya seperti raja, hal ini tercermin dari panggilan “aden” kepada pelanggan-pelanggan yang datang.

Warung Nasi Eha sudah beroperasi selama 67 tahun. Sudah selama itu pula mengikuti rentang sejarah yang panjang bangsa ini. Setia dengan keramahan dan masakannya hingga rentang sejarah baru berikutnya.

 

 

 

 

 

 

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *