Januari 12, 2014
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Rijsttafel Terpanjang di Dunia

Rijsttafel (Bahasa Inggris : “Rice Table”) adalah penyajian beragam masakan dari beberapa Kepulauan Indonesia pada jaman kolonial, penyajian makanan ini sampai sekarang masih populer di Belanda. Namun jangan keliru, walaupun berakar pada Indonesia tetapi bisa berbeda dengan makanan Indonesia yang sekarang dimana makanan ini berasal dari periode waktu penjajahan Belanda atas indonesia (1602 – 1942), ketika VOC berdagang di wilayah yang disebut “pulau rempah.” Pada masa itulah rijsttafel ditemukan. Dalam rangka memperkenalkan hidangan dari pulau Jawa, Bali, Sumatera dan pulau lainnya dalam acara jamuan makan bagi tamu-tamunya, kaum kolonial menyajikan hidangan tersebut diatas meja yang besar. Peninggalan tradisi ini masih tampak di Indonesia seperti contohnya jamuan perasmanan dan penyajian nasi padang. Kaum kolonialis dan ekspatriat kemudian memperkenalkan rijsttafel ini ke negerinya Belanda. Dalam suatu kesempatan, kontributor kami dari Belanda, Detty Janssen mencoba menyajikan reportsenya mengenai sebuah acara di sana, Rijsttafel Terpanjang di Dunia. Berikut sajiannya :

Tahukah anda pada tanggal 12 Juli 2013 merupakan suatu hari bersejarah di Belanda khususnya di kota Ede karena pada tanggal ini sebuah rekor dunia dipecahkan untuk penyajian makanan Indonesia terpanjang di dunia?

Judul dari perayaan acara ini adalah De Langste Rijsttafel van de Wereld! (http://www.langsterijsttafel.nl). Kata rijsttafel mungkin terdengar asing di telinga kita tetapi tidak demikian halnya di Belanda. Rijsfttafel artinya perjamuan makanan, Rijst yang berarti nasi dan tafel berarti meja. Rijsttafel merupakan penyajian makanan yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dengan menu utama yang disajikan adalah nasi.

Acara ini merupakan gagasan dari Child Support Indonesia Foundation, Gerritsen Event Organisator dan juru masak terkenal Lonny Gerungan. Tujuan dari diadakannya kegiatan ini tidak hanya untuk memecahkan rekor dunia tetapi juga untuk mengumpulkan dana bagi masyarakat miskin yang kurang mampu di Indonesia, khususnya anak-anak.

Child Support Indonesia Foundation (http://www.childsupportindonesia.nl) adalah sebuah yayasan Belanda yang telah aktif di Indonesia selama lebih dari 25 tahun. Dr. Jan van den Berg adalah pendiri dari yayasan ini. Yayasan ini sekarang diketuai oleh  Annemarie Rulos  yang merupakan putri dari Dr. Jan van den Berg.

Selama bertahun-tahun yayasan ini telah banyak membangun untuk Indonesia, seperti membangun desa untuk laut nomaden, membangun rumah sakit,  membantu para penderita HIV/AIDS,  membangun rumah singgah dan memberikan bimbingan bagi anak jalanan termasuk bimbingan dan pendidikan untuk kondisi hidup yang lebih baik bagi anak-anak di penjara, membangun fasilitas bagi perempuan muda yang putus sekolah, mendirikan perpustakaan gratis dan program beasiswa untuk anak sekolah termasuk 1.000 anak-anak di Pulau Batam dan daerah Klaten.

Lonny Gerungan adalah seorang juru masak terkenal di Belanda. Lahir di Denpasar, Bali pada usia 21 tahun ia pindah ke Negara Belanda. Lonny juga adalah seorang penulis berbagai buku memasak dan memiliki sejumlah acara di televisi Belanda tentang masakan Indonesia dan masakan Asia. Disamping itu Lonny Gerungan juga merupakan seorang penyanyi dan entertainer di negara tempat bermukimnya sekarang.

Rencana untuk menyelenggarakan acara besar ini dimulai sekitar dua tahun yang lalu dimana acara ini sendiri adalah salah satu mimpi Lonny untuk membuat satu rekor dunia yang melibatkan hal yang paling ia cintai yaitu makanan dan masakan Indonesia. Sebagai duta dari yayasan ini maka Child Support Indonesia Foundation pun bergabung untuk membantu mimpi Lonny menjadi kenyataan. Disamping itu yayasan ini juga ingin mengajak semua orang untuk meningkatkan kesadaran dalam membantu sesama dan menggalang dana untuk disalurkan bagi anak-anak  yang kurang mampu di Indonesia.

Keseriusan persiapan acara ini dimulai sekitar setahun yang lalu, sejumlah pertemuan dilakukan dari membahas lokasi yang dipilih, jumlah peserta, panjang meja, pencarian sponsor, pengajuan ijin yang diperlukan, memilih menu, pengaturan dan tata letak meja, bagaimana pengaturan dapur, menetapkan tanggal, hiburan dan lain sebagainya.

Pada bulan Maret 2013 persiapan acara telah sampai pada puncaknya dan para pelaku acara ini telah siap dengan segala resikonya. Tanggal yang dipilih adalah 12 Juli 2013 dimana acara ini akan diselenggarakan disebuah tempat terbuka di kota Ede tempat lahirnya yayasan ini. Di bulan Mei 2013 sebanyak 900 meja yang ditawarkan telah terjual habis dengan harga yang ditawarkan 250 euro dan 500 euro untuk satu buah meja. Antusiasme masyarakat yang begitu besar untuk dapat ikut berpartisipasi membuat panitia memutuskan untuk menambah 300 penjualan meja lagi sehingga totalnya menjadi 1.200 meja peserta dengan panjang meja keseluruhan 380 meter. Dalam waktu singkat tambahan 300 mejapun terjual habis. Walaupun demikian persiapan masih jauh dari selesai, untuk menyediakan makanan dan mengatur kursi bagi 1.200 orang di daerah terbuka tanpa fasilitas khusus adalah tantangan besar. Beruntungnya para sponsor telah siap membantu. Sponsor utama dari acara ini adalah Kedutaan Besar Republik Indonesia di Belanda.

Seminggu sebelum dimulainya acara ini, panitia mulai mempersiapkan 9 hidangan yang akan disajikan kepada 1.200 tamu dan 100-an lebih relawan. Sekelompok juru masak sukarela dan para relawan berkumpul bersama di lapangan. Dengan menempatkan berbagai macam peralatan khusus (termasauk generator yang besar, oven uap khusus dan truk pendingin besar) sebuah dapur diluar ruangan besar pun diciptakan agar makanan dapat disiapkan dan dimasak secara higienis dengan kondisi yang terkendali.

Memasak untuk 1.300 orang peserta dan relawan tentu saja membutuhkan banyak bahan masakan. Banyaknya bahan dan persiapan termasuk memasak dan mengupas lebih dari 1.800 telur, memotong dan mengiris lebih dari 200kg sayuran, menyiapkan 1.500 potong ayam, memotong daging dan menyiapkan lebih dari 3.000 batang sate dan lain sebagainya bukanlah hal yang mudah. Namun berkat kerjasama sekelompok besar relawan dan juru masak sukarela semua persiapan berjalan lancar dan semua makanan disajikan tepat pada waktunya sesuai dengan standar yang berlaku di Belanda.

Akhirnya acara pun tiba. Sebuah lahan terbuka ditengah kota Ede berubah menjadi satu restoran besar, dengan 100 tenda, masing-masing berukuran panjang 4 meter dengan tempat duduk 12 peserta.  Meja diatur dan ditata rapi dengan penggunaan piring rotan tradisional dari Indonesia sebagai peralatan makannya. Sebuah podium besar dibuat untuk para pengisi acara, band dan para artis yang akan menghibur. Sebuah dapur yang besar pun dibangun untuk mempersiapkan dan memanaskan makanan bagi peserta. Lebih dari seratus orang relawan bekerjasama untuk mensukseskan acara ini dan berkat kerja kerasnya acara pun dapat dilaksanakan tepat waktu.

Menjelang malam,  Ibu H.E Retno Marsudi, selaku Duta Besar Republik Indonesia untuk Belanda memberikan kata sambutan. Tidak ketinggalan Bapak C. van der Knaap, selaku walikota dari kota Ede dan perwakilan dari Child Support Indonesia Foundation dalam pidatonya memberikan penjelasan mengapa acara ini diselenggarakan terutama penjelasan mengenai dana yang terkumpul akan dipergunakan untuk membantu masyarakat kurang mampu yang ada di Indonesia. Lonny Gerungan tak ketinggalan memberikan informasi mengenai makanan yang disajikan.

Makanan yang disajikan dalam acara De Langste Rijsttafel van de Wereld ini adalah Sate Babi, Sambal Goreng Boontjes, Ayam Boemboe Bali, Sambal Goreng Telor, Baby Ketjap, Sambal Goreng Tempe, Rendang, Seroendeng, Atjar Ketimun, dan tentu tak lupa disajikan pula krupoek dan sambal yang pedas sebagai pelengkapnya.

Disini para tamu dapat memilih makanan yang mereka inginkan sesuai selera dan bagi para vegetarian pun tidak perlu kuatir karena mereka dapat memilih menu yang tidak mengandung unsur daging.  Dikarenakan ini adalah suatu event, bagi peserta tamu yang mempunyai alergi atau sedang melakukan program diet tidak dapat mengikuti acara ini.

Selama acara berlangsung berbagai pertunjukan dipentaskan dari penyanyi Justine Pelmelay seorang penyanyi Belanda keturunan Indonesia, Antje Mointero penyanyi Belanda sampai pertunjukan gabungan para musisi dari kota Ede yaitu Edes Muzikanten Collectief (EMZ). Tak ketinggalan Lonny pun menyumbangkan suaranya untuk menyanyikan beberapa buah lagu.

Ketika acara makan berlangsung, perwakilan dari rekor dunia mengukur panjangnya meja. Total panjang meja 366.06 meter dan berhasil memecahkan rekor dunia. Sebuah acara yang berjalan baik dengan persiapan yang cukup matang. Tanggapan yang positif dan juga antusiasme yang luar biasa berhasil menarik minat beberapa media baik cetak maupun elektronik untuk datang meliput. Acara ini disiarkan oleh media dari dan luar Belanda seperti Telegraaf, De Gelderlander dan lain sebagainya.

Walaupun beberapa peserta mengatakan bahwa makanan yang disajikan sangat pedas namun tidak mengurangi nilai dari acara ini, tidak hanya dengan 1.200 peserta yang hadir tetapi juga berhasil memecahkan rekor dunia dan tak ketinggalan terkumpulnya 14.000 euro yang dapat disumbangkan untuk mendukung pendidikan anak-anak di Indonesia.

 

Detty Janssen melaporkan dari Belanda.

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *