Rempah Peninggalan Kolonial
Oktober 2, 2015
Warna Nusantara (336 articles)
0 comments
Share

Rempah Peninggalan Kolonial

“Deungkleung dengdek, buah kopi raranggeuyan. Ingkeun anu dewek ulah pati diheureuyan.” – Lagu Rakyat Priangan 

Lagu yang entah kapan diciptakan namun yang jelas sudah ada sejak dulu, menggambarkan kopi yang berangkai-rangkai diatas pohonnya. Dari lagu ini pula bisa tergambar bahwa pada masa lalu tanaman atau lebih luas lagi perkebunan kopi sudah ada di tatar sunda ini. Walaupun demikian, ternyata biji kopi ini bukan berasal asli dari tatar yang subur tadi melainkan rempah peninggalan kolonial.

Perang Jawa yang panjang mengakibatkan kerugian finansial yang tidak sedikit bagi Belanda adalah salah satu alasan diadakannya cultuurstelsel atau tanam paksa di Nusantara. Salah satu tanaman yang diwajibkan untuk ditanam adalah kopi. Menurut catatan Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jendral Hindia Belanda ketika Inggris berkuasa 1811 – 1816, “tanaman kopi yang dibawa ke Jawa oleh pemerintah kolonial sekitar abad ke -18, menjadi salah satu tanaman yang dimonopoli oleh Pemerintah Belanda. Mulai dari penanaman, perawatan, sampai pengangkutan hasil ke gudang pemerintah dilakukan oleh penduduk atas paksaan dan tekanan serta berbagai tindak kekerasan lain oleh para mandor yang diupah pemerintah. Sebelum tahun 1808, perkebunan kopi hanya di Distrik Sunda. Hanya ada beberapa kebun di wilayah timur, dengan produksi tidak mencapai sepersepuluh bagian yang ada. Namun, di bawah pemerintahan Marshal Daendels, tanaman ini tumbuh di berbagai lahan dan semua perkebunan hanya pada kopi terkecuali, dan akhirnya hampir seluruh propinsi di Jawa dipenuhi kebun kopi.” (Thomas Stamford Raffles, The History of Java, Hal. 82)

Catatan diatas sedikitnya memberikan gambaran tentang asal muasal kopi di nusantara walaupun demikian sebetulnya tanaman kopi ini berasal dari Benua Afrika tepatnya Etiophia. Penemuan yang sebetulnya tidak disengaja oleh seorang penggembala kambing bernama Khalid dari Abyssinia, yang mengamati gembalaannya yang tetap terjaga hingga malam hari setelah memakan buah sejenis berry hingga akhirnya dia mencoba memasak dan memakannya. Hal ini kemudian berkembang hingga ke negara-negara lain di Afrika hingga beberapa ratus tahun kemudian menyeberang ke Jazirah Arab. Di Benua ini dimulai penyajian kopi dengan cara direbus dan diambil sarinya. Minuman yang bisa membuat peminumnya terjaga dimalam hari serasa pas dengan Umat Muslim di Arab yang terbiasa terjaga untuk beribadah malam. Hingga akhirnya kopi semakin populer ke Afrika Utara, Mediterania dan India, seiring dengan penyebaran Islam ke daerah tersebut. Dikarenakan Bangsa Arab mengimpor biji kopi yang sudah dikeringkan sehingga tidak memungkinkan untuk dapat dibudidayakan hingga pada sekitar tahun 1600-an seorang peziarah India bernama Baba Budan berhasil membawa biji kopi yang masih segar keluar dari Mekah serta berhasil membudidayakannya. Biji Kopi ini berhasil merambah ke Eropa di sekitaran tahun 1615 setelah dibawa oleh seorang Saudagar Venesia yang mendapatkannya dari Turki. Waktu terus berjalan permintaan kopi di Eropa semakin meningkat, walaupun sebagian besar negara-negara di benua ini sudah membudidayakannya namun tetap tidak mampu memenuhi kebutuhan pasar. Belanda adalah salah satu negara pertama di Eropa yang berhasil membudidayakan kopi di tahun 1616. Dan pada tahun 1690 biji kopi ini dibawa ke Pulau Jawa untuk diekploitasi secara besar-besaran.

Alasan kenapa dipilih Pulau Jawa sebagai tempat menanam kopi karena selain sebagai tanah jajahan Belanda juga karena geografisnya yang sangat menunjang untuk menanam tumbuhan ini. Kita lihat kembali catatan dari Raffles berikut: “Tanah hitam yang bercampur pasir merupakan tanah yang paling ideal untuk tanaman kopi. Pemilihan kebun kopi harus mempertimbangkan tempat yang ideal, dimana ketinggiannya harus tepat, tidak terlalu banyak mendapat sinar matahari dan juga tidak terlalu banyak terkena hujan yang bisa menghanyutkan tanah yang subur. Tempat terbaik adalah lembah dan di kaki gunung, atau lereng perbukitan yang rendah, dan di dataran dekat gunung berapi. Semakin tinggi kebun ini terletak, semakin lama periode yang dibutuhkan untuk panen, namun akan menghasilkan biji kopi yang lebih baik.” (Thomas Stamford Raffles, The History of Java, Hal. 82). Dari penggambaran Raffles ini sangat jelas geografis Pulau Jawa yang cocok untuk menanam tumbuhan kopi dimana di pulau ini sudah tersedia lembah, bukit hingga gunung berapi.

Salah satu peninggalan perkebunan kopi di Kota Bandung adalah bekas gudang kopi (koffie Pakhuis) milik Dr. Andries de Wilde, seorang tuan tanah asal Belanda. Bangunan ini sekarang masih kokoh berdiri dan berubah fungsi menjadi kantor Walikota Bandung. Seiring berjalannya waktu memang tanaman kopi kalah pamornya oleh teh di pasaran Eropa. Karena ini pula perkebunan-perkebunan di nusantara terutama di periangan banyak yang berubah fungsi menjadi perkebunan teh. Walaupun demikian masih ada beberapa perkebunan kopi yang bertahan bahkan hingga saat ini.

Walaupun kopi pada awalnya ditanam secara paksa di nusantara namun sisi positif yang dapat kita ambil adalah nenek moyang kita akhirnya dapat membudidayakannya dan secara turun temurun menularkan kemampuannya itu hingga sekarang. Bahkan hingga sekarang pula para pecinta kopi di seluruh dunia masih dapat menikmatinya.

Sumber Tulisan :

  • Thomas Stamford Raffles, History of Java, Narasi, 2008
  • Haryoto Kunto, Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, Granesia, 2008
  • Wikipedia

 

 

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *