November 27, 2015
Warna Nusantara (335 articles)
0 comments
Share

Reformasi Kuliner Nusantara ala Chef Steby Rafael

“Yakin dengan dukungan dari pemerintah kuliner nusantara yang otentik bakalan ada juga sampai ke luar negeri.” – Chef Steby Rafael

Baru-baru ini negeri yang kaya kulinernya ini kembali dihebohkan dengan klaim bangsa lain pada salah satu makanan tradisionalnya. Seperti biasanya ramai-ramai kita menghardik sang pencaplok. Walaupun sebetulnya terlambat. Ya, memang selalu terlambat. Sepertinya kita sudah lupa bahkan sengaja melupakan ajaran para guru bangsa untuk selalu bisa mencegah daripada memperbaiki. Padahal tanpa kita sadari bahwa pangan itu sangatlah penting bahkan dari ini pula identitas jatidiri bangsa bisa berdiri. Karena kepentingan inilah maka diperlukan perbaikan yang signifikan. Setidaknya seperti yang kita obrolkan dengan Chef Steby Rafael, perlu reformasi. Reformasi kuliner nusantara ala Chef Steby Rafael.

Chef Steby Rafael bisa kita sebut sebagai idola baru dunia kuliner nusantara. Wajahnya yang enak dipandang serta kepribadiannya yang bersahabat bisa kita kenali lewat program memasak yang disiarkan oleh salah satu TV Nasional, Food & Fashion. Perkenalan awal dengan dunia kuliner diawali dengan ketidaksengajaan, setamat SMA ditawari bekerja disebuah restoran oleh temannya. Merasa bersyukur mengawali karier dari cook helper hingga menjadi cook selama 2 tahun karena dari sini semua proses memasak dari mulai menyiapkan bahan, memasak hingga menyajikannya, didapat. Selanjutnya melanjutan sekolah ke Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (STPB) semakin menambah keilmuan management kulinernya dalam menunjang karieir bekerja di hotel hingga membuka usaha katering dan Rumah Makan Padang serta menjadi Host acara kuliner.

Lebih banyak mendapatkan keilmuan memasak makanan Western, Perancis, Mediterania namun sebagai anak bangsa lama-kelamaan muncul keinginan membangkitkan budaya nusantara melalui kulinernya. Berntungnya lagi usaha katering yang dijalaninya membantu mewujudkan hasratnya karena melalui usahanya ini banyak makanan nusantara yang dia buat. Pengalaman dari teman-temannya yang memiliki resto dan cafe hingga coffee shop dengan menu-menu Eropa yang keren tapi setelah dilihat dari omzetnya jauh dengan yang didapat oleh usaha katering yang dijalani Chef Steby Rafael. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan bahan lokal yang notabene jauh lebih murah. Penggunaan bahan lokal ini bukan hanya menguntungkan kateringnya tapi mendapatkan berkah tersendiri dari keuntungan yang didapat oleh para petani.

Bahan-bahan lokal dengan harga murah inipun akan sangat membantu para pengusaha kuliner lokal yang membuka usaha di luar negeri. Seperti kita tahu untuk menghasilkan makanan nusantara yang otentik maka diperlukan pula bahan-bahan atau rempahnya yang otentik pula. Para pelaku kuliner lokal yang membuka usahanya diluar negeri ini harus kita dukung kiprahnya karena lewat mereka ini kuliner nusantara dapat dikenal hingga mancanegara. Namun itulah yang menjadi kendalanya, mereka banyak menyajikan makanan nusantara namun hilang keotentikannya karena kebanyakan dari mereka membuat makanan yang rasanya mengikuti selera disana. Hal ini bisa dimaklumi karena mereka tidak memiliki backup modal serta mahalnya bahan-bahan lokal yang harus didatangkan karena tingginya pajak yang diberlakukan oleh Pemerintah. Pemerintah sebagai pemilik otoritas tentu harus turun membantu. Bantuan yang paling mungkin adalah membantu permodalan usaha dan tentu saja menurunkan pajak impor bahan-bahan makanan lokal khusus untuk para pengusaha kuliner tadi.

Menurutnya masih banyak makanan tradisional nusantara yang tidak diketahui oleh kita sendiri. Kebanyakan orang berbicara masakan nasional itu ya kebanyakan makanan dari Jawa padahal daerah lain banyak pula yang punya makanan khasnya yang secara kualitas bisa dijual. Padahal makanan-makanan ini bisa mempertebal karakteristik kuliner nusantara. Persepsi masyarakat tentang kuliner pun harus dirubah, bagaimanapun juga lidahnya orang Indonesia tidak ada di lidahnya mereka, cita rasa kita berbeda dengan yang lain.  Nusantara ini kaya akan rempah-rempah dan bumbu-bumbu yang kebanyakan negara lain tidak punya. Persepsi inipun berlaku bagi para pengusaha kuliner dan perhotelan yang lebih merasa prestisius mempekerjakan chef dari luar negeri. Hal ini pula yang menyebabkan chef-chef lokal tidak belajar memasak makanan nusantara lebih belajar memasak makanan luar bawaan si chef. Sebenarnya kualitas chef kita tidak kalah dibandingkan mereka bahkan bisa lebih baik hanya kadang-kadang image yang diciptakan oleh sebuah resto atau hotel yang menggunakan chef asing   lebih keren. Kita memang harus merubah perspektif ini kepada konsumen. Karena itu kita harus membuat terobosan baru.

Indonesia memiliki banyak fotografer dan videografer yang kelasnya tidak kalah dengan dari luar negeri, menurut Chef Steby Rafael sudah menjadi tugas mereka untuk memperbanyak foto dan video tentang kuliner nusantara. Dibantu oleh kemudahan akses dari media sosial untuk memperkenalkan lebih jauh lagi tentang kuliner nusantara. Dunia luar bisa melihat secara langsung perkembangan kuliner kita.

Program wajib belajar yang dicanangkan pemerintah sepertinya kurang optimal tanpa memperhatikan makanan yang dikonsumsi oleh para siswanya. Bagaimana bisa menyerap pelajaran sedangkan makanan yang mereka konsumsi di rumah kurang asupan gizinya. Jadi semuanya harus mulai dari pangan. Reformasi pangan yang harus kita betulkan. Selanjutnya tentu saja reformasi kuliner nusantara. “Yakin dengan dukungan dari pemerintah kuliner Nusantara yang otentik bakalan ada juga sampai ke luar negeri. Karena lidah Indonesia tidak ada dilidahnya mereka, cita rasa kita berbeda dengan yang lain. Itu yang menjadi mdal kita untuk membuat sesuatu yang baru bagi dunia ini,” ujar Chef Steby Rafael menutup perbincangan. Setuju sekali chef.

 

 

 

 

 

 

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *