Rasa Lama Namun Terus Bersemi
Desember 14, 2015
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Rasa Lama Namun Terus Bersemi

“Don’t come to Bandoeng, If you left a Wife at home!” – Mooi Bandoeng, Juli 1937

Ungkapan yang muncul pada jaman keemasan Kota Bandung antara abad ke-19 hingga masa sebelum perang. Berbicara dalam angka, jumlah wisatawan domestik dari wilayah Hindia Belanda tahun 1940 tercatat 5% dari seluruh penduduk di kepulauan ini. Dengan perhitungan yang sama, jumlah wisatawan dalam negeri selama tahun 1941 yang berkunjung ke Bandung dapat diharapkan sebanyak 200.000 orang turis domestik (“Almanak voor Bandoeng” – 1941). Yang berarti Kota Bandung bakal menyedot uang dari sektor pariwisata sebesar 5.000.000 gulden. Belum terhitung dari wisatawan mancanegara, tentu angka rekor itu akan lebih besar lagi.

Bisa dibayangkan, 200.000 orang wisatawan yang berkunjung ke kota ini, sedangkan penduduk Bandung pada waktu itu (1941) hanya 226.877 jiwa. Suatu prestasi yang patut dibanggakan. Kutipan dari Haryoto Kunto, Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, Granesia, 2008, Halaman 265 ini cukup menggambarkan bagaimana dari dulu memang Kota Bandung itu identik dengan pariwisatanya. Walaupun tentu objek dan tujuan wisatanya sudah jauh berbeda namun tetap saja ada yang mempertahankan rasa lama namun terus bersemi.

Tidak dapat dipungkiri bagi kita Warga Bandung, sangat merindukan suasana kota ini yang asri seperti tempo dulu. Bangunan-bangunan tuanya yang indah dan terjaga serta pohon-pohon dan taman bunganya yang asri. Selain beberapa bangunan yang masih kita nikmati seperti Hotel Savoy Homann, Vila Isola di Kampus Universitas Pendidikan Indonesia, Gedung Merdeka dan lain sebagainya. Salah satu yang tentu saja mempertahankannya adalah PT. Rasa.

PT. Rasa yang berlokasi di Jalan Tamblong, Bandung ini sejak dari dulu terkenal sebagai produsen yang menjual langsung produknya, roti. Kedai roti ini sudah berdiri di sana sedari tahun 1932. Adalah seorang Kees Hazes, seorang Warga Negara Belanda yang membuka kedai sekaligus produknya disana. Walau produk yang diproduksinya sedikit berbeda dimana dia memproduksi dan menjual coklat, hingga akhirnya pada sekitar tahun 1960-an kedai ini diambil alih oleh seorang pribumi dan berjalan hingga saat ini.

 

Memproduksi beragam kue-kuean dari mulai kue jaman kolonial dulu, jajanan pasar, es krim hingga minuman asli diproduksi sendiri kecuali air mineral. Resep-resep yang dikembangkan sendiri dari dulu hingga generasi ke-3 nya kini telah tersimpan di hati penggemarnya hingga kini. Tidak memakai bahan pengawet sehingga produknya kuat maksimal 3 hari. Yang menjadi favorit hingga kini adalah es krim. Es krim produksi PT. Rasa ini memiliki 10 rasa dengan topping yang berbeda-beda. Sebagai pelengkap kini dihadirkan pula makanan-makanan berat yang jadi favorit juga seperti Soto Laksa dan Nasi Goreng.

Disamping makanan yang dapat menggugah nostalgia, bangunan yang lama beserta isinya masih dipertahankan. Meja serta kursi yang biasa kita lihat di Film Eropa yang mengambil setting awal abad ke-19 ada disini. Sebagai tambahan nostalgia peralatan yang dipergunakan untuk membuat kue dari jaman Meneer Kees Hazes hingga awal-awal berdirinya PT. Rasa ada di sini.

Dari awal abad ke-19 hingga kini Kota Bandung memang sudah menjadi magnet pariwisata di Nusantara. Sesuai dengan perubahan jaman berubah pula objek dan tujuan wisatanya. Mengutip tulisan dari buku yang sama, …sebenarnya lebih tepat kalau nasihat itu meniru pepatah lama yang mengatakan: “Lihat Kota Neples, baru boleh mati.” Jangan lupa, anda belum melihat Indonesia (Netherland Indies) kalau belum mengunjungi tanah Pasundan yang cantik molek. Kota Bandung akan menjadi pusat utama (the very Centre) dari kehidupan turisme di Indonesia – sebuah titik pertemuan para wisatawan dari Australia, Amerika, Belanda dan Inggris (Hal 264). Bandung memiliki daya pikat yang lar biasa dan mungkin saja banyak orang lupakan. Tidak ada salahnya jika kita ingin menarik banyak wisatawan luar negeri untuk datang kesini lebih baik kita kembali ke rasa yang lama. Rasa yang lama namun terus bersemi. Seperti PT. Rasa tentunya.

 

Liputan Fadly Shaputra, Kontributor Warna Nusantara

 

 

 

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *