Juni 2, 2014
Warna Nusantara (335 articles)
0 comments
Share

Puyuh dan Sarangnya di Sangrai

Puyuh adalah sebangsa burung yang hanya bisa terbang dan berlari sama cepatnya dalam jarak pendek walaupun ada pula dalam spesies tertentu bisa terbang dengan jarak yang jauh, tubuhnya lebih gemuk dari biasa burung lainnya. Secara ilmiah Puyuh ini dapat dikategorikan sebagai berikut; Kelas : Aves, Ordo : Galiformes, Sub Ordo : Phasianoidae, Famili : Phasianidae, Sub Famili : Phasianinae, Genus : Coturnix, Species : Coturnix. Puyuh mengkonsumsi biji-bijian dan serangga untuk makanannya. Dikarenakan hal tersebut mempengaruhi perkembangbiakan dan kandungan gizi pada daging dan telurnya. Kandungan proteinnya sangat tinggi menjadi sumber untuk mendapatkan niacin, vitamin B6, besi, fosfor, tembaga, dan selenium. Kandungan protein daging puyuh dalam prosentase 43% dari kandungan gizi lainya, jauh lebih tinggi dibandingkan daging ayam yang memiliki kandungan protein dalam prosentase sebesar 20%.

Bagi masyarakat Jawa Barat daging burung puyuh tidak seterkenal telurnya. Belum banyak yang tahu bahwa daging puyuh dapat dinikmati layaknya seperti daging ayam. Berbeda dengan masyarakat yang tinggal di daerah Jawa lainnya. Salah satu Rumah Makan yang mencoba memperkenalkan kelezatan daging burung puyuh di Jawa Barat terutama Bandung ini adalah Warung Sangrai. Dengan pilihan dua jenis puyuh – lokal dengan berat berkisar 120 gr dan Perancis berat sekitar 200 gr, anda jangan khawatir dengan ukurannya. 

Menu-menu seperti Puyuh Original, Puyuh Gocap (Goreng Kecap), Puyuh Crispy, Puyuh Rawit, Puyuh Cabe Garam dan Puyuh Patumpuk (Paket 4 ekor puyuh) dihasilkan dari eksplorasi resep Chef Ricky Atmadjaja – pengelola Warung Sangrai. Hasil eksperimennya selama dua bulan dengan ratusan puyuh ini menghasilkan hidangan daging puyuh yang luar biasa. Hidangan ini dalam beberapa bulan sudah menjadi unggulan bahkan menjadi trade mark Warung Sangrai. Sesuai dengan namanya, menggunakan teknik Sangrai dalam memasak hidangan-hidangannya, teknik dimana si makanan yang sudah digoreng kemudian dimasak lagi dengan bumbu-bumbu tanpa menggunakan minyak.Dengan teknik ini menjadikan makanan lebih bersih dan sehat. Teknik ini yang membuat si bumbu terasa meresap ke dalam makanan. Bagi warga yang biasanya penasaran akan rasa terutama pedas, silahkan coba Puyuh Rawit dijamin walaupun pedasnya terasa merekat tapi tidak akan berhenti sampai si puyuh lenyap dari pandangan. Sama halnya dengan si Puyuh yang pasti hidup tak jauh dari sarangnya demikian pula Puyuh di Warung Sangrai. Sarang yang dimaksud adalah lalaban, tempe dengan tahu yang dirangkai berbentuk mirip sarang burung, Puyuh ini tak lengkap disantap tanpa Sarang.

Warung Sangrai berlokasi di Jalan Riau, Bandung, tepatnya pintu masuk FO Haritage. Walaupun berdampingan dengan FO Haritage yang notabene orang akan datang untuk berbelanja pakaian namun dengan “Puyuhnya” ini Warung Sangrai ingin merubah pola pikir pengunjung yang tadinya “belanja ke FO terus makan” menjadi “makan dulu baru belanja ke FO.” Dengan konsep kembali ke suasana kampung dan harga yang terjangkau serta hidangan puyuh dan sarangnya menjadikan Warung Sangrai tempat  alternatif wisata kuliner nusantara.

 

Reference :

– www.nutriondata.com

– Teori Dasar Kuliner, Tuti Soenardi & Tim Yayasan Gizi Kuliner Jkt, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

 

 

 

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *