Penopang Pariwisata Purwakarta
Agustus 29, 2016
Warna Nusantara (336 articles)
0 comments
Share

Penopang Pariwisata Purwakarta

Hiruk-pikuk hari Sabtu lalu di Kota Purwakarta. Kota yang nampak lumayan jauh dari pantai namun suhunya seolah-olah kita ada dipinggirnya. Semalam baru saja dilangsungkan pawai budaya dari negara-negara sahabat adalah info yang kita terima. Untuk Sabtu ini (27 Agustus 2016) akan ada arak-arakan lainnnya, maklum saja memang dalam seminggu itu dilangsungkan bermacam acara budaya dalam rangka menyambut HUT Kota Purwakarta. Sesuai dengan apa yang digeber oleh Bupatinya, H. Dedi Mulyadi, memajukan Kota Purwakarta salah-satunya melalui Budaya. Tentu saja tanpa megurangi rasa hormat kepada para penopang pariwisata Purwakarta.

Tentu saja banyak faktor yang dapat dijadikan sebagai penopang dari pariwisata, salah satunya kita sebut saja kuliner. Kenapa demikian, karena sang pemuas perut ini bukan hanya diperlukan dan menjadi alasan hidup orang setiap hari saja, namun melalui kuliner kenangan seseorang akan daerah tersebut akan muncul. Bahkan tak jarang yang datang untuk menghadiri rangkaian acara pariwisata hanya untuk mencarai makanan khasnya saja.

Kebetulan Sabtu itu berkesempatan berkunjung ke Purwakarta, setelah mendapatkan informasi mengenai makanan khas Purwakarta, Sate Maranggi, kami akhirnya sampai kesebuah Kedai nya yang lumayan terkenal di sana. Sate Maranggi Ajiiiib demikian nama itu dikenal. Lucunya kata “Ajiiiib” disini kami kira berkonotasi dengan kata asyik, nikmat atau mantap ternyata kata tersebut adalah kependekan dari nama sang pendiri sekaligus pengelola, Bapak Najib.

Sesuai namanya Bapak Najib memang seorang peranakan Arab. Jatuh bangun dia membangun usaha ini, sedari tahun 1986 hingga kini akhirnya usahanya bisa disebut mapan bahkan lebih dari itu. Menarik kenangan dahulu, Bapak Najib yang seorang pegawai sangat berhasrat untuk memiliki usaha sendiri, setelah memiliki ilmu untuk mengolah daging menjadi sate dari gurunya Mang Mus yang hingga kini tidak pernah berkesempatan berjumpa lagi, dibantu sedikit uang pesangon dari perusahaannya maka mulailah usaha satenya. Kenapa sate karena hampir setiap malam dia didatangi oleh kambing yang dipercayainya sebgai pertanda baik. Terus mendapatkan kegagalan di sembilan tahun pertamanya berjualan, berkat tekad usahanya berkembang terus.

Masih menempati kedai di seberang Masjid Agung Purwakarta hingga kini, dari kaki lima, hingga memiliki tempat kecil berkembang ke tempat yang lebih permanen, selalu ramai dipadati pengunjung. Tak kurang dari 40 hingga 50 kg daging sapi dan kambing habis terjual, bahkan dihari raya bisa menembus angka 100 kg. Seperti disampaikan oleh Asep, sang putra Bapak Najib, pengolahan daging menjadi kuncinya. Daging tersebut tidak berbau amis sehabis dipotong dan empuk ketika disantap. Kuncinya adalah penggunaan buah pepaya pada saat mengolah daging potongan, hingga kini hanya Pak Najib saja yang mengetahui takarannnya karena kalau kebanyakan maka si daging menjadi kelembekan. Untuk daging yang empuk dan enak diggunakan teknik marinasi selama 7 jam. Ini yang membedakan Sate Maranggi dengan sate-sate lain kebanyakan, biasanya sate maranggi sudah dimarinasi terlebih dahulu sedangkan sate lainnya dibumbui setelah dibakar terlebih dahulu.

Awalnya sendiri Sate Maranggi ini adalah jenis sate yang diciptakan oleh seorang bernama Mak Anggi di daerah Plered, Purwakarta, tersebar meluas hingga ke daerah lainnya dan menjadi ciri khas kuliner Purwakarta, bahkan masuk ke dalam 30 Ikon Kuliner Nusantara. Selain karena faktor kecil pawai budaya memperingati HUT Kota Purwakarta, bagi saya pribadi nikmatnya sate maranggi adalah alasan terkuat untuk kembali ke kota ini. Sebagai seorang penggerak pariwisata handal Bupati Purwakarta, H. Dedi Mulyadi sangat mengerti akan hal ini, salahsatu cara untuk menguatkan faktor ini adalah dengan memperbanyak kedai sate maranggi. Salah satu cara kongkritnya adalah dengan tidak menggusur Kedai Sate Maranggi Ajiiiiib yang tadinya berada di tepian jalan namun membiarkannya tetap berjualan dengan memberinya tempat yang lebih memadai, “dilokasi yang sama”.

 

Liputan Yudiari Widyawaty, Kontributor Warna Nusantara

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *