Pendayagunaan Sumber Daya Alam Menjadi Makanan Terlezat di Dunia
Mei 12, 2016
Warna Nusantara (339 articles)
0 comments

Pendayagunaan Sumber Daya Alam Menjadi Makanan Terlezat di Dunia

“Coconut trees grow by the million, and one constanly sees bamboo, papaya, and banana.” – Datus C. Smith, Jr., The Land and People of Indonesia

Sejauh mata memandang sepanjang itupun hamparan nyiur kelapa melambai, demikianlah pemandangan utama pantai barat sumatera. Memang jenis pohon yang hampir semua bagian tubuhnya bisa dimanfaatkan ini adaktif dengan pantai jadi wajar saja hamparannya menjadi tontonan yang dominan. Walaupun demikian memang pepohonan ini hampir mendominasi kawasan barat sumatera selain padi yang tentu saja sebagai makanan pokok nusantara. Oleh karenanya pula kelapa menjadi bahan utama makanan khasnya. Rupanya nenek moyang kita mampu mendayagunakan bahan yang ada menjadi makanan yang hingga kini menjadi ciri khas daerah tersebut. Pemberdayaan sumber daya alam yang kelak menjadi makanan terlezat di dunia.

Sudah menjadi kodratiah manusia untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Itu pula yang terjadi di Sumatera Barat. Nenek moyang suku Minangkabau tahu betul bagaimana cara mengolah bahan makanan yang tersedia. Kelapa yang berlimpah disana mampu mereka olah menjadi makanan yang hingga kini bisa dinikmati seantero nusantara. Makanan khas minang yang bersantan adalah pembuktiannya. Hingga kini pemetik kelapa bukan hanya kelapa hingga binatang monyet masih banyak kita temui di sana. Bahkan tenaga bantuan monyet ini sudah diperbantukan dari dulu, entah berapa generasi pula sang beruk ini membantu tuannya memetik kelapa.

Seperti kita ketahui makanan minang memang didominasi oleh santan yang bahan utamanya kelapa. Budaya orang minang yang merantau menuntut diciptakannnya makanan yang tahan lama, maka dipakailah banyak rempah sebagai bumbu-bumbunya sebagai tujuan pengawet makanan. Pengolahannya yang berulang-ulang dan memakan waktu yang lama seperti contohnya pembuatan rendang, salah satu faktor lain makanan tersebut lebih awet.

Memang makanan sejenis rendang diduga sudah ada sejak jaman dahulu, sebagai bukti kita bisa mengacu kepada keterangan Gusti Asnan, seorang guru besar sejarah Universitas Andalas mengacu kepada catatan Jenderal Hubert Joseph Jean Lambert de Stuers, panglima militer dan residen Padang pada masa kolonial yang menggambarkan suatu teknik membuat masakan yang menggunakan susu kelapa yang dihanguskan.

Sebenarnya masakan minang banyak terpengaruh oleh masakan india, sebagai bukti adalah bahan kari dan gulainya. Menurut penelitian Gusti Asnan pada abad ke – 13 dan 14 sudah ada orang India yang adatang ke Sumatera Barat. Menurut catatan Tome Pires pengelana dari Portugis mengungkapkan bahwa abad ke – 16 ada kapal dari Gujarat yang datang ke Pantai Barat Sumatera. Lebih jauh Gusti Asnan menjelaskan bahwa hubungan Minangkabau dengan Afrika dan India yang sudah lama terjadi karena adanya arus angi yang berputar bolak-balik antara pantai barat Sumatera ke India dan Afrika enam bulan sekali.

Salah satu jenis masakan Minang yang paling jelas keterkaitannya dengan India adalah Gulai Korma. Gulai ini tidak mengandung kurma, tapi namanya mirip dengan korma india, semacam kari daging atau ikan dengan kuah yoghurt. Gulai korma adalah gulai daging atau ikan dengan kuah santan yang banyak mengandung rempah. “India utara memakai santan. Mereka pakai yoghurt atau kacang-kacangan untuk pengental. Tapi India selatan pakai santan. Ini menjelaskan bahwa pengaruh budaya India di Sumatera itu datangnya dari India selatan.” kata William Wongso, pakar kuliner Nusantara. (Antropologi Kuliner Nusantara, Tempo, hal. 56)

Walaupun pengaruh besar India sangat kental sekental santannya, namun tidak dapat dipungkiri rempah-rempah khas nusantara yang tentu saja berbeda dengan india mempengaruhi hasil dari masakannya. Sebagai bukti tentu saja rendang yang dalam salah satu situs dinobatkan sebagai makanan terlejat di dunia. Rempah-rempah yang tumpah ruah serta nyiur kelapa melambai sepanjang pantai hingga ke pedalaman amat sangat disyukuri oleh penduduknya. Tentu saja dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya melalui makanan khas minang yang menjadi jago di seantero negeri hingga ke lompat bangsa.

 

Bahan Tulisan :

  1. The Land and People of Indonesia, Datus C. Smith, Jr., J. B. Lippincott Company, 1963
  2. Antropologi Kuliner Nusantara, Seri Buku Tempo, KPG, 2015

 

 

 

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *