Juni 9, 2014
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Pasar Rakyat yang Tetap Tradisional

Pasar adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli dimana terjadi kegiatan transaksi ekonomi. Pasar yang paling umum dan nyata kita lihat adalah pasar tradisional. Biasanya barang yang di jual disini berbentuk benda yang nampak dan alat pembayarannyapun nyata berbentuk uang. Bentuk-bentuk pasar tradisional di Nusantara sudah ada dari semenjak jaman kolonial. Hal ini dapat dibuktikan dari catatan-catatan sejarah baik yang ditulis oleh kaum kolonial maupun pribumi. Salah satu pasar yang di maksud adalah Pasar Gede Solo.

Pasar Gede Solo sesuai namanya pasar ini berdiri megah di tengah kota Solo tepatnya di Jalan Jendral Sudirman menuju Jalan Urip Sumohardjo. Nama lain dari Pasar Gede Solo ini adalah Pasar Gede Hardjonegoro. Nama Hardjonegoro ini diambil dari nama seorang ningrat Tionghoa bernama sama dimana gelar keningratan yang ia dapatkan  dari pemberian Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Hal yang dapat dimaklumi dimana Pasar ini memang berdiri di daerah pecinan. Salah satu peninggalannya yang masih ada sampai sekarang adalah Klenteng Tien Kok Sie.

Pasar Gede Solo di bangun selama 3 tahun (1927 – 1930) merupakan rancangan dari Ir. Thomas Karsten, seorang arsitek berkewarganegaraan Belanda. Karsten memiliki sifat yang berbeda dengan arsitek-arsitek dari Belanda yang lain dimana ia ingin mempertahankan akar budaya tempat bangunan tersebut sedangkan arsitek-arsitek lain memiliki pemikiran yang membangun bangunan layaknya seperti di Eropa. Hal ini tergambar dari arsitektur Pasar Gede Solo yang menggabungkan gaya Jawa dan Tionghoa dalam beberapa bagiannya. Bagian khas dari pasar ini adalah adanya bentuk benteng sebagai gapura utamanya. Walaupun telah dipugar beberapa kali dan mengalami kebakaran namun bentuk asli pasar ini tidak mengalami perubahan.

Pasar Gede Solo saat ini bisa menjadi contoh untuk pasar-pasar tradisional nusantara lainnya. Biasanya kita akan menemukan kesemerawutan sebagai identitas pasar maka hal ini tidak berlaku di sini. Lapak-lapak dagangan berjajar rapi bahkan tukang becak pun berbaris antri di depan gapura. Selain bahan-bahan kebutuhan pokok seperti sayuran segar dan aneka bumbu, Pasar Gede Solo terkenal dengan jajanan pasarnya. Saking terkenalnya pasar ini menjadi salah satu tujuan kaum pelancong mencari oleh-oleh. Di pasar berlantai dua ini  pedagang makanan khas Solo berada di sekeliling lapak sembako. Ada puluhan penjual yang menjajakan nasi liwet, pecel, anek oseng-oseng, ayam goreng, dawet, kerupuk rambak, karak, intip hingga berbagai jenis jajanan pasar.

 Dengan penataan yang baik berhasil menghilangkan kesemerawutan dan kesumpekan pasar. Dengan lapang dan bebasnya pengunjung ditambah dengan jajanan pasar yang khas membuat pasar ini menjadi destinasi wisata nusantara.

Reportase Donny Kurniawan, Senior Reporter Warna Nusantara

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *