November 19, 2014
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Pangkal Pinang, Lezat di Lidah, Nyaman di Perut, Indah di Mata

Kota Pangkal Pinang adalah Ibukota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Provinsi ini menawarkan pariwisata pantai-pantainya yang indah. Sangat beruntung penulis dapat menikmati salah satu wisata tersebut. Walaupun acara yang dihadiri adalah workshop namun tema workshopnya, Melalui Pengembangan SDM dan Profesionalisme Bidang Pariwisata Kita Tingkatkan Cita Rasa Makanan Olahan Kota Pangkal Pinang, maka penulis berkesempatan untuk melakukan riset.

Penulis melakukan pengamatan saat berkunjung ke Kota Pangkal Pinang, terkenal dengan beragam pantainya.  Sengaja penulis melakukan pengamatan khusus di bidang gastronomi.  Penulis menemukan Chef Prabu Iskandar Pertama atau Kang Ajat seorang alumni Akpar NHI Bandung yang menjadi seorang chef di Resto Neptune.  Restonya yang terletak  di Pantai Pasir Padi apa yang disentuhnya masakannya lezat, dan ia beserta timnya menjadi juara pertama dalam workshop tersebut.  Ia pun sekarang bersama rekan-rekan chefnya sedang berupaya menggiatkan kembali kekuatan Indonesia Chef Assosciation Kota Pangkal Pinang dalam mengoptimalkan gastronomi di kota ini.  Ia merupakan representasi para chef yang menampilkan keunggulan Restoran yang memiliki pelayanan yang baik dan menu unggulan seperti Tenggiri Ikan Bakar , Ekor Tenggiri Ikan Tenggiri Bumbu Kuning, dan olahan seafood di Neptune dan Biru Laut di Pantai Pasir Padi yang sudah dikelola dengan baik.

Penulis disertai oleh Oddy staf Dispar  dan Christian Helmy Rumayar diajak menikmati makanan di Warung Makan Satrio di Jalan Hamidah. Masakan unggulannya adalah Ikan Seminyak Bumbu Tauco dan Lempah Kuning Ikan Seminyak, dan memiliki rasa yang membuat kita begitu menikmati cita rasanya adalah olahan  Telur Ikan Tenggiri yang rasanya nikmat. Semua tak lepas dari olahan juru masaknya Ibu Yuli yang pernah menjadi Chef di Hotal JW Marriot. Kualitas bahan baku dan tidak pelit bumbu menjadikan warung makan ini menjadi warung makan olahan khas Bangka yang paling enak di kota ini. Belum lagi lidah semakin bergetar saat mencoba asinan Kelubi buatan sendiri yang dijual di depan rumah makan ini yang rasanya masam-masam segar. Di antara beragam rumah makan khas Bangka menurut penulis soal kualitas rasa di rumah makan ini menjadi primadonanya.

Selanjutnya penulis pun menelusuri kota Pangkal Pinang menuju Pasar Mambo menikmati Selada Bangka dan Pantiau di Pasar Mambo. Pertama-pertama ada rasa sungkan melihat kondisi warung makan yang sangat seadanya, tapi istilah “Dont Judge By Cover” ada disini. Rasa memang tetap unggul , namun memang perlu perhatian khusus bagi penataan kota, dan aturan yang jelas dalam penyelenggaraan rumah makan di kota ini. Karena usaha dan kualitas makanan yang menguggah selera sepatutnya diiringi sinergisitas “law enforcement” untuk menyediakan pelayanan berdasarkan konsep marketing mix. Agar para wisatawan mancanegara dan domestik akan nyaman menikmati beragam Gastronomi olahan khas Kota ini, terutama disertai jaminan kualitas jasa yang mengandalkan hygiene dan sanitasinya.

Setelah itu penulis pun bergerak menuju pasar ikan Kota Pangkal Pinang, dan banyak menemukan ikan yang unik-unik seperti  Ikan Pari, Ikan Jebung, Ikan Singkur dan banyak lagi yang penulis sulit mengingatnya karena bahasanya asing dilidah.  Bahan baku ikan sangat potensial dijadikan makanan unggulan kota ini, berdasarkan informasi Ibu Dwidy Sutiasmi Sa’aludin, Kasi Promosi Dispar diungkapkan bahwa Ikan Pari dan khusus hatinya sangat lezat bila diolah menggunakan bumbu kuning. Penulis pun menemukan sayuran khas disini seperti Cungkudiro, dan ada sejenis labu yang buah luarnya diselimuti sejenis lapisan tepung putih yang katanya enak bila di tumis. Sesuai isu ketahanan pangan tentu beragam olahan berdasarkan bahan baku lokal akan bisa dilakukan kota ini untuk mencukupi kebutuhan makanan bagi masyarakatnya. Penulis juga cukup prihatin dengan beragamnya Franchise asing disini, patut diwaspadai jangan sampai memusnahkan kompetisi makanan dan minuman tradisional kota ini.

Hanya dua hal yang penulis tidak kunjungi, pertama warung kopinya karena penulis termasuk yang sensitif terhadap Kopi. Menurut Kang Ajat bagi penikmat kopi memang akan terasa keras dan kental sekali, akan tetapi setelah minum kopi disini kopi instan produk yang dikenal masyarakat akan terasa tawar. Kedua penulis tidak sempat meninjau aneka olahan dessert khas kota ini yang ada di Toko Kue Athet dan juga toko oleh-oleh Lophet yang kaya dengan keunikannya juga. Bagaimana apakah anda tergoda mencoba aneka olahan tersebut? Silahkan datang sendiri ke kota ini. Dan bagi para gastronome Kota Pangkal Pinang tetap semangatlah untuk selalu membenahi Gastronominya.

 

Seperti dituturkan oleh : Ibu Dewi Turgarini, S.S, M.Par. (Dosen Program Studi MIK UPI Bandung)

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *