April 27, 2015
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Oleh-Oleh Bandung di Konferensi Asia Afrika

Dari semenjak dahulu Kota Bandung sudah menjadi daya tarik wisatawan. Setelah diresmikannya jalur hubungan Bandung – Surabaya pada tanggal 1 November 1894, maka berbondong-bondonglah para Suikerplanters dari Jawa Tengah dan Jawa Timur membanjiri Kota Bandung (Wajah Kota Bandoeng Tempoe Doeloe, Haryoto Kunto, Hal 32). Dari kutipan ini terbukti bahwa dari jaman kolonial kota ini sudah memberikan pesonanya. Selanjutnya pada tahun 1896 Kota Bandung menjadi tempat penyelenggaraan Kongres Pengusaha Perkebunan Gula yang pertama. Di sekitaran tahun 1920-an, kota ini menjadi salah satu kota pergerakan nasional. Dapat dimaklumi karena pada masa ini Presiden Pertama Indonesia, Ir. Soekarno bersekolah di kota ini. Bahkan dirumah Ibu Inggit Ganarsih (istri pertamanya) di Jl. Ciateul, Bandung, tokoh-tokoh pergerakan seperti Moh. Hatta, Ali Sastroamidjojo dll sering menyusun strategi pergerakannya di sana. Bahkan terus bergulir hingga Konferensi Asia Afrika di tahun 1955 yang diadakan di sini. Konferensi akbar yang diikuti oleh delegasi-delegasi dari negara-nagara Asia dan Afrika. Pada saat itu dianggap cukup nekat untuk mengadakan konferensi di tengah beradunya kekuatan besar blok barat dan timur pun dengan kesiapan dana untuk menjamu tamu mengingat kemampuan finansial negara yang baru seumur jagung merdeka. Berkat kharisma Ir. Soekarno dan rasa kebanggaan warga kota Bandung yang ditunjuk sebagai tuan rumah, mereka bahu-membahu memberikan sumbangsihnya. Berkat bantuan mereka ini para delegasipun merasa terpuaskan, bahkan warga Bandung memberikan oleh-oleh yang sangat berkesan.

Pada masa itu, sumbangsih pelaku kuliner Kota Bandung dalam Konferensi Asia Afrika sangat besar. Selain jamuan dari Hotel Savoy Homann dan Preanger, Rumah Makan Tionghoa, Arab, India hingga Nusantara juga dilibatkan dalam urusan kuliner. Khusus untuk cemilan delegasi-delegasi dipilih Colenak. Yang beruntung mendapatkan kesempatan ini adalah Colenak Murdi Putra. Kesempatan ini datang seperti diutarakan oleh Ibu Betty, penerus generasi ke-3 colenak ini karena mungkin jaman itu panganan khas Bandung tidak sebanyak seperti sekarang. Keterlibatannya sebagai pengisi kuliner di KAA dikarenakan oleh ketenaran makanan ini, pamongpraja pemerintahan sebagai utusan kepala pemerintahan kota biasa membawa ini bagi tuannya. Khusus untuk Colenak Mardi Putra, makanan khas Bandung ini.

Berawal dari keisengan sang kakek, Bapak Murdi Putra, di tahun 1930 dalam hal mengolah bahan makanan, hingga akhirnya terciptalah colenak ini. Dulunya colenak ini bernama peuyeum digulaan (tape diberi gula) namun karena penikmatnya menikmati makanan ini dengan cara di cocol dengan menggunakan garpu maka terciptalah nama “colenak” sebagai singkatan dari dicocol enak. Sejak saat ini Bapak Murdi Putra yang awalnya bekerja serabutan berkonsentrasi memproduksi dan menjual colenak.

 

Hingga kini tidak ada yang berubah dari Colenak Murdi Putra yang berlokasi di Jl. Ahmad Yani No. 733 Bandung ini, walaupun sudah berpindah kepengurusan kepada generasi ke-3-nya. Sudah menjadi amanat dari sang leluhur untuk menjaga keaslian resep colenak, oleh karenanya Bu Betty merasa harus melestarikan colenak ini dengan apa adanya tanpa harus berinovasi dan menambah-nambahkan citrarasa lain. Hingga kini makanan ini menjadi makanan nostalgia bagi orang tua dengan tanpa mengeluhkan perbedaan rasanya. Penyebabnya adalah selain resep dan cara pengolahan tape, alat-alat seperti kuali dan tungku yang dipergunakan tidak berubah, pemasok tapenyapun masih tetap supplier lama yang sudah dikelola oleh generasi ke-3. Ada yang mungkin tidak kita ketahui hingga kini, mengkonsumsi colenak ini lebi nikmat dengan menambahkan kerupuk. Si kerupuk ini berfungsi sebagai penetralisir rasa terlalu manis yang timbul dari gula dan tape. Ada cerita suatu ketika kuali yang biasa dipergunakan hilang dicuri orang, kuali itu bisa diketemukan kembali dan dipergunakan hingga sekarang.

Perbedaan colenak ini dulu dengan sekarang adalah dari kemasannya, dimana dulu sebagai bahan pembungkus dipergunakan daun dan plastik, sekarang dipergunakan media kertas. Memang untuk kemasan ini merupakan masalah yang harus bisa dihadapi oleh pengrajin-pengrajin kuliner tradisional agar bisa bersaing dengan pengrajin-pengrajin kuliner modern. Contohnya saja colenak ini yang hanya bertahan selama 2 hari di luar dan 5 hari jika dimasukan ke dalam kulkas. Dari ketahanannya ini bisa disimpulkan bahwa si colenak tidak bisa dibawa jauh bahkan untuk di eksport ke luar negeri. Pemilihan bahan tape pun bukan hal yang mudah, dimana tape yang digunakan biasa berwarna putih bukan tape mentega yang berwarna kuning, selain teksturnya yang berbeda tape mentega ini lebih cepat matang. Untuk mematangkan tape sendiri dibutuhkan waktu 3 hari. Jika dipergunakan tape yang sudah matang maka aroma kuatnya akan segera tercium. Kadangkala Bu Betty harus bertanya kepada konsumennya kemana colenak akan di bawa, jika memakan waktu berhari-hari maka akan diberikan tape yang setengah matang.

Kesan dari delegasi-delegasi Konferensi Asia Afrika tahun 1955 dengan colenak cukup baik terbukti dengan utusan-utusan delegasi tersebut datang langsung ke gerai di Jalan Ahmad Yani. Ternyata memang Oleh-Oleh Bandung ini menjadi salah satu cerita indah tersendiri di Konferensi pemersatu negara-negara dunia ke tiga ini.

 

Liputan Fadly Shaputra & Irvan Minz Priono (Kontributor Warna Nusantara)

 

 

 

 

 

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *