Desember 30, 2014
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Nyundanya Chef Uud Hidayat

“Neangan luang tipapada urang (Belajar mencari pengetahuan dari pengalaman orang lain)” – Peribahasa Sunda Kuno

Nyunda adalah istilah yang biasa dipakai untuk orang yang dalam kesehariannya menjunjung tinggi adat masyarakat sunda. Akhir-akhir ini istilah tersebut marak kita dengar di masyarakat sunda. Mungkin salah satu alasannya adalah diproklamirkannya hari rabu sebagai hari rabu nyunda oleh Walikota Bandung, Bapak Ridwan Kamil. Mulai dari atribut masyarakat sunda jaman dulu, Bahasa Sunda yang kembali dipergunakan hingga makanan-makanan khas sunda yang ramai bermunculan. Khusus untuk makanan tradisional sunda, makanan ini bukan hanya bisa kita temukan dipinggiran jalan saja namun juga sudah merambah ke hotel-hotel berbintang. Salah-satu yang membawa makanan ini ke hotelnya adalah Chef Uud Hidayat.

Lahir dan dibesarkan di Kuningan, Jawa Barat, tak membuatnya lupa akan akar rumput budayanya, sunda. Hobi memasak sejak kecil, selalu terdepan dalam hal memasak di keluarganya. Sempat memiliki profesi yang jauh dari dunianya sekarang ini, maklum saja karena latar belakang pendidikannya adalah STM jurusan listrik walaupun pendidikan formal yang didapatnya ini dapat membantunya kelak. Sebagai anak kampung – begitu pengakuannya, sama sekali tidak mengenal dunia perhotelan, setamat sekolah langsung bekerja sebagai operator mesin di sebuah pabrik tekstil. Namun hati tak bisa berbohong, dunia memasak selalu memanggilnya. Hingga akhirnya tawaran bekerja di sebuah hotel pun tanpa ragu dia terima walau bekerja hanya sebagai steward (pencuci piring) saja. Disana mulai melihat dunia dapur dan baginya chef adalah orang yang hebat, dengan seorang saja bisa menghidangkan makanan untuk ribuan tamu. Hingga akhirnya menjadi seorang chef profesional adalah tujuan pencapaian kariernya.

“Selama memiliki kemauan yang kuat, maju terus,” demikian tekad Chef Uud. Kemauannya untuk belajar, melihat senior-seniornya memasak akhirnya membuahkan hasil. Sebuah kejadian lucu yang membawa berkah ketika suatu ketika di dapur tidak ada seorangpun yang bertugas dan mendadak ada yang memesan makanan. Karena merasa mampu dia akhirnya turun tangan membuatnya sendiri. Chef Sugiharta, executive chef di sana memergokinya dan menegur, namun ketika melihat penyajian makanannya yang baik serta mencicipi makanannya, beliaupun langsung memberikan makanan tersebut ke tamu. Semenjak saat itu karier di dapur sebagai chef dimulai. Seperti pepatah sunda buhun (kuno) di atas belajar mencari pengetahuan dari pengalaman orang lain, Chef Uud belajar  seni memahat makanan (food carving). Diakuinya seseorang harus memiliki jiwa seni yang tinggi agar dapat menjadi food carver yang baik. Hingga saat ini dia masih mendalami ilmu ini, terutama tentang anatomi tubuh manusia dan hewan. Ilmu yang diperolehnya di STM-pun sangat berguna, dia terkadang menciptakan alat-alat memasak yang dapat membantu pekerjaannya. Alat-alat yang diciptakan terutama yang berhubungan dengan instalasi perlistrikan. Cita-citanya sekarang adalah memiliki usaha kuliner sendiri, baginya menjadi pengusaha dengan hanya memiliki 2 orang karyawan saja levelnya tetap berbeda dibandingkan dengan executive chef sakalipun. Dengan berjalannya waktu dan berkat bimbingan dari Chef Sugiharta yang dia akui sebagai mentor dan panutannya serta chef-chef yang lain kariernya menanjak hingga ke puncak, menjadi executive chef di Verona Hotel, Bandung.

Tak ada yang lebih membahagiakan baginya selain makanannya disantap habis bahkan meminta tambah lagi. Lebih hebat lagi ketika si tamu datang khusus untuk minta dibuatkan makanan olehnya dan merekomendasikan kepada yang lain. “Capek segimanapun terbayar sudah,” ujarnya. Demikian pula dengan makanan khas sunda yang ia sajikan di Verona Hotel, Bandung. Nasi tutug oncom, ulukutek lenca bahkan karedoknya disukai oleh orang bule, bahkan si bule sering berkunjung ke sana untuk khusus menikmati karedoknya. “Memang perlu keberanian untuk menyajikan masakan tradisional di hotel itu namun kitapu bisa selama makanan tersebut disajikan semenarik mungkin atau memakai style eropa,” jelasnya. Beruntung di hotelnya sekarang Chef Uud diberikan kebebasan untuk mengeplorasi makanan. Yang penting adalah kita meminta feedback langsung dari tamu tentang makanan yang kita sajikan.

Demikianlah Chef Uud Hidayat, Executive Chef Verona Hotel, Bandung, dengan latar belakang budaya sunda yang kental, kemauan keras dan pengalamannya berhasil menyajikan makanan yang nyunda ke hotelnya.

Oleh Chef Rahmi Johan, Kontributor Warna Nusantara

 

 

 

 

 

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *