Nyabu di Simpang Dago
September 8, 2015
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Nyabu di Simpang Dago

Pagi yang kadang terasa muncul lebih awal serasa semua yang akan kita lakukan hari ini harus dapat kita selesaikan dalam hitungan menit. Tidak ada lagi waktu untuk menyantap sarapan bahkan menyajikannya sendiri. Salah satu jalan dengan berkunjung ke penjaja-penjaja makanan lengganan. Tidak perlu khawatir dengan variasi menunya karena sang penjaja banyak terhampar, cukup pilih saja, lezat dilidah, kenyang di perut atau yang menyehatkan. Pagi ini kita pilih saja yang menyehatkan, nyabu di Simpang Dago.

Persimpangan Jalan Dago setiap harinya padat oleh kendaraan lalu lalang. Boleh dikatakan bahkan perjalanan anda akan terhenti sejenak akibat banyaknya kendaraan yang memacetkan. Walaupun demikian jalan ini memiliki daya tarik sendiri dengan adanya penjaja makanan di bahu jalannya. Salah satunya adalah Bubur Haji Zaenal. Posisinya jika kita mengambil arah dari Dago atas maka kedainya berada di sebelah kiri jalan sebelum lampu merah Simpang Dago. Sudah sejak dari tahun 1980 banyak orang nyabu di sini. Jangan salah kira karena nyabu yang dimaksud adalah Nyarapan bubur alias menyantap bubur sebagaia makanan sarapan kita.

Bubur Haji Zaenal boleh dikatakan istimewa karena terasa lebih gurih. Penggunaan santan adalah kelebihannya selain tentu saja kaldu ayam kampungnya. Ada yang berbeda pula dimana sambal yang digunakan menggunakan kacang, jadi si sambal seperti layaknya sambal nasi uduk betawi. Porsinya cukup besar apalagi untuk ukuran sarapan yang biasanya kenyang hanya diisi sedikit makanan. Ditambah dengan emping sebagai pelengkap, cukup penuh terisi perut ini. Sebetulnya Bubur ini dapat dinikmati kapan saja karena jam operasional bukanya yang hingga malam. Keistimewaan bubur ini tampaknya yang membuat orang rela antri di sana.

Simpang Dago ini memang sudah diakrabi sejak puluhan tahun yang lalu. Tepatnya pada tahun 1980, bapak Haji Zaenal sudah menjajakan bubur di jalan ini. Berpindah-pindah lokasi hingga akhirnya menempati kedai yang permanen sekarang ini. Hanya bergeser-geser saja tanpa beralih ke jalan yang lain. Walaupun demikian sudah banyak yang diperoleh dari berjualannya di Simpang Dago ini, mampu menyekolahkan anak-anak, memiliki beberapa karyawan hingga pergi berhaji. Yang terpenting baginya adalah kepuasan pelanggan atas buburnya.

Bubur Haji Zaenal bagi warga Bandung merupakan salah satu legenda makanan untuk santap sarapan. Buburnya yang tidak pernah berubah baik kualitas hingga kuantitasnya sudah mengundang tiga generasi untuk nyabu di sana.

 

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *