Juni 24, 2014
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Ngertakeun Bumi Lamba di Kaki Tangkuban Parahu

Salah satu gunung tereksotis ditatar Parahyangan. Sesuai dengan legenda yang melekat padanya, legenda Sangkuriang, terdapat sisi romantis namun tragis. Sama halnya dengan keadaan Gunung Tangkuban Parahu sekarang ini. Banyak yang mencintai kemolekannya namun tidak sedikit yang bertega hati melukainya.

Bagi yang belum mengetahui, Gunung Tangkuban Parahu atau Tangkuban Perahu ini terletak di Provinsi Jawa Barat, tepatnya  di Kabupaten Subang, + 20 KM sebelah utara Kota Bandung. Berketinggian 2.084 mtr diatas permukaan laut merupakan salah satu gunung berapi aktif di Nusantara. Letusan gunung ini yang diperkirakan terjadi ribuan tahun yang lalu telah memberikan kesuburan bagi tanah sekitarnya. Hamparan hijau kebun teh dan rapatnya pohon pinus menjadi bukti akan kontribusinya alam Tangkuban Parahu.

Salah Satu bagian dari upacara Ngertakeun Bumi Lamba

 

Bertepatan dengan perjalanan matahari yang baru mulai kembali dari utara menuju ke selatan bumi tepatnya bulan ke – 7 dalam hitungan kala ider atau kalender sunda, diadakan acara Ngertakeun Bumi Lamba di kaki Gunung Tangkuban Parahu. Acara yang diadakan rutin tiap tahun ini adalah acara mengekpresikan sembah kepada Sang Pemberi Kehidupan – Tuhan.

Inti dari acara ini adalah menghormati gunung sebagai sumber dan simbol leluhur. Mengingatkan umat manusia bahwa kesucian gunung adalah kesatuan kekuatan bumi di semesta ini. Mengingatkan akan banyaknya hutang kita terhadap pertiwi, angkasa dan segala manifestasinya. Makna acara ini adalah agar umat manusia lebih sadar akan keberadaan alam semesta. Keseimbangan alam akan berpengaruh pada keseimbangan manusianya. Untuk itu pemimpin yang akan datangpun harus memperhatikan alam semestanya.

Acara ini diadakan pada tanggal 22 Juni 2014 yang lalu, dihadiri oleh para pemangku adat dari Nusantara yang ingin memberikan persembahannya berupa sesajian, doa, nyanyian dan tari-tarian sakral. Walaupun demikian acara ini cukup menarik wisatawan untuk hadir menyaksikan acara hingga usai karena memang acara ini terbuka untuk umum tidak terbatasoleh suku agama ras dan golongan. Hal ini memperlambangkan persaudaraan antar umat manusia dalam menjaga alamnya. Lewat acara ini disampaikan pesan khusus bagi kita untuk tetap selalu ingat akan keberadaan alam yang dilambangkan oleh gunung sebagai sumber kehidupan manusia.

[label type=”success” text=”Foto Liputan”]

[divider]

Reportase Sam Gumai, Senior Reporter Warna Nusantara

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *