Nasinya Para Buruh Perkebunan
Mei 17, 2016
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Nasinya Para Buruh Perkebunan

Jamblang adalah nama sebuah kecamatan di Cirebon. Nama ini mungkin tidak dikenal jika tidak ada produk kulinernya yang khas, nasi jamblang. Sebetulnya hampir serupa dengan produk-produk kuliner dengan nama depan sama “nasi” dimana nasi sebagai makanan pokoknya ditemani oleh bermacam lauk-pauk yang berbeda namun nyaris sama pula. Sudah menjadi fitrahnya manusia untuk bertahan dan beradaptasi dengan lingkungannya, adaptasi ini pula menghasilkan makanan yang hingga kini kita konsumsi. Demikian pula halnya nasi jamblang, nasinya para buruh perkebunan.

Bumi nusantara di jaman kolonial merupakan hamparan sorga. Sorga yang terutama oleh kaum kolonial diungkapkan demikian karena hasil buminya yang dapat dinikmati kapan dan sebesar apapun. Salah satunya tentunya adalah Pulau Jawa. Pulau yang kelak menjadi pulau terpadat di nusantara ini pada masa itu terbagi menjadi dua wilayah ekploitasi, dimana bagian baratnya terkenal dengan penghasil teh dan kopi karena banyaknya dataran tinggi, di bagian timur terkenal dengan perkebunan tebu sebagai pengasil gulanya. Dalan bukunya Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, Haryoto Kunto menuliskan; Sejak zaman cultuurstelsel, daerah Tatar Sunda, khususnya wilayah Priangan, merupakan gudang tanaman teh. Sedangkan di Jawa Tengah terutama daerah Yogyakarta, Surakarta (Vorstenlanden) dan Jawa Timur, begitu banyak terdapat pabrik gula, sehingga wilayah ini sering dijuluki Suikerland atau Negeri Gula. (Baca: Auguste de Wit, “Natuur en Menschen in Indie,” 1914)

Tentunya bukan hanya daerah yang sekarang meliputi Jawa Tengah, perkebunan tebu banyak pula ditemui di sepanjang jalur pantai utara jawa termasuk Cirebon. Zaman cultuurstelsel atau tanam paksa yang diberlakukan oleh kaum kolonial mengharuskan para petani menanam tanaman yang hasilnya merupakan primadona di Eropa seperti Gula, Kopi, Teh, dan sebagainya, dampaknya tentu saja kas negera Belanda yang membumbung walaupun ini menimbulkan keburukan dan kesengsaraan bagi rakyat nusantara. Seperti dituliskan dalam buku yang sama;  Di daerah Cirebon dan Majalengka (Jawa Barat), banyak rakyat mati kelaparan, karena waktu cocok tanam tersita oleh kerja paksa. 

Dari kesengsaraan ini pula naluri manusia untuk beradaptasi dan bertahan hidupnya tumbuh. Menurut sejarahnya hamparan perkebunan tebu di daerah pantura sampai pula di Cirebon. Perkebunan seluas itu tentu saja dipekerjakan oleh buruh tepatnya budak pribumi berjumlah sangat besar. Seorang tokoh di daerah Jamblang, Cirebon menciptakan makanan yang pada akhirnya dikenal dengan sebutan Nasi Jamblang sebagai makanan bagi para buruh ini. Suhu panas khas pantai menjadi pembeda pula terhadap makanan yang dikonsumsinya dimana makanan dingin tentunya masih nikmat dikonsumsi dibandingkan dengan masyarakat di barat  Pulau Jawa yang lebih menikmati makanan tersaji hangat. Ini pula yang menjadi pembeda dimana masyarakat pantura lebih memanfaatkan daun jati sebagai alas nasi dimana pohon-pohon ini tumbuh terhampar sepanjangnya yang ironisnya jarang ditumbuhi pohon pisang seperti di pantai selatan. Sudah menjadi trahnya, karena ternyata memang daun jati tidak kuat terhadap suhu panas yang dialirkan makanan.

Rempah-rempah seperti lengkuas, jahe dan kunyit sangat dimanfaat Ni Pulung, sosok awal pencipta nasi jamblang. Salah satu lauk pauk nasi jamblang adalah daging lengkuas, disebut demikian karena penggunaan rempah ini dalam pembuatannya. Uniknya tidak seperti olahan daging sapi lain yang merebus dahulu dagingnya, dalam pembuatan makanan ini si daging dipotong-potong kecil dulu untuk kemudian dibumbui dengan lengkuas dan rempah lain. Setelah itu ditiriskan selama 6 jam hingga kemudian digoreng. Ternyata teknik marinasi tradisional ini yang mampu mengawetkan daging. Panas yang dikeluarkan oleh lengkuas pula yang menyebabkan daging ini empuk dan sangat enak dikonsumsi. Hebat bukan? Betapa dengan keterbatasannya nenek moyang kita mampu mengawetkan daging tanpa membutuhkan lemari pendingin.

Semua kenangan tersebut sangat diingat oleh Chef Beni Trisura, Executive Chef, Grand Pasundan Convention Hotel Bandung. Sebagai generasi keempat dari sang pencipta nasi jamblang, Chef Beni merasa berkewajiban untuk dapat melestarikan makanan leluhurnya. Walaupun sudah banyak yang menjajakannya di Kota Cirebon namun tidak demikian di Bandung tempat tinggalnya sekarang. Mempertahankan resep yang otentik dengan mendatangkan langsung juru masak dari Cirebon yang notabene masih satu garis keturunan dengannya, jadilah tempat ini menjadi Warung Nasi Jamblang yang paling otentik di Kota Bandung. Ditambah dengan makanan khas lain seperti empal gentong dan tahu gejrot menambah kentalnya suasana cirebonan. Tentu penasaran, datang langsung saja ke area kolam renang, Grand Pasundan Convention Hotel, di Jalan Peta 147, Bandung.

Memang udara yang kita hirup hari ini adalah hasil dari pengorbanan panjang pendahulu kita. Tentu ini pun berlaku jika kita sambungkan dengan makanannya. Beberapa makanan tradisional yang otentik bahkan menjadi ikon dearah tersebut adalah merupakan hasil dari cara bertahan hidupnya leluhur. Kesederhanaan yang ternyata setelah kita pikirkan betapa luar biasanya. Dari nasinya para buruh yang hanya sekedar ganjal untuk perutnya yang kosong sekarang secara mentareng dikonsumsi oleh orang yang pada jaman dula bisa disejajarkan dengan tuannya di tempat yang tak terbayangkan sebelumnya pula, hotel.

 

 

 

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *