November 3, 2015
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

More Than Just a Jazz Address

“Jazz itu bukan hanya mengandalkan skill dan bermain indvidu, apapun lagunya kita mainkan dengan Bahasa Jazz.” – Benny Likumahuwa, Musisi Jazz Senior Indonesia

Menarik ketika kita menyimak perbincangan Kang Aat Soeratin, budayawan senior Kota Bandung yang ditayangkan oleh Metro TV ketika ditanya mengenai Kota Bandung sebagai kota inspiratif. Menurutnya hal ini mungkin dipengaruhi oleh iklimnya yang cenderung adem dan dikelilingi oleh gunung. Ekosistem dan naturnya mendukung untuk melahirkan inovasi-inovasi. sehingga sering terjadi interaksi dalam berbagai hal, diskusi-diskusi yang menghasilkan kreatifitas. Di Bandung hampir semua ruang publik digunakan untuk “patali marga” atau tempat bertemunya sebab-sebab, tempat berkumpulnya untuk berdiskusi dan menghasilkan kreatifitas dalam segala hal. Semangat inilah yang coba diusung dalam acara TP Jazz Bandung Festival. Festival Jazz pertama di Kota Bandung yang dilaksanakan dari tanggal 26 hingga 31 Oktober 2015 lalu di The Papandayan Hotel Bandung, hotel yang sudah selama 2 tahun ini konsisten dan berhasil menjadi Jazz Address di Kota Bandung. Melalui acaranya ini bisa dikatakan More than just a jazz address in Bandung.

Menurut Bobby Rinaldi, General Manager The Papandayan Hotel Bandung, festival jazz yang dilaksanakan ditempatnya ini sesuai dengan visi hotel yang harus bermanfaat dan paling disukai di Bandung dengan mengangkat berbagai elemen di bidang kemasyarakatan yang diusung untuk lebih muncul lagi, salah-satunya dengan mengangkat musik jazz. Menjadi perhatian The Papandayan Hotel Bandung karena melihat banyaknya potensi di Kota Bandung dengan hadirnya banyak sekolah musik serta musisi jazz namum mereka kekurangan panggung sebagai arena mengepresikan hasil latihan, karakter yang dibentuk atau hasil improvisasi di genre jazz lain. Panggung ini dihadirkan di The Papandayan Hotel Bandung. Selama 2 tahun hotel ini konsisten di setiap Jumat serta minggu malam menghadirkan acara TP Jazz Weekend, ajang unjuk giginya musisi-musisi dari semua usia dan genre jazz bermain. Untuk mengapresiasi perjalanan selama 2 tahun ini dengan dukungan berbagai pihak serta mengusung semangat Bandung maka hadirlah TP Jazz Bandung Festival.

Boleh dikatakan hamper semua perwakilan musisi dari berbagai generasi, baik muda hingga senior hadir di acara ini. Sebut saja Riza Arshad, Yura yunita, Barry Likumahuwa, Dira Sugandi, Jamie Aditya, Dwiki Dharmawan, Donny Suhendra, Harvey Malaihollo hingga Benny Likumahua. Untuk yang terakhir, musisi senior jazz Indonesia ini memang produk asli Bandung. Disekitaran pertengahan tahun 60 hingga 70-an sudah menjadi penyiar radio dengan program yang diberi nama Warung Kopi Jazz. Di hari ke empat beliau tampil bersama anaknya Barry Likumahuwa dalam format Like Father Like Son berhasil memberikan edukasi tentang musik jazz yang benar untuk penonton TP Jazz Bandung Festival. Menurutnya jazz itu tidak hanya mengandalkan skill dan bermain individu, apapun lagunya kita mainkan dengan menggunakan Bahasa Jazz. Seperti kita ketahui sekarang lagu-lagu yang dikenal sebagai lagu jazz sekarang dalam sejarahnya sebetulnya merupakan lagu-lagu pop pada jamannya hanya dimainkan oleh musisi-musisi jazz yang terbiasa bermain dengan bahasanya sehingga munculah lagu-lagu yang kita kenal sebagai lagu jazz pada saat ini. Itu pula alasan mengapa Luis Amrstong dikenal sebagai raja jazz karena bermain dengan bahasa jazz, lanjutnya sambil memainkan sebuah instrumen yang kita kenal sebagai lagu dangdut yang dia gubah ke dalam genre musik yang ia sebut organic jazz. Bukan hanya Benny & Berry Likumahuwa saja yang tampil dengan memberikan edukasi music jazz, di penampilan hari terakhir Harvey Malaihollo dengan Band Shadow Puppets nya membawakan serta memperkenalkan lagu-lagu lawas ciptaan Ismail Marzuki serta musisi-musisi legendaris lainnya. Tujuannya adalah agar generasi sekarang mengenal dan menghargai karya musisi-musisi tersebut.

Acara ini dihelat di 6 venue yang ada di The Papandayan Hotel Bandung. Sebagai acara pembuka ditampilkan Jazz on The Street, acara yang diusung dengan konsep big band ini dihelat dipelataran halaman hotel sehingga orang yang lalu lalang disana akan dapat menyaksikannya. Selain itu dihelat Adapula acara Jazz talk dimana diisi oleh pembicara; Jongky Nusantara, Frans Sartono, Imelda Rosalin, Agus Basuni (Warta Jazz), Riandi Kurniawan (Jazzuality), Yuniman Dwicahya (Klab Jazz), Dwiki Dharmawan, Nazar Noeman (KLCBS). Secara runut musisi-musisi yang tampil dalam acara TP Jazz Bandung Festival 2015 ini adalah sebagai berikut; BSV, VMS, Dwiki Dharmawan & World Peace Trio, Ginda Bestari & Harry Anggoman & Nial Djuliarso, Do to Do, Jazzuality, Fifteen Plus, Nial Djuliarso, Riza Arshad, Jazzy Juice, T42 Indonesia, Trio ABG, Donny Suhendra & Agam Hamzah, Jamie Aditya & Friends, School Band, DKSB/57 Kustik, Tesla Manaf, KSP, Empat PenNJiti, Barry & Benny Likumahua: Like Father Like Son, School Band, Jackfruit, TP Jazz All Star, Glen Dauna, The Jongens featuring Dira Sugandi, Torotot Jimbot, Blues Libre, Ari Juliant, Yura Yunita, Harvey Malaihollo & Shadow Puppets, Salamender Big Band serta Stand up Comedian Mo Sidik.

Atensi yang tinggi tidak hanya diberikan oleh para pecinta jazz Kota Bandung namun pula para pejabat dan politisi. Tampak hadir Bapak Surya Paloh Ketua Umum Partai Nasdem, Bapak Ferry Mursidan Bahdan Menteri Perumahan Rakyat, serta Bapak Ridwan Kamil Walikota Bandung. Melalui wawancara singkat dengan Tim Warna Nusantra, Bapak Ridwan Kamil mengutarakan bahwa acara ini menjadi embrio lahirnya bulan jazz Bandung. Jadi mulai tahun depan karena Kota Bandung adalah tempat lahirnya talenta-talenta musik, ingin membagi 12 bulan menjadi 12 ganre musik. Untuk jazz disepakati jatuh pada Bulan Oktober sama dengan bulan diadakanya TP Jazz Bandung Festival. Tiap tahun sepanjang bulan musik akan hadir dimana-mana sesuai dengan selera. Hal ini dilaksanakan sebagai jawaban dari banyaknya aspirasi yang menginginkan semua tempat bermusik bukan hanya indoor atau di cafe-cafe saja namun bisa ada hingga di pengkolan-pengkolan. Menjadikan spirit yang bagus dimana penduduknya yang ramah dan santun serta jago bermusik pula. Kombinasi yang sangat bagus.

TP Jazz Bandung Festival 2015 ini bukan hanya pembuktian dari hasil pemikiran dan inovasi kota kreatif namun pula bukti kepedulian The Papandayan Hotel Bandung terhadap talenta-talenta jazz kotanya. Event ini bukan hanya menjadikan The Papandayan Hotel Bandung sebagai tujuan utama mencari musik jazz tetapi sebagai embrio dipilihnya  bulan Oktober sebagai bulan jazz di Kota Bandung. Kita tunggu saja  TP Jazz Bandung di Bulan Oktober tahun depan.

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *