Menjaga Kopi Kewajiban Menjaga Bumi
Juni 3, 2016
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Menjaga Kopi Kewajiban Menjaga Bumi

“Biar mereka menjadi hulu dan saya hilirnya.” ― Rio Dewanto, Aktor, Pemilik dan Pengelola Filosifi Kopi 

Kabut masih menyelimuti pagi, dingin setia menemaninya, para petani kopi merambat naik menuju ladangnya. Pohon-pohon kopi yang sudah memerah siap untuk dipanen. Akhirnya tiba pula waktu ini setelah lusinan minggu menunggu. Bukan hanya menunggu, merawatnya, memberi pupuk, menjamin minumannya cukup, tidak ada tanaman lain yang mengganggunya. Bukit ini setiap hari didaki tak ada artinya dengan hasil yang akan didapat. Setelah biji kopi ini pergi dengan truk-truk perkebunan, diolah hingga sampai ke cangkir penikmatnya, entah berapapun harganya, selama penikmat tersenyum, itu bayarnya yang setimpal. Walau terkadang para barista yang dianggap hebat dengan teknik-teknik penyajian kopi yang dasyat, tetap tak mengapa karena menjaga kopi adalah kewajiban menjaga bumi.

Jauh sebelum Film dan lanjut ke kedainya, Filosofi Kopi, Rio Dewanto memang sudah menyukai kopi. Tidak dipungkiri dari film itulah kecintaannya bertambah. Memang dari awal film ini bukan hanya dibuat hingga bisa disaksikan di bioskop saja namun mengangkat Filososfi Kopi ini sebagai suatu konten yang dapat dikembangkan menjadi banyak hal, salah satunya tentunya kedai kopi yang sekarang berdiri di Melawai dan Bintaro, Jakarta. Entah disengaja ataupun tidak seolah tokoh Ben dan Jody muncul di dunia nyata. Ben seorang barista jenius diperankan oleh Chico Jericho dengan sahabatnya Jody seorang pengelola kedai yang handal diperankan apia pula oleh Rio Dewanto, hadir pula di kedainya, Filosofi Kopi.  

Kembali ke filosofi-nya bahwa kedai kopi adalah tempat berinteraksi manusia lewat obrolan. Jangan mencari wifi dengan kecepatan tinggi disini karena memang sengaja tidak disediakan, orang-orang sengaja dibuat asyik bukan dengan dunianya sendiri melalui gadget masing-masing namun berkomunikasi secara verbal dengan kawan yang mereka ajak ke kedai bahkan dengan penikmat kopi lainnya. Hal ini berlaku hingga kini di Aceh, konon di sebuah kedai kopi di Aceh dimana pada saat itu masih menjadi tempat konflik, tentara GAM dan TNI, ketika ada di kedai kopi mereka meletakan senjata untuk ngobrol dan bercengkrama, melupakan konfliknya, sebesar ini filosofi sedai kopi yang sebenarnya. “Warung kopi itu identik dengan orang ngopi dan ngobrol, walaupun tidak semuanya datang untuk minum kopi,” jelas Rio.

Film Filosofi Kopi mempunyai beberapa program lain diantaranya dengan mengajak penontonnya jalan-jalan ke perkebunan kopi. Ini dimaksudkan supaya orang-orang tahu bagaimana proses kopi itu dari mulai biji hingga menjadi secangkir kopi yang siap diminum. Selain itu audiens pun belajar tentang kopi, bertemu petaninya hingga akhirnya tersadar akan potensi besar dari bisnis kopi yang sayang jika tidak dikembangkan. Walaupun sebenarnya bukan hanya kopi saja namun kekayaan agrikultural lainnya yang dibicarakan.

Dari perjalanannya berkeliling nusantara dan melihat potensi kopi, sebenarnya potensi yang dimilikinya sangat mampu mengangkat daerah asalnya seperti di Bali dan Takengon yang notabene kelompok taninya terstruktur dan terorganisir dengan baik. Hanya saja banyak di daerah lain yang petani-petaninya masih kurang terdidik. Namun jika kita melihat dari varietasnya, kopi nusantara itu tidak kalah dengan kopi dari sentral amerika, produsen kopi nomer satu di dunia. Hanya saja konsistensi rasanya yang harus dipertahankan. Menjadi kopi terbaik di dunia, petani-petani kopi nusantara harus didukung oleh organisasi yang baik serta didukung oleh menteri dan departemen pertaniannya. Permasalahannnya banyak petani kecil tidak memiliki cukup akses untuk mendapatkan konsumen karena tidak didukung oleh infrastruktur yang baik. Harus membina para petani agar dapat menghasilkan produksi yang baik walaupun masih banyak diantara mereka yang takut karena mungkin pada jaman dulu mereka menjual kopinya  ke tengkulak dengan targa yang murah. Jadi mereka masih berpikiran kita akan berbuat jahat pada mereka. Pelan-pelan memberikan edukasi kepada para petani, salah satunya dengan membuat program di salah satu televisi swasta nasional, viva barista. Program ini lebih mengangkat dunia petani, kedai-kedai kopi kecil di kota-kota terpencil, memberikan berita kepada khalayak tetang industri pertanian kita terutama kopi. Setelah selesai masa tayang di musim yang pertama, Rio yang bertindak sebagai produser sedang mempersiapkan konsep untuk musim ke – 2  Viva Barista, serta mempersiapkan talkshow tentang bukan hanya kopi namun komoditi lain dengan nara sumber yang terkait.

Sekarang ini dengan banyaknya kedai-kedai kopi lokal dengan barista-barista muda memiliki keperdulian yang besar terhadap bisnis hulu kopi. Kedai-kedai kopi memiliki petani binaan sendiri, berhubungan langsung dengan mereka sehingga petani ini sendiri mendapatkan informasi langsung tentang bagaimana cara mengembangkan varietas kopi yang baik. Tidak hanya bergantung kepada pemerintah atau individu saja, dari baristanya yang notabene berkecimpung di hilir ini, mereka harus punya kepedulian yang besar terhadap perkembangan kopi di Indonesia juga.

Susah menjawab pertanyaan tenting bagaimana kopi yang enak karena kopi itu berbeda-beda setgap jenisnya. Tergantung harinya ingin kopi jenis apa. Paling tidak untuk expresso, Rio  lebih senang dengan keasaman yang rendah, kopi tubruk lebih suka yang pahit. Diakuinya pula bahwa dia punya alat meracik kopi sendiri yang lumayan lengkap, bahkan memungkinkan untuk membuka sendiri kedai di rumah. Keahlian dalam membuat dan tentu saja mencicipi kopi ini membuatnya diundang untuk menjadi juri tamu kompetisi kopi. Seperti acara yang diadakan oleh Delish Cafe, tanggal 27 Mei 2016 lalu, dimana Rio didapuk sebagai juri undangan dalam acara Fun Battle Best Cappuccino Throwdown. Banyak bermunculan barista berbakat yang tidak hanya mengandalkan kecanggihan alat, banyak pula diantara mereka yang mempergunakan alat-alat manual.

Melalui Film, kedai hingga pengetahuannya Rio Dewanto mencoba menyebarkan hal ini pada teman-teman di Nusantara bahwa kita memiliki kekayaan ini kenapa tidak kita nikmati. Semua orang berhak untuk menikmati kopi yang segar di atas cangkir, tetapi ketika mereka memilih mau kopi sachet, tanpa gula, tanpa susu, biarlah selera meraka masing-masing yang memutuskannya. Biarlah kopi menjadi sarana komunikasi.

Diakuinya tidak mudah mengurusi mahluk hidup, seperti pengalamannya mengurusi peternakan sapi hingga memiliki kenangan kurang mengenakan tentangnya. Sama halnya dengan kopi yang notabene mahluk hidup juga, hingga pada akhirnya menyadari bahwa perkebunan kopi bukan wilayah bisnisnya. “Biar mereka menjadi hulu dan saya hilirnya,” ucapnya. Bagaimanapun juga sesuatu yang baik yang mengalir dari hulu  tentu saja akan diterima dengan sangat baik oleh hilirnya. Hulu yang jika kita renungkan bukan hanya sebagai penghasil kopi yang keharuman dan kelezatannya bisa kita nikmati saja, namun dengan menjaga kesuburannya, secara tidak langsung menjaga bumi kita dari kerusakan dan kekeringan yang berujung bencana. Itu filosofi utamanya.

 

Exclusive Interview, Tim Warna Nusantara dengan Rio Dewanto, Aktor, Pemilik dan Mengelola Kedai Filosofi Kopi  

 

 

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *