Menjadi Tukang Kopi
Januari 5, 2016
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Menjadi Tukang Kopi

“Tukang kopi ya bikin kopi jangan nipu pakai bahan-bahan kimia segala.” – Widyapratama, Pemilik dan Pengelola Kopi Aroma

Jalan hidup manusia memang rahasia Ilahi walaupun sang Maha Besar memberikan kesempatan bagi umat-Nya untuk merubah nasib masing-masing. Menjalani pekerjaan yang ada dengan tekunpun pada akhirnya akan merubah nasib kita pada akhirnya. Demikian halnya dengan Widyapratama, walaupun memiliki pendidikan yang tinggi hingga dapat mengajar di Perguruan-Perguruan Tinggi ternama namun tetap nasibnya tak ingin dirubah, menjadi tukang kopi.

Profesi tukang kopi ini memang sudah melekat dengannya sedari kecil. Sebuah pabrik kopi yang hingga kini masih ada dan cukup terkenal di Bandung, Kopi Aroma, adalah rintisan mendiang sang ayah, Tan Houw Sian dari tahun 1930. Bukti dari ini semua masih dapat kita jumpai ketika berkunjung ke Kopi Aroma, mulai dari arsitektur bangunan, gudang penyimpanan kopi, alat-alat pengolahan kopi hingga ke cara pengolahannya. Memang semua tidak ingin ditinggalkannya karena menurutnya semua sudah sesuai dengan kebutuhan. Ujarnya,“teknologi harus tepat guna, tidak boleh ada yang diganti.” Sebagai contohnya saja adalah tungku perapian, bahan materi yang dipergunakan 70% campuran semen sisanya dengan gula jawa, walaupun seharian dipakai bagian luarnya tetap saja dingin dan kuat dipakai hingga puluhan tahun. Memang semua ilmu ini didapat dari Sang Ayah yang sebelum membuka usaha kopi sendiri bekerja di perkebunan Belanda dari periode 1920 hingga 1930. Bahkan sebagai bukti kerja kerasnya dulu 2 buah sepeda onthel yang biasa dipakainya bekerja dipajang diatas pabrik sebagai pengingat bagi anak cucunya untuk tidak berleha-leha.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Widya selalu membuka tangannya lebar-lebar bagi para pengunjung Kopi Aroma. Sebuah berkah yang didapat selain bisa melihat cara mengolah kopi kitapun akan mendapatkan pesan-pesan moral yang sangat bermanfaat. Keseimbangan hidup adalah prinsip paling mendasar yang iya pegang teguh. Kejujuran selalu diutamakannya. Sifat ini pula yang dia bawa ke usaha kopinya. Merasa dibayar oleh pembeli maka yang membayar itu harus selamat setelah meminum kopinya. Semua proses pembuatan kopi harus dilalui dengan benar, tidak bisa dipercepat karena membuat produk makanan prosesnya tidak dapat diburu-buru.

Begitu pula dengan Kopi Aroma, jangan hanya membayangkan setelah kita seduh namun prosesnya yang bisa memakan waktu hingga bertahun-tahun. Ya, bertahun-tahun. Secara singkatnya prosesnya bisa diuraikan seperti ini; setelah biji kopi merah dipetik selama 2 minggu dibiarkan dulu di kebun kopi, setelah sampai ke pabrik selama 7 jam dijemur, untuk biji arabika akan disimpan di gudang selama 8 tahun untuk mengurangi asamnya, untuk robusta akan disimpan di gudang selama 5 tahun untuk menyaring kadar kafeinnya, setelah selama itu biji kopi dilepas kulitnya dan disangrai selama 2 jam hingga akhirnya digiling. Memang secara matematis proses ini banyak menghilangkan kunatitas kopi karena dari setiap karung bobotnya akan berkurang satu kilo bahkan setelah disangrai akan berkurang hingga 20% namun demikian kita bisa nikmati sendiri kualitas Kopi Aroma seperti apa. Walaupun demikian kembali ke prinsip hidupnya untuk selalu ikhlas dan jujur karena ketika dipanggil oleh Sang Pencipta yang ditanya bukan jumlah hartanya namun darimana mendapatkannya. Jika percaya ini maka rejeki akan mengalir terus. “Tukang kopi ya bikin kopi jangan nipu pakai bahan-bahan kimia segala.” ujarnya bersemangat.

Melalui proses yang panjang ini pula membuat orang yang meminum kopinya tidak akan merasakan perut kembung. Bahkan dari beberapa penelitian dengan meminum kopi penderita penyakit darah tinggi, jantung, diabet dan darah rendah bisa sembuh. Kulit biji kopi sendiri bisa dimanfaatkan sebagai pupuk  dan pakan ternak.

Antrian panjang orang akan kita temui di depan Toko Kopi Aroma di Jalan Banceuy No. 51 Bandung. Setiap harinya Widya tidak pernah menghitung berapa bungkus kopi yang laku terjual karena memang tidak mengejar angka penjualan, kalau sudah capek ya berhenti biar esok hari dilanjutkan lagi, yang penting semua yang membeli kopinya merasa puas. Antrian inipun diakuinya adalah pemberian dari Tuhan dan tentu saja kopinya yang istimewa. Kopi yang tidak memakai bahan wewangian, yang mebuat wangi kopi tidak bertahan lama, setelah pansnya hilang maka wanginyapun hilang. Sebagai produk kopi lama maka harus diseduh dengan air mendidih. Saran lainnya jangan menambahkan susu jika ingin minum kopi karena akan menghilangkan aroma kopi tersebut, di pagi hari sebaiknya meminum kopi robusta karena akan menambah stamina untuk bekerja, untuk kopi arabica lebih baik diminum ketika suasana hati sedang senang.

Walaupun sibuk mengajar mata kuliah Manajemen Operasional dan Kewirausahaan di Universitas Padjadjaran dan Universitas Maranatha Bandung, mengolah biji kopi hingga bermandikan peluh dan serbuk kopi tetap dilakoninya. Kedua profesi yang tidak akan ditinggalkannya. Dari mengajar penghasilannya cukup untuk menghidupi anak-anak yatim piatu cacat di Panti Asuhannya, menjadi tukang kopi merupakan jiwanya. Jiwa yang didapat sebagai pewaris tunggal Kopi Aroma. Untuk selanjutnya tentu saja generasi penerus sudah siap meneruskan jiwanya, menjadi tukang kopi.

 

Liputan Yudiari Widyawaty, Kontributor Warna Nusantara

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *