Maret 7, 2016
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Mengangkat Gengsi Kuliner Nusantara

“Bukan berarti cara masak di Indonesia jelek, hanya untuk membawa sesuatu ke level-level tertentu diperlukan usaha, salah-satunya memodernisasi cara masak.” – Chef Danny Boy Gunawan, Chef de Cuisine The Papandayan Hotel Bandung

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Nusantara negeri yang kaya akan rempah-rempah. Rempah yang mempengaruhi pula kekayaan kulinernya. Patut disayangkan kekayaan ini seolah dimiskinkan dengan menterengnya kuliner luar. Mungkin karena kalah gengsi kalau gepuk disandingkan dengan steak wagyu, tentunya orang yang mengkonsumsinyapun bereda, jika gepuk dinikmati dipinggir jalan juga tetap saja nikmat, sedangkan sebaliknya steak lebih cocok kita nikmati di cafe atau resto hingga hotel yang mewah. Jika ini alasannya kuliner kita kalah bersaing jadi mungkin cara mengatasinya adalah dengan mengangkat gengsi makanan tadi.

Sedemikian yang terlintas ketika kami mencoba makanan yang disajikan di Cantigi Wine & Dine Restaurant, The Papandayan Hotel Bandung. Menu-menu seperti gepuk, sup kepiting, soto bandung, pepes ikan hingga colenak sebagai makanan penutupnya diolah dengan modern serta disajikan sangat apik layaknya makanan hotel berbintang lima. Memang inilah yang selama ini diidamkan oleh Chef Danny Boy Gunawan, Chef de Cuisine The Papandayan Hotel Bandung, kuliner nusantara yang berkelas.

Sebetulnya Chef Denny Boy sudah lama mengidamkan hal ini, sedari masih bekerja di lar negeri. Memang bekerja di luar negeri ini bukan hanya menguntungkan secara financial namun pula bertambahnya wawasan. Sedikit iri dengan tampilnya masakan-masakan India, Pakistan, Filipina, Thailand bahkan mereka ini memiliki restauran sendiri karena memang permintaan akan makanan-makanan ini lumayan tinggi, sedangkan masakan tradisional kita walaupun ada ditampilkan dengan alakadarnya saja. Kesempatan pertama akhirnya muncul juga ketika bekerja di Doha, Qatar, Kedubes Indonesia disana mengadakan jamuan makan malam dengan tamu undangan dari 17 Kedubes negara lainnya. Indonesia sebagai tuan rumah ingin menampilkan makanan tradisional nusantara yang otentik, sebagai chef yang terpilih, merasa tertantang dengan ajakan ini. Akhirnya mebuat konsep makanan nusantara dengan nama-nama asli Indonesia, diantaranya yang disajikan adalah gado-gado dan lumpia semarang. Makanan ini disajikan serta dibuat dengan cara yang modern, walaupun belum sempurna ternyata Chef Denny Boy mendapatkan banyak pujian dari tamu-tamu yang datang. Pengalaman berharga ini membuatnya lebih percaya diri dan ingin menampilkannya pula di negerinya sendiri, Indonesia.

Setelah berkelana selama 13 tahun di negeri orang dan bekerja di negeri sendiri ternyata kesempatan untuk menyajikan makanan nusantara dengan kelas internasional belum kesampaian juga. Sampai pada akhirnya mengikuti acara pencarian bakat memasak di televisi, Top Chef. Merasa dipermalukan oleh seorang juri berkebangsaan asing, walaupun bukan orang Indonesia ternyata dia hapal karakter dari semua rempah-rempahnya, implementasinya dalam masakan seperti apa serta teknik pengolahannya bagaimana. Merasa diajari orang asing di negeri sendiri. Hingga akhirnya mendapatkan jawaban kenapa pendatang mau mempelajari kuliner nusantara karena kuliner ini yang belum digali, pasar akan kuliner ini besar sekali, tanpa harus banyak bersaing dengan kuliner barat, eropa atau asia lainnya. Mereka menampilkan makanan dengan rempah-rempah nusantara ke level yang berbeda. Hal inilah yang menjadi inspirasi.

Hingga akhirnya bergabung di The Papandayan Hotel Bandung. Dirasa masakannya pas dengan konsep hotel yang banyak mengusung nusantara. Setelah dipresentasikan dihadapan direksi, general manager dan top management lain makanannya dapat diterima dan segera ditampilkan di Cantigi Wine & Dine Restaurant. Walaupun diakuinya belum 100% sama namun sudah mendekati, seotentik mungkin dari rempah-rempah nusantara karena Indonesia terkenal dengan rempahnya.

Pengalaman mengikuti ajang pencarian bakat di Asia Food Channel sedikit pula menambah perbendaharaan memasaknya. Acara yang bekerjasama dengan Departemen Pariwisata Filipina ini membuatnya berkeliling negeri ini. Sangat disayangkan acara ini tidak diadakan oleh Kementrian Pariwisata Indonesia karena menurutnya lebih kaya dibandingkan Filipina, baik dari obyek wisatanya maupun kulinernya. Bagi seorang chef mengikut ajang seperti ini sangat diperlukan karena melalui ajang ini dia dapat dikenal. Lewat ajang ini pula Chef Denny Boy ingin menunjukan gengsi profesi seorang chef, profesi yang didapat tidak secara instan namun melalui perjuangan dan kerja yang keras.

Memang kerja kerasnya boleh dikatakan membuahkan hasilnya sekarang. Walaupun pada awalnya tidak ingin menjadi chef. Bahkan kakaknya yang mendaftarkannya ke Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung hingga akhirnya lulus tes dan diterima di jurusan Kitchen. Bahkan berkat neneknya pula menyobek pengumuman UMPTN yang menyatakan Chef Denny Boy diterima masuk ke Ilmu Komunikasi, Universitas Padjajaran, program studi yang diidamkannya. Mungkin itu kenangan termanis dengan sang nenek yang sekarang tidak dapat melihat kesuksesannya. Ceritanya mungkin akan lain kalau saja sang nenek tidak meninggal pada saat pengambilan gambar Top Chef, mungkin tidak menjadi runner up tapi juara. Walaupun demikian apa yang ditampilkannya sekarang sudah menjadi juara.

“Cooking with soul”, adalah filosofi memasaknya. Ketika kita mengerjakannya dengan soul dan passion, makanan apapun yang disajikan hasilnya pasti enak. Memasak itu jangan terpaksa, bila sedang tidak mood, biar orang lain yang memasak dibawah pengawasan kita. Lebih baik beristirahat dulu menunggu mood yang baik kembali datang.

“Bukan berarti cara masak di Indonesia jelek, hanya untuk membawa sesuatu ke level-level tertentu diperlukan usaha, salah-satunya memodernisasi cara masak. Berbicara tentang kuliner  tradisional nusantara yang otentik kita tidak dapat membandingkan dengan misalnya rumah makan padang, itu sudah menjadi jatah mereka buat apa kita ambil kalau kita olah tidak akan seotentik mereka. Itu yang membedaknya.” ujarnya menutup perbincangan dengan Warna Nusantara.

 

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *