Menciptakan Boss Boss Kecil yang mem-BUMI
Desember 9, 2015
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Menciptakan Boss Boss Kecil yang mem-BUMI

“Mengapa kita tidak merubah mindset kita untuk menjadi Boss Kecil …,” – Hely Herlina Ayudia, Ketua Koperasi Bina Usaha Mandiri Indonesia

Memang tidak diharamkan bagi kita untuk bekerja mencari dengan menjadi pegawai. Bahkan mungkin bagi sebagian orang jadi karyawan lebih enak daripada berwirausaha, cukup atur saja gaji bulanan kita yang sudah pasti datangnya tiap akhir bulan. Bagi sebagian orang yang memilih jalan menjadi wirausahawan tentu jalan pikirannya berbeda, bagi mereka lebih enak bekerja tanpa diperintah orang lain dengan mendapatkan penghasilan yang bisa jadi lebih besar dari yang didapat ketika menjadi karyawan tiap bulannya, lebih baik menjadi boss kecil dalam usaha yang dirintisnya sendiri. Sedikitnya demikianlah yang ada di benak Hely Herlina Ayudia, Ketua Koperasi Bina Usaha Mandiri Indonesia atau lebih familiar dengan istilah Koperasi BUMI. Bukan hanya ingin maju sendirian karena itu iapun berusaha untuk menciptakan Boss-Boss kecil yang mem-Bumi.

Awalnya, Hely beserta ketiga rekannya ingin membuat sebuah badan hukum yang tidak berorientasi kepada uang. Secara kebetulan salah satunya sudah terlebih dahulu terjun dibidang distribusi bahan-bahan makanan yang notabene konsumennya kebanyakan dari Usaha Kecil Menengah atau UKM. Para penggerak ekonomi kecil menengah ini tidak memiliki wadah untuk menampung keluh-kesah mereka. Akhirnya didirikanlah Koperasi BUMI yang salah satu tujuannya untuk mewadahi itu. Pemilihan badan usaha berbentuk koperasi ini diambil karena dirasakan lembaga ini yang tidak mengutamakan keuntungan besar semata. Lembaga Koperasipun dianggap pas dengan UKM dan dirasa lebih membumi sehingga para penggerak ekonomi menengah dan kecil tidak segan untuk bergabung didalamnya selain tentunya kesan kekeluargaannya yang lebih muncul.

Sebelum membuka Koperasi BUMI ini, Hely dan kawan-kawan yang sekarang lebih dikenal sebagai pengurus koperasi terlebih dahulu riset ke UKM-UKM berbasis makanan dan minuman yang kebanyakan produknya memakai terigu dan gula. Kebutuhan apa yang mereka perlukan, keluh kesahnya ditampung hingga akhirnya terbentuklah wadah bagi mereka, Koperasi BUMI ini. Permasalahan yang timbul dari tidak berjalannya usaha biasanya bukan terletak dari permodalan karena jika dikumpulkan uang terkumpul banyak namun tidak disiplin dalam pengelolaannya hingga akhirnya pembelian bahan macet, tidak bisa membeli bahan-bahan dan pada akhirnya usaha tidak bisa berkembang padahal pula mereka memiliki potensi.

Dari hasil ini pula diputuskan bahwa Koperasi BUMI bukan koperasi simpan pinjam tetapi koperasi konsumen dimana koperasi ini fungsinya sebagai penyedia bahan baku serta peralatan bagi anggotanya. Lebih berfokus kepada UKM yang bergerak dibidang produksi makanan atau minuman. Jadi secara sederhana bisa dibilang bahan bakunya yang disalurkan dulu ke anggota, begitu bahan baku jalan mereka akan terpancing untuk produksi terus dari sana akan ketahuan kebutuhan lainnya apa. Dari sini pula diketahui bahwa kebutuhan lainnya adalah alat-alat produksi seperti loyang-loyang hingga ke mesin-mesin. Jadi Koperasi BUMI ini memberikan pendanaan dalam bentuk alat-alat produksi yang kedepannya dibayar dengan mencicil secara ringan. Tidak ada pinjaman dalam bentuk uang tunai bahkan barang-barang yang tidak ada dalam proses produksi tidak akan didapatkan disini. Hal kecil yang dapat merubah jalan berpikir kita terhadap apa yang biasa mereka dapat selama ini, uang.

Bukan hanya bahan baku serta alat-alat produksi yang di dapat para anggotanya dari Koperasi BUMI,  melalui baking center-nya didapat pula pelatihan-pelatihan untuk menambah keahlian. Baking center yang dinamakan BUMI Baking Center ini selain dipergunakan sebagai tempat pelatihan adalah sebuah wadah berbagi pengalaman dan wawasan.

Hingga kini, selama satu tahun telah tercatat 400-an orang yang terdaftar sebagai anggota Koperasi BUMI. Tentu untuk mendapatkan anggota sebanyak ini tidak bisa dikatakan mudah, diperlukan usaha promosi yang baik. Selain promosi melalui Media Sosial, kunjungan ke UKM-UKM pun sering dilakukan. Biasanya memang UKM-UKM ini memiliki jaringan yang luas secara tidak langsung dari satu saja UKM yang dibantu maka beritanya akan tersebar secara luas ke UKM lainnya. Tiga bulan sekali Koperasi BUMI mengunjungi kelurahan-kelurahan untuk memberi pelatihan-pelatihan. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian BUMI bagi masyarakatnya. Dari acara ini juga akhirnya koperasi ini banyak dikenal dan akhirnya informasi benefit yang diperoleh dengan menjadi anggotanya tersebar secara luas. Seiring berjalan waktu banyak yang datang langsung untuk mendaftar menjadi anggota.

Dalam 2 tahun kedepan lebih berfokus ke Kota Bandung dan sekitarnya walaupun tidak menutup kemungkinan membuka keanggotaan dari luar daerah lain, karena  kota ini potensinya besar sekali serta jangan mengawang-awang ingin bergerak lebih jauh tapi yang dekat tidak diperhatikan. Memiliki cakupan keanggotaan yang luas, ada yang hobby saja memesan bahan dengan sekali-kali saja, skala mikro yaitu UKM yang memproduksi ketika ada pesanan saja, skala kecil yaitu UKM yang mulai memproduksi dalam skala kecil, skala menengah UKM dengan skala produksi lebih besar, hingga anggota dengan skala besar.

Amat sangat meringankan anggotanya dimana mereka hanya diwajibkan menabung sebesar Rp 50.000,-/bulan. Tentu dengan hanya iuran ini saja perbulannya tidak dapat menutupi semua operasional koperasi. Dalam hal ini pengurus Koperasi BUMI mencari dana dari pihak ketiga yang mempercayakan uangnya untuk mereka kelola. Dana ini semacam deposito atau tabungan berjangka. Dana ini akan diputar ke bagian lain yang lebih menguntungkan salah satunya di bahan baku. Yang perlu dicatat adalah koperasi ini walaupun didominasi dengan penggunaan gula dan terigu namun tidak ada perusahaan dari produk-produk ini yang menjadi sponsor utama sehingga lebih independen.

Bekerja selama 5 tahun di dunia perbankan dari karyawan biasa hingga menjadi Manager Prioritas di sebuah Bank Swasta tidak menjadikan Helly Herlina Ayudia puas. Merasa usaha kerasnya hanya dinilai segitu-segitu saja oleh perusahaannya dulu, bahkan berapapun uang yang kita hasilkan untuk perusahaan tersebut penghasilannya ya tetap saja yang kita terima setiap bulannya. Untuk Helly pribadi dengan membuka koperasi dapatnya untung bisa dibagikan lagi kepada orang lain.Di akhir periode, melalui SHU (Sisa Hasil Usaha) bukan hanya pengurusnya yang dapat namun tentunya anggotanya. Dengan banyak berbagi tentu banyak pula berkah yang didapat. Disini dirasakan malah jauh lebih banyak yang didapat karena banyak yang mendoakan. Karena dari awal dimemulai dengan niat yang baik mudah-mudahan bisa diterima dan menjadi doa.

 “Mengapa kita tidak rubah mindset kita untuk menjadi boss kecil dan kita buat sesuatu yang kita pikirkan bagaimana caranya menghasilkan uang untuk diri kita sendiri bahkan orang lain,” ujarnya. Salah satu usaha nyata yang dilakukan tentunya dengan mendirikan Koperasi BUMI ini, koperasi pencipta boss-boss kecil di Indonesia. Tentunya boss-boss kecil yang dicetak dari sebuah lembaga yang lebih mengedepankan asas kekeluargaan sehingga mereka tidak akan lupa dengan Bumi yang dipijaknya.

 

 

 

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *