November 18, 2015
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Memperkenalkan Kembali Kopi Jawa Barat ke Dunia Internasional

“Karena kopi itu bisa menyentuh hidup orang banyak.” – Natanael Charis

Belanda adalah salah satu negara pertama di Eropa yang berhasil membudidayakan kopi di tahun 1616 dan pada tahun 1690 biji kopi ini dibawa ke Pulau Jawa untuk diekploitasi secara besar-besaran. Sebelum tahun 1808, perkebunan kopi hanya di Distrik Sunda. Hanya ada beberapa kebun di wilayah timur, dengan produksi tidak mencapai sepersepuluh bagian yang ada. Namun, di bawah pemerintahan Marshal Daendels, tanaman ini tumbuh di berbagai lahan dan semua perkebunan hanya pada kopi terkecuali, dan akhirnya hampir seluruh propinsi di Jawa dipenuhi kebun kopi.” (Thomas Stamford Raffles, The History of Java, Hal. 82). Bahkan kopi-kopi dari Jawa Barat ini yang biasa dihidangkan dan diminum hampir seluruh masyarakat Eropa pada abad ke-18 hingga akhir abad ke-19. Walaupun pada akhirnya Pemerintah Belanda mulai beralih ke tanaman teh sesuai dengan primadona komuditas rempah pada saat itu hingga akhirnya pamor sang kopi pun mulai redup walaupun hingga kini kualitasnya masih bisa diunggulkan. Berharap kopi dari Jawa Barat dapat dikenal kembali oleh dunia setidaknya itulah yang bukan hanya dicita-citakan oleh Natanael Charis, seorang Master Coffee asal Bandung, namun memperkenalkan kembali Kopi Jawa Barat ke Dunia Internasional.

Gelar Master Coffee disematkan kepada orang-orang yang berperan besar dalam industri kpi tersebut. Sebagai satu-satunya kontestan dari Indonesia bahkan Asia yang mengikuti kompetisi master coffee di acara London Coffee Festival 2015, acara ini dipergunakan sebaik-baiknya untuk memperkenalkan kopi dari Jawa Barat ke luar negeri. Dalam acara yang diikuti oleh kebanyakan Master Coffee yang menuntut keahlian mereka dalam hal lidah sebagai indera perasa, kecepatan, ketepatan hingga mengkreasikan kopi ini dibagi ke dalam beberapa kategori lomba; the cupping, the brewing, the latte art, the order, the espresso blend serta the signature drink. The cupping adalah kategori lomba dengan mencicipi kopi yang sudah disediakan untuk kemudian disajikan dengan penampilan dan rasa yang sama. The brewing adalah kategori yang menuntut para barista mengolah biji kopi dengan teknik brewing yang benar. The latte art adalah kategori lomba yang menguji keahlian barista dalam menghias kopi. The order adalah kategori lomba yang menuntut kecepatan barista dalam menyajikan kopi dimana dia harus mempu menyajikan 10 minuman kopi berbeda dalam waktu 9 menit. The espresso blend adalah kategori lomba yang menantang keahlian barista dalam mengkombinasikan 6 biji kopi menjadi secangkir kopi yang enak. Yang terakhir adalah The signature drink dimana barista diberi kesempatan untuk membawa biji kopi pilihan sendiri. Dalam kategori ini Natanael Charis membawa biji kopi dari Garut.

Kompetisi yang diikuti oleh para barista melalui undangan khusus ini rencananya akan diadakan kembali tahun depan. Sebagai salah seorang yang diundang Natanael Charis secara khusus akan membawa biji kopi dari Sumedang untuk diperkenalkan. Baginya memperkenalkan biji kopi asli Indonesia khususnya Jawa Barat adalah suatu keharusan. Sama halnya seperti di Morning Glory, perusahaan kopi asli dari Jawa Barat yang bermarkas di Bandung tempatnya bernaung. Ingin memperkenalkan kopi Jawa Barat itu seperti apa kepada konsumennya adalah salah satu alasan karena menurutnya pelanggan itu berhak tahu kopi itu darimana, prosesnya bagaimana, apa yang harus dia rasakan ketika dia minum kopi itu, harus lebih detail, konsumen berhak mengetahui apa yang dia minum. Selain itu, karena kopi itu menyentuh hidup orang banyak, dari kebunnya hingga ke cangkir melewati 40 orang. Bisa kita bayangkan dari secangkir kopi yang kita nikmati bisa mensejahterakan 40 orang yang diantaranya ada petani dan pedagang kopi.

Sepertinya memang jalan kopi ini yang sekarang lebih serius digelutinya setelah fotografi. Dua dunia yang menurutnya tidak berbeda jauh dimana keduanya sama-sama mengedepankan kreatifitas, hanya medianya saja yang berbeda. Kopi itu seperti melukis, layaknya kanvas kosong yang mau kita isi dengan warna merah, biru atau lainnya. Sama menariknya dengan kopi yang bisa dikreasikan melalui tampilan dan rasanya, lebih fruity, lebih ke coklat, ke gula aren, bisa berasa manis, lebih ke asam, hal yang menjadi keseruan dalam mengolah kopi.

Tentu saja harapan kedepannya ingin kopi asli dari Jawa Barat dapat dikenal di dunia karena dulunya kopi yang dikonsumsi di Eropa jaman dulu berasal dari daerah ini. Menurutnya untuk mewujudkannya memerlukan kesadaran dari berbagai pihak akan porsi dan bagiannya masing-masing, petani jangan ingin menjadi roaster dan sebaliknya padahal jika kolaborasi dan bekerjasama dengan baik semua akan terkenal. Sekarang ini kita masih kurang pengetahuan dan kerjasama, masih banyak petani yang bisa dibodohi oleh pedangang. Sebagai usaha dalam rangka regenerasi barista yang diharapkan mampu berkompetisi hingga ke luar negeri, Natanael Charis mendirikan coffee school atau sekolah edukasi kopi di Morning Glory. Sekolahnya ini mendapatkan akreditasi dari Eropa sehingga lulusannya mendapatkan sertifikat internasional. Semoga dengan banyak penerusnya ini mereka tidak lupa kepada kopi daerah asalnya.

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *