Juli 15, 2014
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Melayani Sejak Tahun 1956

“Harus jujur jangan jahat ka batur.” – Ibu Tanita, Pendiri Warung Lotek Macan

Warung ini selalu ramai dikunjungi pembelinya. Tempatnya hanya di halaman sebuah rumah, hidangan dijajakan layaknya di sebuah warung makan. Ramai dikunjungi pembeli. Hebatnya lagi hal ini terjadi sedari jaman kakek-nenek, orang tua dan kita-kita. Melepas penasaran Tim Jalan-Jalan Warna Nusantara langsung mendatangi lokasi untuk berbicang-bincang dengan Ibu Wawa, pemilik Warung Lotek Macan.

Warung ini pertama kali buka pada tahun 1954, tanggal dan bulannya tidak dapat dipastikan namun awalnya berlokasi di Jalan Kalipahapo. Warung ini sendiri di buka pertama kali oleh Ibu Tanita, ibu kandung Ibu Wawa pengelolanya sekarang. Bu Tanita membuka warung ini karena keadaan yang memaksa dikarenakan ditinggalkan suaminya yang meninggal dunia. Dituntut untuk menghidupi ketiga anaknya yang masih kecil, beliau membuka warung kecil-kecilan dengan menu utamanya asinan, kolak dan lotek. Dibantu oleh Ibu Wawa anaknya tertua dan kedua adiknya warung ini akhirnya bisa menjadi sumber nafkah keluarga.

Keadaan pula yang memaksa mereka untuk berpindah berdagang dari Jalan Kalipahapo ke Jalan Macan lokasinya sampai dengan sekarang. Pada suatu masa di tahun 1974 pemilik rumah kontrakan mengusir mereka. Namun siapa sangka di tempat inilah justru warung itu bisa berkembang dan makin ramai dikunjungi pembeli hingga sekarang. Dengan andalan loteknya Warung Lotek Macan mampu bertahan di tengah persaingan dunia kuliner di kota Bandung yang sangat ketat. Usaha ini sekarang dikelola oleh Ibu Wawa dengan dibantu oleh keponakan-keponakannya. Usaha yang akan terus dilestarikan keluarga ini. Bagi yang belum tahu, Lotek adalah makanan yang berbahan utama rebusan sayuran segar dengan bumbu ulekan kacang dan rempah-rempah yang lainnya. Lotek ini berbeda dengan pecel, perbedaannya dibagian bumbunya dimana pada pecel bumbunya disiramkan ke sayurannya sedangkan lotek si sayuran dicampurkan ke dalam ulekan bumbu kacang kemudian diaduk hingga bumbu merata. Si lotek ini berbeda juga dengan karedok, perbedaannya ada pada sayurannya, karedok biasa menggunakan sayuran segar tanpa di masak seperti layaknya pada lotek.

Berhubung di Bulan Ramadhan Warung Lotek Macan tidak menjual lotek karena alasannya kasian yang ngulek kecapean, menu andalan lain yang terkenal terutama di bulan ini adalah kolak campur. Kolak campur ini terdiri-dari pisang, candil, sagu ambon, bubur jali dan bubur lemu. Menu lainnya adalah rujak cuka. Untuk mendapatkan makanan ini anda harus rela antri selain jam bukanya yang terbatas dari jam 12.00 sampai dengan 17.00 WIB dan tentu saja karena rasanya yang enak. Rasa memang salah satu hal yang sangat dijaga, dalam hal ini ibu Wawa turun langsung dalam hal memasak sampai dengan ke detail-detail kecil lainnya. Terbiasa membantu almarhumah ibunya dulu telah menjadikannya mencintai pekerjaan ini sehingga sudah menjadi sebagian jiwanya. Perkataannya tersebut terlihat dari prilaku Bu Wawa yang tidak bisa diam, dai mulai memegang kasir, membantu menyajikan makanan hingga memasak di dapur. Hal itu juga yang membuat badan sehat, ujarnya.

Seperti perkataan Ibunya “harus jujur dan jangan jahat sama orang lain,” Warung Lotek Macan yang sudah melayani sejak tahun 1956 selalu jujur dalam rasanya dan tentu saja membuat senang pengunjung yang menikmatinya. Kesederhanaan yang tidak menjadi hambatan usaha keluarga ini untuk maju, kesederhanaan yang menjadi unggulan di tengah persaingan dunia kuliner Bandung yang semakin tak terbendung.

 

 

 

 

 

 

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *