November 4, 2014
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Melanglangbuana Bersama Chef Ridwan Rosyadi

“Lebih baik memiliki 15 guru daripada hanya memiliki 1 guru saja.” – Chef Ridwan Rosyadi, Executive Chef Hotel Ibis Bandung Trans Studio

Pekerjaan yang membawanya berkeliling dari Asia hingga ke Benua Eropa. Pekerjaan yang awalnya tidak pernah terbayangkan olehnya dan tidak pula diberi restu orang tua. Hanya karena mendengar cerita pamannya yang bekerja di kapal mendapatkan gaji yang besar, membuatnya melepaskan kesempatan yang diidam-idamkan ribuan pemuda lainnya di Nusantara, melepaskan kesempatan untuk melanjutkan sekolah secara gratis karena mendapat beasiswa di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Langkahnya berbelok ke kota Bandung dan berkuliah di STPB Bandung (ENHAII). Harus drop out setelah enam bulan berkuliah di sana karena tidak mampu membiayai sekolah berhubung orang tua tidak merestui. Tidak ingin berhenti sampai disitu saja, melanjutkan kuliah di STIEPAR YAPARI AKTRIPA Bandung. Kuliah sambil bekerja dijalani untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Akhirnya semua yang diimpikannya mulai terwujud ketika pada tahun 2002 Chef Ridwan Rosyadi berkesempatan bekerja di Laguna Beach Hotel and Resort di Singapura. Kesempatan untuk tinggal di sana tidak dia sia-siakan, merasakan kurang mendapatkan ilmu di Indonesia, Chef Ridwan menimba ilmu di Vatel Singapore dengan mengambil program studi Culinary Art and Kitchen Administration. Setahun di Singapura kesempatan lainnya memanggil, tawaran menjadi Demi Chef de Party di Novotel World Trade Center Dubai, Uni Emirates Arab tidak ia sia-siakan. Bekerja selama dua tahun di sana kemudian bekerja sebagai outlet chef Four Seasons Hotel and Resort di Doha, Qatar. Sebelumnya pernah pula bekerja di Inggris tepatnya di Kota Hampshire dan tanpa menyiakan kesempatan untuk menimba ilmu di sekolah kuliner di sana.

Perantauannya untuk sementara harus diakhiri dulu ketika ayahnya sakit keras dan menuntutnya untuk pulang. Pulang ke Indonesia dalam keadaan tidak memiliki pekerjaan namun dengan pengalamannya bekerja di luar negeri tidak membuatnya harus menunggu lama. Petualangannya di Nusantara di mulai, berawal di Jakarta, bekerja sebagai Junior Sous Chef di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, kemudian meloncat pulau ke Kalimantan untuk bekerja sebagai Comserve Hotel Borneo, Samarinda. Selanjutnya menjadi Executive Chef di Novotel Lampung dan pada akhirnya pulang ke Bandung untuk bekerja di Aston Primera Pasteur Bandung dan akhirnya pada tahun 2011 hingga sekarang menjadi executive chef di Hotel Ibis Bandung Trans Studio.

Bagi pemula yang hendak berkarier di dunia kuliner, karier yang di raih oleh Chef Ridwan boleh jadi merupakan impian mereka, saranya adalah cari ilmu sebanyak mungkin jika memungkinkan belajar langsung dari para expatriat atau bahkan ke luar negeri karena di Indonesia culinary art belum menjadi keilmuan. Tentu saja selain faktor tadi, faktor bahasa sebagai alat komunikasi harus diperhatikan. Sebagai awalan kuasai dulu Bahasa Inggris. Sesuai dengan motto hidupnya “tidak berhenti belajar,” Chef Ridwan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bekerja di tempat lainnya. Dia sangat menyayangkan orang yang hanya bekerja di suatu tempat hingga belasan tahun karena baginya bekerja di suatu tempat sama dengan mendapatkan ilmu yang baru. “Lebih baik memiliki 15 guru daripada memiliki 1 guru,” ujarnya. Untuk mendapatkan keaslian dari sebuah masakan kita harus belajar langsung pada ahlinya. Belajar masakan Perancis, berangkat ke sana dan pelajari, makanan Itali berangkat ke sana dan pelajari bahkan jika kita ingin mempelajari masakan Betawi sekalipun, berangkat ke sana dan pelajari.

“Seorang executive chef bukan hanya memiliki keahlian memasak saja, dia harus memiliki keahlian dalam memimpin, mengenal cost & budgeting dan terbiasa dengan target penjualan. Untuk hal-hal tersebut seorang chef bisa mendapatkan gaji yang tinggi, bahkan menurut survey penghasilan chef di Indonesia itu hanya kalah oleh dokter dan pengacara,” tutup Chef Ridwan sambil mempersilahkan Warna Nusantara untuk mencicipi hidangan Iga Menara, buah karyanya.

 

 

 

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *