November 15, 2014
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Malah Dicubo, Harta Karunnya Para Perantau

[vc_row][vc_column][vc_column_text]

Rang Lubuak Aluang ka Pasa Usang,
Mambao ragi tapai jo lamang.
Manangih badan dirantau urang
Iyo taragak badan nak pulang. (www.cimbuak.net)
Sebuah pantun masyarakat Minang yang menggambarkan keriunduan para perantau akan kampung halamannya. Memang demikianlah identifikasi suku Minang di Nusantara ini, kaum perantau. Bandung adalah salah satu destinasi para perantau ini di Jawa Barat. Banyak sekali orang Minang merantau ke kota ini untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Kehidupan yang lebih baik ini bisa melalui jalur pendidikan,bisnis atau pun berdagang. Salah-satunya usaha yang dilakukan oleh kaum perantau minang ini adalah dengan cara membuka Rumah Makan Padang yang sudah tentu banyak peminatnya. Perantau Minang yang ada dan sudah lama menetap di sini tidak sedikit yang rindu akan masakan otentik kampung halamannya namun tidak semua restoran atau rumah makan padang menyajikan rasa itu. Hadirnya Rumah Makan Padang  Malah Dicubo ini mampu mengobati rasa rindu  para perantau Minang yang ada di Bandung akan kampung halamannnya.

Rumah makan Padang  yang terletak ditengah keramaian Kota Bandung, tepatnya di Terminal St. Hall  ini bisa menyedot perhatian para penggemar kuliner pedas disana. Tidak tanggung-tanggung bukan hanya masyarakat berdarah Minang saja yang menyukainya, melainkan juga Medan, Jakarta, Jawa dan suku lain. Bahkan penutur aslinya sekalipun menjadi penggemar rumah makan ini. Tidak sedikit para perantau Minang bertemu dengan saudara atau bahkan teman masa kecilnya dulu disini. Keaslian cita rasa yang selalu di jaga membuat para pelanggan rela menempuh  jarak dan padatnya kota.

“Rasanya yang asli, sama seperti makan di rumah sendiri. Kami selalu konsisten dengan keaslian bahan dasar rumah makan kami,” ujar Uda Yance, salah seorang anak dari pemilik rumah makan Malah Dicubo ini. Tak jarang beberapa bahan dasar seperti cabai giling, ikan asap, keripik jengkol dan juga rempah-rempah khasnya  kami datangkan langsung dari suplier mereka di  Sumatera Barat. Menu yang disajikan disana rasanya otentik dengan resep-resep khas daerah Payakumbuh.

Sedikit mundur ke belakang, rumah makan ini berdiri sejak tahun 1995. Dinamai dengan Malah Dicubo atau dalam Bahasa Indonesia berarti “malah dicoba” karena pada waktu itu orang tua Uda Yance mencoba-coba jenis usaha selepas beliau pensiun dari sebuah pabrik semen di Padang. Beruntungnya usahanya yang coba-coba ini tergolong sukses, terlihat dari habisnya menu-menu andalan. Menu-menu yang ditawarkan di Rumah Makan ini pun tergolong asing bagi warga Bandung walaupun tidak demikian dengan warga pendatang dari Padang. menu-menu seperti Teh Telor, Ikan Salais pasti asing ditelinga dan lidah.

Kemampuan  Malah Dicubo untuk melestarikan menu dan cita rasanya yang khas, mampu menghadirkan sejuta memori yang menjadikan rumah makan ini dicari-cari bak harta karun para perantau Minang yang ada di tanah sunda.

Dituturkan oleh Chef Rahmi Johan, Kontributor Warna Nusantara

 [/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/1″][vc_gallery type=”image_grid” interval=”3″ images=”2592,2593,2594,2595,2597,2596″ onclick=”link_image” custom_links_target=”_self”][/vc_column][/vc_row]

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *