Layaknya Periuk untuk Menanak Makanan
Mei 26, 2016
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Layaknya Periuk untuk Menanak Makanan

“The green coconut and its milk” – Robinson Crusoe

Kelapa memang lekat sekali dengan pantai. Dimana disana tempatnya banyak tumbuh. Gambaran lain tentang pantai adalah sebuah pulau yang berada di tengah samudra, terasing dan terdampar. Kelapa bisa dihubungkan dengan sumber tenaga dimana daging dan airnya data dikonsumsi, batoknya tidak usah dibuang, jadikan ia layaknya periuk untuk menanak makanan lain.

Ini pertama yang dilakukan oleh Robinson Crusoe ketika ia terdampar di pulau entah berantah, mencari kelapa. Teknik memasak dengan periuk menggunakan kelapa banyak dilakukan oleh masyarakat pesisir pantai atau pelaut-pelaut yang kapalnya sedang bersandar. Ternyata memang makanan yang dihasilkan dengan teknik ini lumayan menakjubkan pula dimana panas yang merambat dari batok kelapa serta daging dari kelapa yang mencair memberi rasa manis pada makanan. Kekurangannya mungkin kurang sedap dikonsumsi ketika dingin karena bau basi segera muncul walaupun makanannya masih “sangat” layak dimakan.

 


Teknik ini sepertinya yang dimunculkan di Boemi Mitoha, sebuah restoran yang mengusung menu-menu traditional nusantara terutama sunda. Memang makanan tradisional khas rumahan sengaja ditampilkan disini sesuai dengan  arti namanya “Boemi Mitoha”, rumah mertua. Adapun menu-menu yang diolah dalam dewegan yang dalam Bahasa Sunda bisa berarti batok kelapa ini adalah olahan ikan bawal dan ayam. Keduanya diolah setengah matang dahulu untuk kemudian dimatangkan dengan memasukannya ke dalam dewegan yang tingkat kematangannya sedang untuk kemudian di bakar. Selain pemakaian rempah yang pas, aroma dari mansinya kelapa akan kentara. Bukan hanya enak namun kita serasa berpetualang rasa, asing penuh misteri.

Teknik unik lain adalah memasak dalam batang bambu. Teknik ini biasa dikenal dalam mengolah makanan dari Sumatera Barat yang biasa disebut lamang. Hanya saja bedanya adalah lamang yang dimasak biasanya beras ketan, di Boemi Mitoha yang diolahnya adalah Pindang Ikan Patin. Rasanya agak mengarah ke daerah sana pula dimana daun singkong dipakai dalam menu ini. Namun anehnya rasa yang muncul sepertinya familiar dengan lidah orang sunda, superti kuah yang biasa ada pada tutut. Pelayan yang cekatan di sini akan membantu mengeluarkan makanan dari bambunya, karena pastinya kita akan sedikit kebingungan dengan cara mengeluarkannya.

Dengan ketiga menu ini memang sempat terlintas petualangan tanpa sengaja Robinson Crusoe yang terdampar di pulau. Setelah mencobanya teringat kemudian ucapannya, “the green coconut and its milk.” Betapa kelapa ini ketika diolah dan dipergunakan layaknya periuk akan menghasilkan rasa yang  berpetualang di lidah kita. Agak sulit untuk menghadirkannya di rumah namun tidak demikian di Boemi Mitoha.

 

 

 

 

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *