Kopi Luwak Cikole yang Mendunia
Oktober 20, 2015
Warna Nusantara (335 articles)
0 comments
Share

Kopi Luwak Cikole yang Mendunia

Gajah di pelupuk mata tidak terlihat, semut di seberang lautan terlihat memang peribahasa yang tepat bagi kita. Sesuatu yang sangat besar dan unik bahkan menjadi daya tarik dunia luar tidak kita sadari kehadirannya walaupun jaraknya dekat dengan kita. Seperti halnya warga Kota Bandung yang tidak menyadari bahwa ada komoditinya yang sudah mendunia. Ialah Kopi Luwak Cikole yang Mendunia.

Menurut sejarahnya, pada jaman kolonial ketika kaum penjajah mengeplorasi hasil bumi nusantara terutama kopi, para penggarap kebun kopi pribumi melihat biji kopi yg tercecer di tanah. Setelah biji tersebut dikumpulkan kemudian diproses. Ternyata rasanya lebih enak. Setelah mengetahui itu beramai-ramai biji kopi itu dikumpulkan untuk kemudian di ekspor ke Eropa. Setelah diteliti ternyata biji kopi yang tercecer itu berasal dari sisa binatang musang yang dalam Bahasa Jawa dikenal dengan nama Luwak. Walaupun kopi yang dihasilkah lebih enak hanya kelemahannya kopi yg dihasilkan tidak banyak. Dikarenakan mengambil dari biji yang tercecer di tanah sehingga sudah terkontaminasi bakteri.

Berbeda dengan Kopi Luwak Cikole dimana kopi yang dihasilkan oleh Musang diolah secara higienis. Bahkan karena kehigienitasan dalam pengolahannya berhasil mendapatkan sertifikasi halal dari MUI dan Sertifikasi kesehatan dari BPOM. Wajar saja demikian karena sang pemilik yang notabene berprofesi sebagai dokter hewan sangat mengerti akan hal ini. Karena itu pula bukan hanya biji kopi yang dihasilkannya yang sehat namun pula sang musang-nya.

Kopi Luwak Cikole bisa disebut sebagai rumah produksi dan penangkaran kopi Luwak. Disini bukan hanya sebagai tempat produksi namun pula pengembangbiakan hewan musang. Musang Pandan, jenis musang yang hidup di Jawa Barat dikembangbiakan dan dirawat, setelah cukup umur kemudian dilepas di hutan. Dalam prosesnya musang ini mengeluarkan biji kopi dengan usaha keras, setelahnya diberi protein dan vitamin, makanan, susu, madu. Disini Musang diberi waktu untuk istirahat pemulihan tenaga. Proses pemberian makan biji kopi hanya dilaksanakan 2 kali dalam seminggu, senin dan kamis. Jadi jika kita hitung maka ada istirahat selama tiga hari untuk setiap proses konsumsi biji kopi. Biji kopi ini bisa dibilang  sebagai camilan bukan makanan utama karena makanan utamanya adalah buah-buahan. Total musang yang dirawat di Cikole ada 120 ekor dan untuk di Rumah Produksi Pangalengan sebanyak  250 ekor. Jadi si Musang tidak melulu dikasih kopi karena bisa mati. Pengembangbiakan dimaksudkan untuk proses regenerasi.

Sebagai bahan pengetahuan proses produksi Kopi Luwak itu pertama-tama musang diberi buah cherry kopi yang sudah matang dan ranum, musang melalui penciumannya selektif memilih biji kopi terbaik. Diberi makan pada sore hari, malam harinya terjadi proses enzimatis memecah protoase protein, kandungan lemak dan kafein rendah sekali, selama 12 jam di perut musang. Paginya setelah dikeluarkan biji kopinya, biji kopi diambil dibersihkan kedalam air yg mengalir selama 7 kali sampai kasat. Biji dijemur di sinar matahari di cuaca yang terik bisa 3 hingga 4 hari, hingga kadar air yang terambil 12% dalam biji kopi. Setelah kering masuk ke proses pengupasan kulitnya, cangkang serta kulit arinya di buka. Hingga akhirnya didapatkan green bean kopi yg lepas dari cangkangnya. Dimasak (roasting) dalam suhu 150 – 200° C selama 10 sampai dengan 15 menit, Digrinding atau pemecahan biji kopi secara kasar, dihaluskan, setelahnya dipackaging. Hingga pada akhirnya tercipta dua buah produk Kopi Luwak Cikole, original dan stamina. Khusus untuk produk terakhir, selain kopi dicampurkan khusus purwaceng, katalin, jahe, ginseng, trimulus fungsinya lebih ke stamina.

Kopi yang dihasilkan tentu saja kopi terbaik karena bantuan dari Musang yang memilih hanya biji kopi yang terbaik. Selain itu kopi yang dihasilkan dari perkebunan sendiri serta pembelian langsung dari petani kopi ini berjenis arabica. Namun sebetulnya hal menarik lainnya dari tempat ini adalah edukasi yang diberikannya. Di tempat ini kita akan mengetahui secara langsung proses pembuatan Kopi Luwak lewat edukator-edukatornya. Ada empat edukator yang siap melayani siapa saja. Mereka masing-masing memiliki kemampuan berbahasa Inggris, Jerman, Belanda, Jepang dan Melayu. Para edukator ini direkrut dari warga setempat yang berkemampuan berbahasa asing yang terlebih dahulu mendapatkan pelatihan tentang pengolahan Kopi Luwak. Selain mereka terdapat pula edukator khusus yang melayani anak sekolah sedari Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi bahkan pendidikan kewirausahaan hingga Penelitian LIPI. Sebagai prestasi atas kesuksesannya ini Kopi Luwak Cikole ditunjuk langsung oleh Departemen Pertanian Republik Indonesia sebagai proyek percontohan produksi dan pembudidayaan kopi luwak di Indonesia.

Pada awal berdirinya Kopi Luwak Cikole di Bulan Januari tahun 2012 kesulitan yang dihadapi adalah pemasarannya di kota terdekatnya, Bandung. Ironisnya ternyata wisatawan asing yang lebih tertarik untuk datang melihat langsung. Terlebih ketika management Kopi Luwak Cikole melansir situsnya di dunia maya. Hingga kini Kopi Luwak Cikole menjadi salah satu tujuan kunjungan wisatawan dari Asia terutama Malaysia, Eropa hingga Amerika jika datang ke Bandung. Pertanyaannya sendiri adalah apakah kita sebagai Warga Kota Bandung yang dekat ke Cikole, Lembang pernah mengunjunginya?

Liputan Fadly Shaputra, Kontributor Warna Nusantara

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *