Maret 31, 2015
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Kedelai, Gula Merah & Gula Pasir di Tauco Cap Meong Ny. Tasma

Salah satu makanan asimilasi Tionghoa yang bertahan hingga kini adalah Tauco. Bagi yang belum mengetahui, tauco adalah bahan makanan yang berfungsi sebagai penyedap, dengan berbahan utama kedelai yang diolah dengan proses fermentasi. Makanan ini sudah mulai dikembangkan menjadi industri di Nusantara semenjak abad ke -18 dan hingga sekarang masih banyak yang menggemarinya. Olahan tauco umumnya kita temui pada makanan Tionghoa, Cah Kangkung, walaupun sebenarnya bisa masuk ke panganan apa saja. Salah satu olahan tauco lainnya adalah gecho. Model gecho ini hampir seperti kecap. Penggunaan tauco ini biasa dipergunakan pada makanan oriental. Hingga sekarang produsen tauco masih bisa kita jumpai walaupun jumlahnya sudah banyak berkurang dibandingkan awal tahun 90-an. Salah satu yang bertahan hingga kini adalah Tauco Cap Meong Ny. Tasma, Cianjur.

Pabrik dan Toko Tauco Cap Meong Ny. Tasma yang berlokasi di Jl. HOS. Cokroaminoto No. 160, Cianjur sudah ada selama 133 tahun. Produk dan proses pembuatan tauco-nya masih tetap sama seperti dulu. Walaupun diakuinya bahan baku pembuat tauco dulu dengan sekarang kualitasnya berbeda jauh. Adalah Ny. Betsy Tasma yang meneruskan usaha yang sudah dirintis oleh mendiang ayahnya dulu. Semenjak tahun 1995 usaha keluarga ini dikelola oleh Ny. Werry Tasma hingga akhirnya sekarang dikelola oleh generasi berikutnya, Bapak Harun Tasma. Semenjak tahun 2011 Tauco Cap Meong Ny. Tasma membuka pabrik pengolahan tauco di Gunung Lanjung, Cianjur, untuk membantu menambah kapasitas produksi.

Yang unik dan tidak berubah dari dulu adalah tauco ini akan dituangkan ke botol dari kendi-kendi penyimpanan jika ada yang memesan saja. Ini karena Tauco Cap Meong Ny. Tasma diproduksi tanpa menggunakan bahan pengawet. Tauco ini hanya akan bertahan selama kurang lebih 5 hari jika disimpan di luar dan 3 bulan jika disimpan di dalam lemari pendingin. Alat-alat pengolahannyapun masih menggunakan peralatan kuno seperti tungku kayu bakar dan gayung dari batok kelapa. Untuk penggunaan gayung batok kelapa ini bukan tanpa alasan, biasanya gayung dari bahan plastik gampang meleleh ketika dipergunakan mengeduk tauco.

Pembuatan tauco secara sederhana bisa digambarkan seperti berikut ini; kedelai direndam ke dalam air garam kemudian dijemur atau difermentasi, setelah cukup waktu ditiriskan, kemudian si kedelai hasil fermentasi diolah dengan campuran gula merah. Dengan bahan baku kedelai sebanyak 1 kuintal diperlukan campuran gula merah sebanyak 23 kg dan gula pasir sebanyak 10 kg dengan dimasak selama 3 jam. Itu belum seberapa lama jika dibandingkan dengan proses fermentasi kedelai yang memakan waktu 3 bulan, dengan catatan cuaca bagus. Harga perbotol Taucho Cap Meong Ny. Tasma Rp 20.000,-, mungkin lebih mahal dibandingkan harga tauco yang lain, salah satu penyebabnya adalah biaya upah kerja yang tinggi mengingat prosesnya yang panjang tadi.

 Tauco Cap Meong Ny.Tasma keberadaannya yang sudah ada selama 133 tahun dengan segala permasalahan yang dihadapinya tetap ada berdiri melayani penggemar-penggemarnya. Berdiri-sendiri bertahan dari gempuran kuliner modern, dengan konsisten melestraikan masakan budaya nenek moyang.

 

Liputan Donnie Kurniawan, Senior Jurnalis Warna Nusantara

 

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *