Februari 18, 2015
Warna Nusantara (336 articles)
0 comments
Share

Imlek Nusantara

Imlek atau perayaan Tahun Baru Cina mulai dikenal dan dirayakan pada era reformasi setelah pada jaman orde baru dirayakan oleh sebagian Suku Tionghoa Nusantara secara sembunyi-sembunyi. Pengakuan dari pemerintah atas etnis cina menjadi salah satu suku di Nusantara telah membuka batas penghalang. Sampai dengan saat ini seluruh Nusantara turut bergembira merayakan imlek.

Kata Imlek berasal dari dialek Hokkian atau Bahasa Mandarin-nya Yin Li yang berarti kalender bulan. Menurut sejarahnya, Sin Cia merupakan sebuah perayaan yang dilaksanakan oleh para petani di Cina yang biasanya jatuh pada setiap tanggal satu di bulan pertama di awal tahun baru. Perayaan ini juga berkaitan erat dengan pesta menyambut musim semi. Perayaan imlek dimulai pada tanggal 30 bulan ke-12 dan berakhir pada tanggal 15 bulan pertama atau yang lebih dikenal dengan istilah Cap Go Meh. Perayaan Imlek meliputi sembahyang Imlek, sembahyang kepada Sang Pencipta/Thian (Thian=Tuhan dalam Bahasa Mandarin), dan perayaan Cap Go Meh. Tujuan dari sembahyang Imlek adalah sebagai bentuk pengucapan syukur, doa dan harapan agar di tahun depan mendapat rezeki yang lebih banyak, untuk menjamu leluhur dan sebagai media silaturahmi dengan keluarga dan kerabat. Imlek adalah tradisi pergantian tahun, sehingga yang merayakan Imlek ini seluruh etnis Tionghoa apapun agamanya, bahkan masyarakat Tionghoa Muslim juga merayakan Imlek. Asal-usul Imlek berasal dari Tiongkok. Hari Raya Imlek merupakan istilah umum, kalau dalam bahasa Cina disebut dengan Chung Ciea yang berarti Hari Raya Musim Semi. Hari Raya ini jatuh pada bulan Februari dan bila di negeri Tiongkok, Korea dan Jepang ditandai dengan sudah mulainya musim semi.

Perayaan biasa diidentikan dengan kulinernya, berikut ini beberapa kuliner khas dalam perayaan imlek; Mie, melambangkan panjang umur dan kemakmuran. Mie yang panjang, tidak mudah putus menggambarkan panjang umur. Dalam setiap perayaan, mie selalu hadir sebagai wujud harapan untuk diberi umur yang panjang. Cara memakan mie tidak boleh dipotong melainkan disantap sampai ujung terakhir karena dipercaya akan memperpanjang umur;Kue lapis legit, melambangkan rezeki yang berlapis-lapis; Kue mangkok, kue maho, dan kue keranjang. Biasanya kue keranjang disusun diatas kue maho dan kue mangkok yang diberi warna merah diatasnya. Harapan yang terkandung adalah agar memiliki kehidupan yang manis dan kian menanjak seperti kue mangkok. Kue keranjang atau nian gao adalah sejenis puding tradisional China yang terbuat dari beras ketan, tepung gandum, garam, air, dan gula. Warna gula yang digunakan untuk membuat penganan ini menentukan warnanya (putih atau cokelat). Nian gao lebih populer di China bagian timur seperti Jiangsu, Zhejiang, dan Shanghai, karena pengucapan katanya sama dengan “tahun yang lebih sejahtera”; Manisan kolang-kaling bermakna agar manusia selalu berpikiran jernih; Agar-agar dicetak bintang bermakna simbol kehidupan yang terang; Cemilan seperti kuaci, kacang, dan permen. Asinan dari biji semangka atau labu kuning ini sering menemani saat-saat berbincang di tengah keluarga ketika merayakan Imlek. Arti dari sajian biji-bijian ini adalah memiliki keturunan yang banyak; Ayam atau bebek yang utuh sebagai simbol untuk udara. Budi luhur sangat dijunjung tinggi oleh budaya Cina, dan sajian bebek adalah simbol dari kesetiaan dan ketaatan. Sementara itu, telur bebek atau ayam memiliki makna kesuburan; Ikan sebagai simbol dari air. Ini bisa ikan emas ikan bandeng atau ikan salmon (ikan pai tu di daerah Singapura) semacam ikan yang bulat dan yang dapat hidup di laut dan di sungai. Selain itu, lafal ikan (Yu) sama bunyinya dengan surplus (Yu); Jeruk mandarin. Jeruk mandarin besar menggambarkan kekayaan, sedangkan jeruk jenis kecil menggambarkan keberuntungan karena kedua jenis jeruk ini adalah buah yang berlimpah-limpah di Cina. Dalam dialek Teochew, nama buah tersebut berhomofon dengan “keberuntungan”; Lobak disebut cai tou yang juga berarti good luck. Saat perayaan Tahun Baru Cina, sajian lobak menjadi wujud harapan baru untuk beruntung di tahun yang akan dijalani; Tiram. Kata tiram dalam bahasa China terdengar seperti ”bisnis yang baik”. Oleh karena itu, hidangan satu ini biasanya juga disajikan dalam jamuan makan pada saat Imlek. (infojajan.com)

Sekitar abad ke-7 bangsa Chin (sebuah dinasti di Cina) yang kemudian kita kenal dengan kata “cina” masuk ke Indonesia pada awal abad ke-7, masuk ke seluruh pelosok tanah air hingga abad ke-11. Awalnya mereka hidup sangat sederhana bahkan bisa dibilang hidup dibawah garis kemiskinan. Dari usaha bertahan hidupnya dan berbaurnya dengan suku-suku pribumi telah menghasilkan kuliner-kuliner akulturasi nusantara seperti pempek, lumpia, siomay dan lain sebagainya. Dengan kontribusinya yang besar dalam segi ekonomi dan budaya sudah selayaknya suku ini diakui sebagai salah satu suku bangsa Nusantara. Sama halnya dengan hari besar lainnya, Imlek sudah menjadi bagian dari hari besar Nusantara.

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *