Juli 28, 2015
Warna Nusantara (335 articles)
0 comments
Share

Gunung Ter-Eksotis

“It is not the mountain we conquer but ourselves.” – Sir Edmund Hillary

Nusantara, negeri di lintas khatulistiwa, iklim tropis dengan lahan hijau luas sepanjang mata memandang. Berada di atas cincin api yang membuatnya memiliki gunung-gunung berapi aktif. Sekian ribu tahun tinggal diatasnya ternyata sematan jalur cincin api ini tidak semenakutkan seperti yang dibayangkan kecuali mungkin ketika dunia ini berakhir sehingga gunung-gunung yang ada meletus secara bersamaan. Tinggal disana yang ada adalah kebahagiaan. Kebahagiaan karena diberkahi dengan kesuburan tanahnya serta kecantikan alamnya. Dari sekian banyaknya gunung-gunung yang indah di negeri beribu pulau ini, mungkin ini salah satu gunung ter-eksotis.

Setidaknya gelar itu disematkan oleh salah seorang sepupu yang memang sudah pernah menjelajah lebih dari sepertiga gunung yang ada di negeri ini. Beruntung juga ketika akhirnya bisa mencoba menaiki dan menikmati keindahannya. Gunung itu bernama Rinjani. Menurut salah satu sumber dalam Bahasa Jawa kuno berarti “Tuhan”. Sangat masuk akal karena ketika kita menikmati keindahannya, pikiran akan langsung teringat akan penciptanya, betapa agung-Nya.

Gunung ke-3 tertinggi setelah Cartenz Pyramid (4.884 mdpl) di Papua dan Kerinci (3.805 mdpl) di Jambi, Sumatera, gunung yang berada di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat ini berketinggian 3.726 mdpl. Termasuk kedalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani dengan luas area 41.330 ha, tepatnya berlokasi di koordinat 8º25′ LS dan 116º28′ BT.

Untuk mencapai puncak dengan kecepatan berjalan kaki normal dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 12 jam. Suhu udara rata-rata 20ºC titik paling rendahnya 12ºC, cukup sejuk bahkan dingin untuk ukuran kita yang tinggal di kota yang biasa bersuhu diatas 30ºC. Salah satu yang membuatnya eksotik adalah adanya danau alam di ketinggian 2.000 mdpl. Danau yang terbentuk dari letusannya ini terkenal dengan sebutan Segara Anak. Luas danau ini yang mencapai 1.100 ha menjadikan alasan penduduk sekitarnya memberi sebutan demikian karena luasnya yang seperti lautan.

Jalur pendakian bisa melalui dua jalur pendakian, melalui Desa Senaru dan Desa Sembalun Lawang. Bagi pemula jalur melalui Desa Sembalun menjadi jalur favorit karena jaraknya yang mampu menghemat hingga 700 mtr ketinggian, jalannya lebih mendatar dan melewati savana yang luas, walaupun lebih menanjak rute dari Sembalun lebih teduh karena melalui hutan yang berpohon tinggi. Kita akan ber-hiking hingga di ketinggian sekitar 2.700 mdpl, dari lokasi yang biasa disebut dengan Plawangan, mata akan mendapatkan hiburan yang sangat mempesona melalui indahnya panorama danau dan daerah sekitarnya. Turun melalui dinding yang cukup curamnya sekitar 2 jam, akhirnya kita sampai di bibir Danau Segara Anak. Segera buka tenda anda, siapkan alat pancing, dapatkan ikan mas dan mujaer-nya. Dijamin pengalaman ini akan terus hinggap dibenak.

Jangan merasa puas dulu, setelah merasa cukup puas menikmati Segara Anak, segera kemasi barang-barang, bersiap untuk menuju puncak Rinjani. Ke dinding sebelah barat kita akan mendaki sekitar 700 mtr untuk kemudian mendaki punggungan sekitar 1.000 mtr. Sekitar 3 jam kita akan mencapai posisi Plawangan Sembangun. Tempat ini merupakan base camp terakhir untuk menuju puncak. Dijadikan base camp karena tempatnya yang memungkinkan untuk mendirikan tenda untuk menginap menunggu agar bisa mendapatkan panorama matahari terbit di Puncak Rinjani. Sekitar pukul 02.00 WITA adalah jam yang pas untuk mendapatkan sunrise. Setiba di puncak, semua capek bahkan beban hidup serasa lepas, semua terbayar dengan panorama indahnya. Bahkan rekanan Gunung Rinjani seperti Gunung Ijen, Gunung Agung dan Gunung Tambora yang tampak serasa tersenyum menyambut kehadiran kita.

Sebenarnya ke-eksotis-an Gunung Rinjani tidak bisa terlepas dari Suku Sasak. Suku mayoritas di Pulau Lombok ini melalui ritual adatnya, memberikan warna tersendiri bagi gunungnya. Suku Sasak ini mayoritas beragama Islam namun demikian mereka mengenal istilah Waktu Lima serta Waktu Telu sebagai ritual keagamaan mereka. Waktu Lima menunjukan mereka melaksanakan kewajiban sebagai muslim dan waktu telu adalah waktu dimana mereka menjalankan ritual tradisi budaya nenek moyangnya. Walaupun nampak bertentangan namun mereka menjalankan keduanya sebagai tradisi keagamaan. Tak sedikit laki-laki dari Suku Sasak ini yang bermatapencaharian sebagai porter dan pemandu para pendaki. Dalam cuaca yang dingin mereka tetap menggunakan pakaian seadanya mereka dengan ikat kepalanya yang khas. Bahkan banyak dari porter yang masih tetap menggunakan ikatan untuk mengangkat barang-barang para pendaki walaupun seperti ransel ada gendongannya, mereka tidak mau mengenakannya, mereka lebih senang memikul barang-barang tersebut. Kerap kali kita menemukan beberapa orang suku sasak tersebut yang sedang mengadakan ritual terhadap nenek moyang-nya, sering kali di malam bulan purnama. Seperti halnya asal nama “sasak” yang secara etimologi, berasal dari kata sah yang berarti “pergi” dan shaka yang berarti “leluhur”. Dengan begitu, sasak berarti “pergi ke tanah leluhur”. Demikianlah mereka berangkat ke tanah leluhurnya, Gunung Rinjani.

Walaupun perjalanan akhirnya harus diakhiri namun rasanya semua sudah terpuaskan. Tanpa ingin membuktikan dan menaklukan sesuatu karena pada akhirnya kita sadar bahwa bukan gunung yang harus ditaklukan namun diri kita sendiri. Dan pada akhirnya semuanya kembali, tak ada gunung se-eksotis ini tanpa yang Maha Penciptanya.

 

Liputan Mamu (Kontributor Warna Nusantara)

 

 

 

 

 

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *