November 11, 2015
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Faktor Matre dan Ngulik Dyno Kuburan Band

“Saya gak pengen keren, pengen berbeda dari yang lain, dari dulu kalau membuat sesuatu selalu ingin berbeda dengan yang lain.” – Dyno, Drummer Kuburan Band

Seperti itulah sekilas tentang Dyno, drummer Kuburan Band yang nyentrik dan selalu tampil berbeda. Ini juga tergambar dari band-nya, dari namanya saja, “Kuburan”, orang banyak bertanya-tanya. Menjadi satu-satunya anggota band yang tersisa di tahun 2001, setelah ditinggalkan 8 personil lainnya karena alasan band ini tidak serius, berkat keyakinan bahwa Band Kuburan ini adalah band yang serius berhasil mengumpulkan personil lainnya yang hingga kini bertahan dan berhasil eksis di dunia musik Indonesia. Demikian pula dengan usaha kuliner yang dijalaninya, tidak ingin hanya terlihat keren tapi sama dengan yang lain, namun makanan tradisional yang tidak keren tapi berbeda dari yang lain. Tetap saja usaha dapat berjalan dengan bantuan faktor-faktor yang mendorongnya. Faktor yang dimilikinya, faktor matre dan ngulik Dyno Kuburan Band.

Faktor yang pertama dimilikinya adalah faktor matre. Dyno mengakui bahwa dirinya matre alias apa yang ada harus bisa dijadikan uang atau semua bisa jadi peluang usaha. Seperti salah satu menu yang ada di Kedai Dynos Bandros-nya, seblak. Menu ini muncul ketika sang istri yang sering berkumpul dengan teman-temannya acap kali menyuguhkan makanan tradisional sunda ini. Setelah mencicipi dan tahu yang membuat adalah sang istri, langsung saja yang ada di benaknya adalah “makanan ini harus jadi uang.” Demikian pula denga menu lainnya, kue cubit yang didapat secara kebetulan dari karyawannya yang mantan pedagang kue ini. Setelah disuruh membuat dan dirasa enak dengan keyakinan dan ke-matre-annya akhirnya kue cubit ini hadir di kedai kaki limanya.

Memang hanya berjualan di emperan alias kaki lima tepatnya di Jalan Lengkong Kecil, Bandung namun usaha yang kecilnya ini perlahan tapi pasti terus bergerak naik. Awal usahanya terbilang unik. Terinspirasi dari suatu kedai bandros di daerah Sukabumi yang dia datangi ketika manggung bersama Kuburan Band di sekitaran tahun 2005, rasanya enak namun ada yang mengganjal karena menurutnya rasa orisinil bandros tidak seperti itu, di kedai ini bandrosnya lebih mendekati ke rasa pukis. Bagi yang belum tahu bandros itu adalah kue tradisional Jawa Barat yang pembatannya mirip kue pancong namun ukurannya lebih kecil dan setelah jadi berbentu seperti bulan setengah lingkaran, biasanya menggunakan kelapa sebagai salah satu bahannya. Namun semua ini hanya tersimpan di khayalnya saja seiring dengan kesibukannya bersama bandnya. Hingga akhirnya aktifitas rutinnya sebagai anak band sedikit menurun dan Dyno teringat kembali dengan inspirasinya yang tependam.

Konsep awalnya ingin berimprovisasi dengan teori ATM, amati; tiru; modifikasi. Memilih bandros karena pada saat itu kuliner Bandung sedang hangat-hangatnya dengan surabi dan sosis. Bandros walaupun ada mulai susah ditemui paling ada dijajakan dengan didorong-dorong. Faktor ke dua akhirnya muncul, “ngulik”. Dengan pengetahuan seadanya Dyno ngulik-ngulik resep bandros. Kegagalan membuat bandros secara beruntun sempat menyurutkan semangatnya hingga di tahun 2013 setelah menikah, dibantu sang istri semangatnya kembali naik. Pertama yang mereka lakukan adalah mencari tukang bandros yang mau diajak kerjasama.

Hal itu dirasa penting untuk mendapatkan resep dasar adonan yang pas yang nantinya bisa diulik dengan bermacam paduan rasa. Jika kita tidak sedang mau dia mendadak datang tapi kalau sedang dicari susahnya setengah mati, demikianlah tukang bandros. Keluar masuk dari satu pasar ke pasar lainnya dijalani oleh Dyno dengan istrinya dalam rangka mencari tukang bandros. Kalaupun ada ternyata mengajak kerjasama tukang bandros tidak semudah membalikan telapak tangan, semua menolaknya hingga ketika keputusasaan hampir menghinggapi, tanpa dinyana seorang tukang bandros lewat di depan rumah. Tanpa berpikir panjang Dyno menghampirinya, selain membeli produk sang tukang bandros tentu saja mengajaknya bekerjasama. Gayung bersambut ternyata bukan hanya mau menjual resepnya bahkan dia mau menjadi pegawai Dyno. Walaupun tidak berlangsung lama karena tidak lama kemudian tukang bandros itu berubah pikiran. Tidak menjadi soal juga nampaknya karena ilmu dasar membuat bandros sudah dikuasai Dyno dan istri, tinggal mengulik untuk toppingnya saja. Tantangan kembali muncul karena ketahanan adonan setelah dicampur bahan lain yang tidak dapat bertahan lama namun berkat kegigihannya akhirnya adonan yang pas dengan seleranya dan tentu saja berbeda dengan yang lain berhasil dibuatnya.

Mengawali usahanya di Tahun 2013 dengan menggunakan roda dan hanya mengandalkan menu bandros serta minuman, dirasa hanya berjualan dengan sedikit varian. Ngulik-ngulik resep lagi hingga akhirnya selain bandros dan minuman, menu unggulan lainnya tercipta, seblak, kue cubit, mie susu dan blakmie alias seblak bakmie. Usaha yang dia jalani betul-betul dari bawah, dari harus mendorong roda, hingga hendak diusir namun dengan filosofinya “yang ikhtiar dan berdoa” hingga akhirnya kini memiliki delapan orang karyawan dan satu cabang lagi di Jalan Cicendo Bandung yang baru dibukanya tiga bulan yang lalu. Sifatnya yang mudah bergaul dan berteman denga siapa saja membuat Dynos Bandros banyak dikunjungi teman-teman dari beragam komunitas. Walaupun awalnya hanya membeli sedikit namun tidak menjadi soal bahkan dia berterima kasih kepada mereka karena berkat jasa mereka pula banyak pelanggannya yang terpancing untuk datang. Sebetulnya bukan faktor itu saja selain makanannya yang enak dan unik harganya amat sangat terjangkau. Harga yang ditawarkan termurah dari Rp 3.000,- hingga yang termurah Rp 14.000,-. Kesimpulannya tidak ada yang mahal. Walaupun untung sedikit yang penting banyak yang beli, demikian pemikirannya. Mungkin nampak sama namun sebenarnya Dynos Bandros demikian kedainya ia beri nama adalah salah satu pionir usaha kuliner dengan menu cemilan tradisional di Bandung.

Konsisten dijalurnya hingga akhirnya banyak yang mengekor. Tak akan berhenti disini sama seperti cita-citanya yang ingin memiliki tempat permanen yang luas layaknya cafe dengan komuditas yang dijualnya adalah cemilan-cemilan tradisional nusantara, tempat yang mampu menampung semua hasil ulikannya, cafe yang bisa menghasilkan bagi band yang sangat dia banggakan Kuburan Band. “Cobain sekali, saya gak bakalan ngajak yang kedua kali karena situ yang pasti datang sendiri,” ujarnya menutup perbincangan. Oke kita pasti datang lagi.

Liputan Fadly Shaputra & Yudiari Widyawati, Kontributor Warna Nusantara

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *