Mei 27, 2015
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Event dengan Dua Magnet yang Kuat di Kota Bandung

“A creative man is motivated by the desire to achieve, not by the desire to beat others.” – Any Rand

Bandung bisa dikedepankan sebagai kota kreatif di Nusantara. Sedari sejarah berdirinya kota ini tidak pernah sepi untuk mengundang wisatawan datang dengan segala bentuk hiburannya. Pada masa kolonial pertunjukan Tonil Braga (seni pertunjukan teater sekarang) di Jalan Braga mampu menjaring penonton hingga ke luar daerah. Bahkan sejak tahun 1920 sudah diadakan acara Bursa Tahunan (Jaarbeurs), cikal-bakal culinary night/day sekarang. Memang menjadi tantangan bagi para penggiat acara untuk membuat gelaran yang beda dari yang lain. Hal tersebut merupakan salah satu hal yang membuat kota ini kaya akan event. Salah satu event yang berbeda baru saja selesai ditampilkan, acara yang menggabungkan dua magnet yang sangat kuat menjaring wisatawan untuk datang ke Kota Bandung, fashion dan food.

Menurut sejarahnya, Bandung dinamai dengan istilah Parijs van Java bukan hanya karena udara sejuknya yang sama dengan Eropa namun juga karena selera fashion-nya yang tinggi. “Dari data dan beberapa bukti sejarah yang kemudian berhasil dikumpulkan, ternyata julukan Parijs van Java erat sekali kaitannya dengan jalinan hubungan mesra antara Kota Bandung dan Paris di Eropa sana. Ikatan bisnis dan budaya, semacam sister city sekarang antara Paris dan Bandung diawali dalam Pameran Dunia (Wereldtentoonstelling) di Paris tahun 1931. Semenjak World Fair di Paris itulah, hubungan bisnis dan ikatan kebudayaan antara kedua kota tersebut semakin erat dan intensif. Bahkan Menurut penuturan sastrawan Jan Fabricius (1974) yang dulu tinggal di Jalan Braga; bahwa pakaian yang paling mutakhir dan lagi “in” hari ini di Paris, besoknya sudah terpampang di etalage toko atau rumah Mode Magazijn di Braga. Nah, di masa itulak Kota Bandung dihiasi nama toko, cafe dan restaurant yang berbau ke Prancis-prancisan…..” (Haryoto Kunto, Wajah Bandung Tempo Doeloe, Hal 69 – 70). Hingga akhirnya tahun dan masa berganti, hal tersebut menjadi magnet yang kuat penarik wisatawan datang ke Bandung. Salah satu event yang dimaksud tersebut adalah Bandung Creative Week 2015. Acara yang diadakan di Atrium Trans Studio Mall ini secara apik menggabungkan event kuliner dan fashion dalam satu ajang.

Dalam ajang ini, ditampilkan fashion-fashion khas hasil kreatifitas muda-mudi Bandung. Selain stand-stand yang disedakan, pakaian mereka pun diperagakan di atas catwalk. Seperti mata rantai yang berhubungan, stand kuliner muncul memberi kepuasan bagi yang merasa keroncongan setelah berjalan-jalan dan berbelanja aneka fashion yang ada. Selain hal tadi yang tidak biasa adalah edukasi yang diberikan dalam event ini. Tak hentinya panggung disisipi acara talkshow berisi pengenalan produk dan edukasi bisnis fashion serta kuliner.

Dalam kesempatan yang sama Team Cooking RocknRoll dari Warna Nusantara-pun unjuk kebolehan dalam memberikan edukasi memasaknya. Di hari ke-2 program edukasi memasak yang bertujuan untuk mengkampanyekan gerakan memasak itu mudah dan bisa di mana saja ini menampilkan Chef Aad dengan hidangan Spaghetti Udang Pete dengan Saus Kalio-nya. Dalam waktu yang singkat, hidangan ini mampu disajikan bagi sebagian pengunjung. Hal yang sangat menarik, dimana spaghetti nusantara ini ditampilkan dengan cara memasak yang simpel dan dilakukan diluar dapur yaitu ditengah hiruk-pikuknya orang berbelanja. Di hari penutupan, Chef Nico dari NomNom Eatery, yang merupakan salah satu chef dari Team Cooking RocknRoll menghidangkan Lidah Sapi Bulgogi. Sama seperti sebelumnya, hidangan ini pun mendapatkan respon yang baik dari pengunjung yang datang. Lewat kampanye yang diadakan secara roadshow oleh Team Cooking RocknRoll dari Warna Nusantara ini diharapkan masyarakat kembali ke dapurnya untuk memasak sendiri makanan untuk keluarga ataupun kerabatnya. Tampak seperti sulit namun sebetulnya memasak itu dapat dilakukan oleh siapa dan dimana saja.

Tanpa harus saling menjatuhkan satu sama lain, namun kreatifitas tanpa batas yang ada telah menjadikan Kota Bandung gudangnya acara-acara berkualitas. Magnet-magnet yang menjadi kekuatan dalam menarik minat pendatang sedari jaman kolonial dulu sudah selayaknya dipertahankan dan tidak dirubah. Kota Bandung, Parijs van Java, semoga selalu menjadi Paris-nya Pulau Jawa.

 

 

 

 

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *