Desember 3, 2014
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Edukasi Mental ala Chef Anton Kuswendi

“Keahlian bisa dipelajari namun mental ada dalam diri masing-masing.” – Chef Anton Kuswendi, Pastry Chef, GH Universal Bandung

Demikian hal yang ia tanamkan bagi murid-murid dan kolega-kolega sesama pengajar Industri Perhotelan. Mental siswa perlu terus dilatih agar lebih siap ketika turun ke industri terutama industri kuliner.  Edukasi mental harus sama porsinya dengan edukasi kejuruan ujar Chef Anton Kuswendi dengan penuh semangat. Chef Anton demikian biasa orang menyebutnya, telah malang-melintang di dunia perhotelan. Berkarier dari jabatan terbawah (steward) hingga teratas (General Manager) sudah pernah dilakoni membuatnya hafal akan apa yang dibutuhkan oleh industri ini.

Jalan hidupnya sekarang sudah tertambat di dunia pastry, dunia yang pada awalnya sangat jauh dengan latar pendidikan menengahnya. Lulus dari sekolah kejuruan dengan keahlian kelistrikan membawanya bekerja menjadi operator listrik dan percetakan. Suatu saat alur hidupnya berubah ketika seseorang menyekolahkannya di Sekolah Tinggi Pariwisata Sandy Putra. Ada kejadian lucu dimana suatu ketika Chef Anton melamar bekerja di sebuah hotel di Bandung. Disamping ijazah perhotelan yang dia bawa, ijazah sekolah kejuruannya dia lampirkan pula. Sang Executive Chef yang kebingungan sampai-sampai mengeluarkan statement “kamu mau bikin roti isi kabel? Ok kalau kamu saya terima bekerja mau jadi apa?” Chef Anton yang bingung juga menjawab, “saya mau duduk di kursi itu menggantikan posisi Bapak.” Chef Anton kembali kaget dan sedikit takut ketika sang Executive Chef berdiri dan menghampirinya. Dia kemudian memeluk Chef Anton dan mengatakan bahwa orang seperti dia yang dibutuhkan, bermotivasi tinggi. Sudah bisa ditebak, saat itu juga tanpa banyak diberi pertanyaan lagi seperti layaknya wawancara kerja lainnya dia pun diterima bekerja. Selanjutnya kariernya bergerak di antara kitchen dan pastry hingga dipercaya menjadi General Manager sebuah hotel di Subang.  Walaupun demikian Chef Anton dengan segudang pestrasinya tetap saja terlihat sederhana.

Kesederhanaan adalah pelajaran yang ia dapatkan dari kedua orang tuanya. Masa kecil hingga remaja Chef Anton biasa membantu ibunya memasak dan menjual makanannya ke pasar. Sore hari sepulang sekolah pergi ke pasar untuk belanja bahan-bahan untuk jualan besok. Ayahnya seorang PNS yang sangat sederhana. Vespa tua adalah kendaraan yang mengantarnya kemana-mana. Chef Anton bukan tidak mau pergi berkarier ke luar negeri bahkan pekerjaan sudah menantinya di sana namun orang tuanya melarang karena takut di sana ia medapatkan rejeki yang tidak halal. Mungkin pengalaman semasa kecil hingga remaja ini yang merubah tang dan obeng menjadi pisau kue di sakunya.

Sebetulnya seorang chef itu harus mampu menyajikan makanan apa saja. Chef harus mampu memasak dengan baik, menghasilkan makanan yang bagus dan makanan itu bisa dijual. Sampai dengan saat ini pilihannya jatuh ke pastry karena merasa belum puas mengeplorasi dan mengembangkannya lebih dalam. Hal ini pula yang pernah membuatnya menolak tawaran menjadi executive chef di tempatnya bekerja sekarang, GH Universal. Pantang baginya untuk menjadi kutu loncat alias bekerja berpindah-pindah. Bekerja dengan sungguh-sungguh dan temukan kenyamanan kerja karena dengan pengalaman yang lama kita bisa naik jabatan atau bahkan bisa menemukan posisi yang lebih baik di perusahaan lain. Uang bisa dicari cuman kenyamanan bekerja adalah hal yang sulit dicari. Pengalaman dan keahliannya ini yang Chef Anton bagikan di dalam organisasi yang ia ikuti.

Indonesia Pastry Chef Jawa Barat adalah salah satu organisasi yang ia bidani bersama dengan Chef Adi Ruhaedi dan Chef Kamal. Organisasi ini dibuat menjadi wadah berkumpulnya chef-chef, pengusaha dan penggemar pastry se-Nusantara khususnya Jawa Barat. Diharapkan dengan bergabung ke IPC, setiap anggota dapat berbagi ilmu dan pengalamannya di dunia pastry. Keanggotaan yang membebaskan siapa saja dan tanpa dipungut biaya ini membuat pengusaha kuliner sekelas kaki lima pun dapat ikut sehingga mereka dapat memperoleh ilmu pengolahan makanan yang baik. Karier menjadi seorang chef itu tidak mengenal pensiun. Seorang chef harus mempersiapkan masa depannya setelah tidak bekerja lagi di hotel atau restoran. Dalam keadaan yang alakadarnya pastry bisa jadi usaha yang menjanjikan. Pastry bisa menggunakan alah-alat dan bahan-bahan yang mahal namun menjadi peluang bisnis yang cepat menghasilkan. Dalam sebuah tabloid Chef Anton pernah menulis bahwa dengan modal Rp 10.000,- bisa membuka usaha pastry. Bagi Chef Anton berorganisasi itu sangat penting karena bukan hanya mendapatkan ilmu-ilmu yang baru namun juga mengamalkan ilmu-ilmu yang kita dapat.

Mengamalkan ilmu adalah salah satu keinginannya hingga kini. Hal ini dia wujudkan dengan mengajar di LPT Panghegar Bandung.  Sebagai seorang praktisi Chef Anton menyadari bahwa kenyataan di sekolah dan di lapangan sangat jauh berbeda. Di sekolah kita hanya mendapatkan pelajaran teori saja sedangkan di lapangan selain dibutuhkan keahlian, mental adalah hal yang penting. Untuk mempersiapkan dalam mengarungi dunia kerja, Chef Anton merubah metode pengajaran. Dia menambahkan porsi pelajaran persiapan mental hingga mendapatkan jatah setengahnya dari pelajaran teori. Tak jarang dia membawa masalah di tempat kerjanya untuk dipecahkan bersama-sama dengan muridnya. Memang dari studi kasus ini siswa-siswa mendapatkan pengetahuan tentang dunia kerja yang sesungguhnya.

Menutup obrolannya Chef Anton menyarankan kepada rekan-rekan pengajarnya terutama di bidang perhotelan memperhatikan pembenahan mental yang baik untuk siswanya. Diharapkan nanti setelah lulus murid-muridnya ini tidak hanya mendapatkan keahlian yang cukup namun juga memiliki mental yang tangguh.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *