Oktober 29, 2015
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Dari Susu Hingga Akhirnya Kopi

“Java kopi adalah salah satu origin penting di dunia.” – A. Pandu Dewanto, Direktur PT. Agronesia

Sejak akhir abad 19 yang lalu, wilayah Tatar Bandung terkenal sebagai penghasil susu sapi berkualitas tinggi di Nusantara! Restorasi Kereta Pos jalur Cirebon – Bandung – Bogor – Batavia konon menghidangkan susu sapi segar kepada para penumpangnya. Itung-itung buat penangkal lelah dan lapar di perjalanan. Bahkan catatan dari Heer Medici (1786) yang melancong ke Negorij Bandong dengan kafilah berkuda dari Batavia, sudah mulai mencicipi susu Bandung tatkala rombongan sampai di Cianjur. Menurut catatan, pada tahun 1938 di wilayah Bandung terdapat 22 usaha pemerahan susu dengan produksi 13.000 liter susu perhari. Hasil produksi susu ini semua ditampung oleh “Bandoengsche Melk Centrale”, untuk diolah (pasteurisasi) sebelum disalurkan kepada para langganan di dalam maupun luar kota Bandung. (Haryoto Kunto, Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, Granesia, 2008, Hal. 90) Kutipan tadi adalah sekilas sejarah tentang Bandoengsche Melk Centrale atau yang lebih terkenal hingga sekarang dengan sebutan BMC. Sedari tahun 1928 BMC konsisten melayani pelanggannya mulai hanya menjual susu dan yoghurt, berkembang menjadi restoran, ditambah food and beverage hingga pastry dan bakery serta air minum berkemasan. Hingga akhirnya di Bulan Agustus 2015 lalu mengembangkan sayapnya ke bidang kopi. Jadi jika kita runut lagi, BMC bisa diawali dari susu hingga akhirnya kopi.

Dalam sejarahnya kopi tidak bisa dilepaskan dengan Kota Bandung. Masih di jaman kolonial komoditi ini merupakan salah satu tanaman wajib cultuurstelsel (tanam paksa). Mengutip buku yang sama (Haryoto Kunto, Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, Granesia, 2008) di halaman 21 dituliskan: “Dari beberapa jenis tanaman yang diwajibkan seperti: tembakau, gula, nila, kayu kamis, kopi dan the, maka wilayah Priangan banyak menghasilkan dua jenis yang terakhir, kopi dan teh.” Bahkan menurut sejarah penimbangan panen kopi pertama di Nusantara dilaksanankan di Savoy Homann, Bandung. Hingga gedung yang kita kenal sekarang menjai Kantor Walikota Bandung adalah bekas Gudang Kopi milik Dr. Andries de Wilde, seorang tuan tanah pertama di Priangan. Walaupun pada akhirnya perkebunan kopi ini mulai banyak tergusur oleh perkebunan teh, seiring banyak dan mahalnya permintaan komoditi teh di pasar Eropa. Walaupun tinggal segelintir namun biji kopi dari Pulau Jawa kualitasnya masih menjadi unggulan di dunia.

Seperti dituturkan oleh Bapak Pandu, Direktur PT. Agronesia, perusahaan yang menaungi BMC dalam acara Media Gathering Tanggal 27 Oktober 2015 lalu, “Java kopi adalah salah satu origin penting di dunia.” Sesuai dengan kondisi geografisnya, dipegunungan tinggi maka jenis kopi yang dihasilkan dari perkebunan di Jawa adalah jenis arabica. Jenis ini mengandung kromosom sebesar 44%. Masih menurutnya, kromosom ini salah satu fungsinya adalah mengambil aroma-aroma disekitarnya sampai mampu mempengaruhi aroma kopinya. Hingga saat ini secara keselurahan Indonesia menjadi negara ke empat terbesar sebagai produsen kopi.

Akhir-akhir ini kopi dan tempat ngopinya menjadi fenomena tersendiri di Kota Bandung. Balik lagi kesejarahnya, masih dari buku yang sama (Haryoto Kunto, Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, Granesia, 2008) di halaman 21 “Begitu berpautan erat, usaha membudidayakan tanaman kopi dengan kehidupan rakyat Priangan, sehingga sering kita mendengar ungkapan dalam Bahasa Sunda ngopi. Yang merangkum pengertian luas dari segala macam bentuk acara makan kecil (snack). Meski pada kesempatan itu air kopi tidak dihidangkan, namun orang masih tetap menyebutnya – Ngopi!”  Dari kutipan ini jelas diterangkan bahwa budaya ngopi sudah berakar dilingkungan masyarakat priangan. Bagi para pemerhati kopi budaya dan kedai kopi ini biasa disebut sebagai first wave coffee, selanjutnya yang disebut dengan second wave coffee adalah kedai-kedai kopi express, dan third wave coffee adalah kedai kopi yang lebih memperhatikan segi edukasi kopinya. Yang terakhir inilah yang sekarang banyak kita temui dan menjadi fenomena.

“Walaupun bukan yang pertama tapi BMC Coffee berkomitmen untuk memberikan yang terbaik bagi para pelanggannya,” jelas Ai Satria. Salah satu alasan alasan dari BMC yang dinaungi oleh PT. Agronesia ini adalah memberikan informasi terkait cara menikmati kopi tersebut dengan baik dan benar. Oleh karena itu pula konsep yang diusung BMC Coffee lebih ke speciality coffee atau mengutamakan kualitas kopi. Di kesempatan yang sama para barista BMC coffee memperagakan sekaligus menyuguhkan kopi hasil dari paduan biji kopi pilihan dengan cara penyajian yang beragam. Rasa dan sensasi yang luar biasa hanya dapat digambarkan dengan kita mencobanya langsung di BMC Coffee. Tidak melupan jatidirinya, BMC yang notabene adalah perusahaan pengolah susu, mengeluarkan produk susuyang diperentukan khusus sebagai latte.

Bandoengsche Melk Centrale atau BMC keberadaannya hingga kini tidak dapat dipisahkan dengan sejarah Kota Bandung. Berdiri diatas gedung yang menjadi cagar budaya kota, tepatnya di Jalan Aceh nomor 30 dengan produk susunya yang terkenal hingga akhirnya merasa berkewajiban pula melestarikan budaya lainnya, kopi. Tentu saja harapan kita kopinya dapat bertahan lama hingga anak cucu kita layaknya kakek dan buyut memperkenalkan susu BMC pada kita.

 

Sumber tulisan lain Haryoto Kunto, Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, Granesia, 2008

Liputan Fadly Shaputra, Kontributor Warna Nusantara

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *