September 22, 2014
Warna Nusantara (340 articles)
0 comments

Dari Kue Ekonomi, Kue Bandung, Hingga Ke Martabak San Francisco

[vc_row][vc_column][vc_column_text]

“Menurut penelitian martabak berasal dari daerah Jawa Tengah, namun untuk martabak modern seperti sekarang adalah hasil inovasi di Kota Bandung.” – Pak Buyung, Pemilik dan Pengelola Martabak San Francisco

Martabak yang bisa jadi paling terkenal di Nusantara ini adalah Martabak San Francisco. Martabak yang di klaim oleh pemiliknya sebagai martabak asli kreasi dari Bandung. Hal itu tidak bisa dibantah jika kita mengikuti rentang sejarah martabak ini dari awal hingga saat sekarang. Konon memang awal mula terciptanya martabak itu berawal dari daerah Jawa Tengah. Perlu dicatat, jenis martabak yang kita kenal ada 2 yaitu martabak manis dan martabak telor. Untuk martabak telor boleh kita katakan bahwa makanan ini merupakan kreasi makanan dari India, tidak demikian dengan martabak manis, martabak jenis ini asli tercipta dari Nusantara. Beberapa catatan sejarah berikut ini mungkin membantu menguatkan asumsi tadi.

Waktu kita tarik mundur ke Bandung tahun 60-an. Tepatnya tahun 1965, Bapak Bong Kap Djun alias Pak Adjun seorang perantau asli Bangka memulai usahanya dengan menjual martabak. Lokasi pertama dia menjual martabak ini adalah di depan kantor PLN, Jl. Asia Afrika, Bandung. Awal mulanya martabak ini disebut kue ekonomi. Disebut demikian karena proses pembuatan dan hasilnya yang sangat sederhana, kue ini hanya berbentuk bulat dengan ditaburi gula pasir dan kacang di atasnya. Penyajiannyapun sangat sederhana, dengan dibungkus kertas koran saja. Dikarenakan sudah ada 3 orang yang berjualan kue ekonomi, Pak Adjun berpindah lokasi berdagang ke Jl. Gatot Subroto, Katapang Bandung dan memulai semua kreasinya di sini.

Terilhami oleh lagu Scott McKenzie yang berjudul “San Francisco,” pada tahun 1967 kue ekonomi ini berubah nama menjadi Martabak San Francisco. Dengan memakai nama ini si kue ekonomi yang alakadarnya berubah menjadi kudapan yang mahal. Tentu saja berubah dari rasa, penampilan hingga penyajiannya. Atas kreatifitas Pak Adjun yang memasukan bahan-bahan seperti mentega, keju, coklat dan kacang, martabak ini benar-benar berubah menjadi seperti martabak yang kita nikmati sekarang. Bahkan di tahun 80-an Martabak San Fransisco berhasil membuat kreasi martabak tipker alias tipis kering. Jenis martabak ini berbentuk seperti yang kita kenal dengan sebutan “crepes.” Alat memasaknya pun berubah dari menggunakan arang hingga akhirnya membuat kompor  dengan bahan bakar gas hasil inovasi sendiri. Kompor-kompor jenis ini yang umumnya dipakai oleh penjual-penjual martabak hingga sekarang. Kemasanpun berubah dengan menggunakan box kardus.

Untuk mengimbangi martabaknya yang manis, pada tahun 1973 Pak Adjun menciptakan martabak asin yang notabene merupakan pengembangan dari makanan india. Pengembangan ini dengan berupa memasukan cincang daging kedalamnya. Karena pada waktu itu berjualan pempek juga, kadang-kadang kuah pempek yang mudah basi itu ditawarkan ke pelanggan-pelanggannya agar tidak mubazir. Ternyata si kuah pempek ini sangat diminati oleh pelanggannya untuk dinikmati dengan martabak asin walaupun ciri khas dari Martabak Asin San Francisco adalah saos dan acarnya. Nah disinilah sejarah martabak telor dengan kuah model pempek berawal. Khusus untuk ini sejarahnya bersambungan dengan munculnya istilah “Martabak Bangka.” Istilah ini dimunculkan pertama kali oleh saudara-saudara Pak Adjun yang asli Bangka. Seperti pada umumnya, Pak Adjun mempekerjakan sanak keluarganya untuk berusaha martabak ini, ketika mereka sudah bisa berdikari akhirnya membuat usaha sendiri dengan menamakan dirinya Martabak Bangka. Salah satu ciri khas martabak ini adalah menggunakan kuah pempek sebagai pelengkap martabak asin. Bahkan mantan-mantan karyawan Pak Adjun yang berasal dari Jawa kembali ke daerahnya berjualan martabak dengan menggunakan istilah martabak ini. Akhirnya menyebarlah si martabak ini ke mana-mana.

Pada tahun 1970 lokasi Martabak San Fransisco berpindah ke Jl. Burangrang tepatnya Bakso Malang Enggal sekarang. Tempat ini menjadi model pujasera modern saat ini. Pada waktu itu Pak Adjun mengajak saudara-saudaranya yang lain untuk membuka usaha di sana dalam rangka mengisi kekosongan tempat. Tempat ini menjadi pujasera pertama di Bandung bahkan di Indonesia. Dikarenakan hanya Martabak San Francisco yang memiliki kreasi dan enak, maka usaha martabak ini semakin ramai. Hingga akhirnya si martabak terkenal hingga ke luar kota dengan nama yang berbeda-beda. Di Semarang martabak ini terkenal dengan nama Kue Bandung, di Surabaya terkenal dengan nama martabak terang bulan.

Sempat berpindah tempat lagi ke Jl. Karapitan, kemudian Jl. Lodaya tepatnya Ayam Goreng Soeharti hingga akhirnya di awal 90-an Martabak San Francisco berlokasi di Jl. Burangrang No. 42, posisinya hingga sekarang. Hingga saat ini terus berkreasi dengan menu-menu baru salah-satunya Martabak Green Tea, Martabak Cungky Bar, Martabak Tiramisu dan lainnya. Untuk harga tentu saja sepadan dengan bahan-bahan yang digunakan. Untuk bahan ini Pak Buyung, salah satu anak Pak Adjun yang meneruskan usahanya selalu menggunakan bahan nomor 1. Seperti salah satu contohnya adalah gula yang digunakan rendah kalori. Untuk dus yang digunakan pun adalah dus yang aman bagi kesehatan bahkan si dus ini kuat dipanaskan di dalam microwave. Tinta yang ada dalam dus juga terbuat dari bahan soya jadi kalaupun luntur, akan aman dikonsumsi. Jadi jangan aneh jika hingga saat ini kita harus mengantri nomor jika ingin membeli martabak ini.

Pada saat ini Martabak San Francisco dikembangkan dengan konsep waralaba oleh Pak Buyung. Konsep waralaba ini sudah dikembangkan dari tahun 2011 hingga saat ini sudah membuka tempat di Depok, BSD, Bintaro, Cibubur, Kelapa Gading hingga Pakanbaru. Khusus untuk waralaba ini memang dibuka khusus untuk daerah di luar Bandung. Selain itu ada brand yang lebih ekonomis dengan nama “Kue Bandung Mr. Buyung.”  Sudah berkonsep lebih modern namun tetap Pak Buyung selalu ingat akan akar rumputnya dan catatan sejarah dari martabak ini beliau abadikan di gerainya dan di box-box kemasan martabak. Mengingatkan kita agar tidak melupakan sejarah.

Demikian cerita singkat tentang martabak ini. Walaupun pertama kali dibuat di daerah Jawa Tengah namun untuk martabak modern seperti sekarang ini merupakan hasil inovasi dan berkembang di kota Bandung. Bisa kita bilang juga bahwa Bapak Bong Kap Djun dengan Martabak San Franciscoo-nya adalah Bapak Martabak Modern di Nusantara.

[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/1″][vc_gallery type=”image_grid” interval=”5″ images=”2078,2077,2076,2075,2074,2072,2071,2070,2069,2068″ onclick=”link_image” custom_links_target=”_self” img_size=”230 x 360″][/vc_column][/vc_row]

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *