Mei 19, 2015
Warna Nusantara (335 articles)
0 comments
Share

Cikal Bakal Kota Bandung

“Aen een negrije ganaemt Bandong bestaende uijt 25 a 30 huysen.” – Julien de Silva, 1641

Kota Bandung atau lebih luas lagi Tatar Parahyangan keberadaannya melekat dengan legenda Sangkuriang dengan Gunung Tangkubahparahu-nya.  Legenda yang tentu saja kurang bisa dibuktikan hingga akhirnya diterima secara ilmiah. Walaupun demikian catatan Julien de Silva di tahun 1641 membuktikan bahwa cikal bakal Kota Bandung lebih lama dari tahun tersebut.

Menurut catatannya dalam Bahasa Belanda kuno disebutkan bahwa ada sebuah negeri dinamakan Bandong yang terdiri atas 25 sampai 30 rumah. Menurut Prof. Dr. E.C. Godee Molsbergen (1935), Landsarchivaris (Arsip Negara) di Batavia; dari data yang sempat ditemukan, Julien de Silva mungkin orang asing pertama yang kluyuran ke wilayah Bandung, yang pada waktu itu oleh pemerintah kolonial dengan sebutan Negorij Bandong atau West Oedjoengberoeng. Di kalangan penduduk pribumi, wilayah Bandung pada abad ke-17 sering disebut Tatar Ukur. Salah seorang penguasa di sana yang terkenal adalah Wangsanata alias Dipati Ukur. Pada tahun 1628 beliau bersama Tumenggung Bahureksa, diserahi tugas oleh Sultan Agung Mataram untuk menggempur benteng Kompeni Belanda di Jacatra. Karena peristiwa ini Tatar Ukur dicurigai sebagai sarangnya pemberontak. Setelah de Silva bergantianlah orang-orang Mardijkers yang datang sebagai mata-mata Belanda. Madijkers ini adalah orang-orang Asia tulen, kebanyakan India yang sudah dipermandikan/dibaptis. Secara bahasa Madijkers berasal dari Bahasa Sansakerta, mahardhika yang disingkat mardika, artinya merdeka, jadi mereka ini adalah orang bebas merdeka bukan budak belian lagi. Ketika Batavia dikepung oleh Pasukan Mataram (1638), para madijkers ini turut berperang dan tentu saja berpihak kepada Belanda. 

Jangan bayangkan akses menuju Tatar Ukur ataupun Negorij Bandong semudah seperti sekarang atau mungkin jalan lewat Puncak atau Purwakarta dengan menggunakan kuda. Pada masa itu wilayah ini masih terbilang terra incognita alias daerah tak bertuan. Sekitar tahun 1712 adalah seorang bernama Abraham van Riebeek, cucu dari pendiri Cape koloni di Afrika Selatan yang datang ke Tatar Bandong. Menurut catatannya, Tatar Bandung ini masih berupa rimba belantara dengan Danau yang masih banyak menggenang sebagian daerahnya. Untuk bisa masuk ke daerah ini, jalan yang dilaluinya adalah dengan menggunakan parahu atau rakit menyusuri sungai Cimanuk dan Citarum. Tempat yang sangat ideal untuk tempat pembuangan penjahat, tentara atau pegawai pemerintah yang membuat kesalahan besar. Abraham van Riebeek adalah orang Eropa pertama yang membawa benih kopi ke Pulau Jawa, selain itu bisnisnya adalah mencari Belerang untuk dipakai sebagai mesiu. Pada tahun 1713 dia mendaki Gunung Tangkubanparahu, dia merupakan Orang Eropa pertama yang mendaki gunung ini. Karena kelelahan dalam perjalanan pulang diapun meninggal dunia. Lewat catatan-catatan van Riebeek ini barulah Belanda menyadari potensi dari Tatar Ukur. Walaupun demikian baru 30 tahun kemudian Belanda menempatkan orangnya di sana, dialah Kopral Arie Top. Kopral Arie Top tercatat sebagai orang kulit putih pertama yang menjadi warga Tatar Bandung. Setahun kemudian Kopral Arie Top kedatangan 3 orang kolega, kakak-beradik Ronde dan Jan Geysbergen, serta seorang kopral buangan dari Batavia. Karena memiliki insting bisnis yang baik dalam beberapa tahun ketiganya sudah menjadi jutawan lewat bisnis penggergajian kayu. Sejak saat itulah Bandung mulai dikenal dengan istilah Paradise in Exile (Surga dalam pembuangan). 

Menurut catatan perjalanan yang ditemukan oleh Prof. Dr. E.C.G. Molsbergen (1935), baru pada tahun 1786 jalan setapak yang bisa dilewati kuda mulai menghubungkan Batavia-Bogor-Bandung. Jalur ini sangat penting artinya bagi kepentingan ekonomi Belanda sebab sejak tahun 1789 Pieter Engelhard telah membuka kebun kopi di lereng sebelah selatan Gunung Tangkubanparahu. Dengan demikian angkutan hasil bumi dari Wilayah Priangan khususnya Tatar Bandung menuju Batavia tidak lagi dilakukan lewat sungai. Pembangunan jaringan jalan di Pulau Jawa baru mendapatkan perhatian khusus tatkala Herman William Daendels menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1808-1811). Untuk selanjutnya tokoh ini banyak berhubungan dengan sejarah pembangunan Kota Bandung.

Salah satu tugas yang dilimpahkan kepada Daendels adalah memperbaiki pertahanan Belanda di Pulau Jawa dari kemungkinan serangan Kerajaan Inggris. Dalam rangka itu Daendels membangun “Jalan Raya Pos” (Grote Postweg) yang membentang dari Anyer (Banten) hingga ke Panarukan (Jawa Timur). Ketika pembangunan jalan memasuki daerah Tatar Bandung ternyata rencana jalan terletak 11 kilometer di utara Ibukota Kabupaten Bandung, Karapyak (Dayeuhkolot). Akibatnya, Daendels memerintahkan Bupati Bandung dan Bupati Parakanmuncang agar memindahkan ibukotanya ke tepi jalan. Berdasarkan surat dari Daendels tertanggal 25 Mei 1810 tersebut, Bupati Bandung Wiranatakusumah II memindahkan ibukota Kabupaten Bandung dari Dayeuhkolot ke daerah Alun-Alun sekarang. Menurut cerita, ketika Daendels sedang memeriksa pembangunan jalan raya yang melintasi Kota Bandung, sampailah ia di Jembatan Sungai Cikapundung. Setelah rampung dibuat, Daendels menjadi orang pertama yang menyeberanginya. Dengan didampingi oleh Bupati Bandung, Daendels meneruskan jalan kaki sampai ke suatu tempat, pada tempat ini Daendels menancapkan tongkatnya sambil berkata: “Zorg, dats als ik terug kom hier een stad is gebouwd!” Artinya: “Coba usahakan, bila ak datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota!” (Victor Ido, “Indie in den Goeden Ouden Tijd” Nirom, 1935). Di tempat Daendels menancapkan tongkatnya, orang kemudian membangun patok atau tugu yang menyatakan tanda Kilometer “0” (nol). Lewat perintah yang keluar dari mulutnya lah kemudian orang bergegas membangun Kota Bandung hingga akhirnya menemui bentuknya seperti sekarang.

 

Bahan Tulisan : Ir. Haryoto Kunto, Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, Granesia, 2008

 

 

 

 

Comments

No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write comment

Your data will be safe! Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person. Required fields marked as *